Earth Hour, Satu Jam demi Bumi

Sabtu malam ini, 27 Maret 2010, pukul 20.30-21.30, Earth Hour akan kembali diadakan. Masyarakat bumi selama satu jam diajak mematikan lampu di luar gedung atau rumah serta peralatan listrik dan lampu lainnya yang tidak digunakan.

Di Indonesia, ini kali kedua bagi Jakarta di antara ribuan kota di dunia terlibat dan kali pertama bagi Bandung, Jogjakarta, Surabaya, dan Denpasar.

Oleh INDRA SARI WARDHANI

Ini adalah simbol dan bentuk kepedulian masyarakat terhadap penanggulangan perubahan iklim, terutama melalui upaya penghematan energi dari penggunaan listrik.

Listrik bagi masyarakat dunia seperti juga bagi bangsa Indonesia telah menjadi kebutuhan vital masyarakat modern dan juga bahan bakar roda pembangunan. Listrik, bahkan, dijadikan tolok ukur majunya suatu peradaban.

Hanya saja, penyediaan dan pemanfaatan listrik di Indonesia masih banyak bergantung pada energi fosil terutama minyak bumi dan produk turunannya.

Energi fosil bersifat tidak terbarukan sehingga bila terus dieksploitasi, cadangannya akan menipis dan mungkin akan habis. Saat ini saja Indonesia sudah bisa dikategorikan sebagai negara yang lebih banyak mengimpor minyak dibandingkan mengekspornya.

Karena itu, fluktuasi harga minyak bumi dunia akan sangat berpengaruh dan dapat mengguncang ekonomi Indonesia. Tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara juga akan meningkat mengingat pemerintah membeli minyak bumi dengan harga dunia sedangkan harga bahan bakar minyak dan listrik di dalam negeri dijual murah karena masih mendapat subsidi dari pemerintah.

Walaupun realisasi subsidi energi pada 2009 sebesar Rp 94,6 triliun (10 persen total pengeluaran negara) sudah jauh berkurang dibanding tahun sebelumnya (Rp 230,51 triliun), tetapi jumlah ini 1,5 kali lebih besar dari total subsidi non-energi (Rp 64,9 triliun).

Di sisi lingkungan, ketergantungan terhadap minyak bumi ataupun energi fosil lainnya telah memberikan dampak buruk, terutama dari emisi karbon yang dikeluarkan, baik dari proses penyediaan maupun pemanfaatannya.

Akumulasi emisi dalam jumlah besar di atmosfer—sekitar 80 persen dari emisi global berasal dari sektor pengguna energi secara intensif—telah berkontribusi pada terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim.

Untuk mengatasinya dibutuhkan keterlibatan semua pemangku kepentingan, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat secara umum.

Pola pengelolaan selama ini yang bertumpu pada pendekatan pasokan (supply side management) perlu diimbangi dengan pengelolaan dari sisi permintaan (demand side management), yaitu dengan meningkatkan konservasi dan efisiensi energi.

Undang-Undang Energi Nomor 30 Tahun 2007 telah mengamanatkan bahwa konservasi energi merupakan tanggung jawab semua elemen, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengusaha, maupun masyarakat.

Sesungguhnya, program efisiensi dan konservasi energi sudah ada sejak lama, yaitu sejak Kebijakan Umum Bidang Energi 1981 sampai dengan Kebijakan Energi Nasional yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006.

Hanya saja, hasil yang dicapai masih belum efektif dan menghadapi berbagai kendala. Salah satu kendala utamanya adalah gaya hidup masyarakat yang masih boros energi.

Hal ini bisa disebabkan karena kurangnya pemahaman mengenai hemat energi ataupun karena harga energi yang relatif murah sehingga mendorong pola konsumsi yang lebih boros.

Dari kerja sama Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan beberapa institusi di Indonesia didapat masukan, pada 2007-2009 terdapat potensi efisiensi energi 10-30 persen (untuk sektor rumah tangga), 10-23 persen (komersial) dan 7-21 persen (industri).

Penghematan bisa dicapai melalui 3 strategi utama, yaitu (1) penetapan regulasi dan aturan main yang jelas, (2) peran dan dukungan pemerintah yang kuat, (3) sosialisasi dan peningkatan kesadartahuan masyarakat. Misalnya, mengganti lampu pijar 40 watt dengan lampu hemat energi (CFL) 8 watt pada konsumen rumah tangga dengan daya di bawah 900 VA. Kegiatan ini terus berkembang, mencapai skala ekonomi dan mampu menurunkan gap antara pertumbuhan penjualan listrik dan beban puncak. Hal yang serupa dengan pendekatan berbeda juga dilakukan untuk sektor komersial dan industri.

Keduanya hanyalah contoh kecil upaya efisiensi energi yang sudah dan dapat dilakukan. Upaya-upaya tersebut masih perlu terus ditingkatkan.

Sekecil apa pun kontribusi yang bisa dilakukan, akan memberikan perubahan yang positif bagi ketahanan energi, pembangunan ekonomi, serta kelangsungan hidup di bumi.

Bumi bukan hanya tempat tinggal yang harus nyaman bagi generasi sekarang, melainkan juga bagi generasi yang akan datang. Setiap detik yang dilakukan dapat memberikan warna dan makna yang berbeda dalam kehidupan.

INDRA SARI WARDHANI, Bidang Energi WWF Indonesia

Sumber: Kompas, Sabtu, 27 Maret 2010

Label: , , ,

Ta-bhutaan, Ondel-ondel Khas Jember

Foto: zonaberita/hei
Beberapa ondel-ondel khas Jember sebelum tampil.

SIAPA bilang Ondel-ondel cuma milik Betawi. Di Jember kesenian ini juga sudah lama berkembang, khususnya di Desa Kamal, Kecamatan Arjasa. Bahkan Ondel-ondel yang dikenal dengan Ta-bhutaan atau Buto-butoan diklaim sebagai kesenian asli Jember yang berbeda filosofinya dengan yang ada di daerah lain.

Ondel-ondel yang menggambarkan wajah buto (raksasa berwajah menakutkan) ini tampil memukau saat menyambut Bupati Jember MZA Djalal dalam acara Bedah Potensi Desa di Desa Biting, Kecamatan Arjasa, Rabu (24/3). Bukan hanya musiknya yang khas dengan bunyi-bunyian khas etnis Madura, ondel-ondel itu berjalan berkeliling sambil bergoyang ngebor gaya Inul.

“Kesenian Ta-bhutaan ini adalah salah satu kekayaan budaya khas Jember yang akan terus kita bina dan kembangkan disamping kesenian lain seperti musik patrol dan Can-macanan Kadhuk yang mulai punah,” kata Thomas MS, Sekretaris Dewan Kesenian Jember kepada www.zonaberita.com

Menurut ketua seni budaya Ta-bhutaan, Andiyanto, seni budaya ondel ondel Ta-bhutaan merupakan kesenian asli Kabupaten Jember terutama wilayah utara. Kesenian ini masih banyak digunakan oleh masyarakat Desa Kamal sebagai salah satu sajian dalam acara-acara selamatan desa, dan bersih desa atau ruwatan. Andiyanto juga menjelaskan kesenian ini merupakan ajaran dari leluhur desa Kamal, yang diyakini masyarkat setempat mampu menghalau musibah yang akan melanda desa, misalnya gagal panen maupun penyebaran wabah penyakit.

“Semula kesenian ini hanya dikenal di wilayah Jember Utara, tetapi akhir-akhir ini mulai dikenal lebih luas. Kami juga pernah tampil di acara Jember Fashion Carnaval (JFC) serta di daerah lain seperti Banyuwangi. Mudah-mudahan ada perhatian dari pemkab agar kami bisa melestarikan kesenian ini,” katanya.

Kepala Desa Kamal, Kusnad mengatakan kesenian Ta-bhutaan merupakan warisan budaya sama halnya dengan kesenian-kesenian lain seperti ludruk suroboyoan, gandrung banyuwangi, dan can-macanan kadhuk yang juga milik khas masyarakat Jember. “Kami bertekad terus melestarikan agar tidak tergilas kesenian impor karena ini warisan leluhur,” katanya.(hei/ijo)

Sumber: Rabu, zonaberita, 24 Maret 2010

Label: , , , ,

Dahlan Iskan: Agar Labuhan Angin Tidak Angin-anginan

ALANGKAH senangnya ketika pagi ini saya benar-benar akan bisa mendarat di Kota Sibolga (Sumatera Utara). Inilah untuk kali pertama dalam hidup saya melihat kota yang menurut teman-teman saya sangat indah dengan pemandangan Samudera India yang biru.

Jabatan baru saya sebagai direktur utama PLN yang membuat saya harus datang ke Sibolga. Sejak dulu saya sangat ingin ke Sibolga, tapi selalu saja terhambat kesibukan. Bahkan, ketika teman-teman saya mendirikan surat kabar Metro Tapanuli di Sibolga pun saya tidak bisa datang pada hari peresmiannya. Bahkan, sampai surat kabar ini berumur enam tahun dan sampai saya sudah melepaskan jabatan chairman di grup media ini, saya tidak juga sempat melihat Sibolga.

Pagi ini saya mendarat di Sibolga dengan dua tujuan. Pertama, saya mendampingi rombongan Komisi VII DPR RI yang dipimpin tokoh Sumut Effendi Simbolon yang akan melihat PLTU Labuhan Angin. Kedua, sebagai Dirut PLN saya memang harus melihat PLTU yang lokasinya terindah di seluruh Indonesia, tapi prestasinya belum menggembirakan itu.

Sejak menjabat Dirut PLN lebih dua bulan lalu, saya memang terus mengikuti perkembangan PLTU Labuhan Angin. Saya kaget ketika melihat angka-angka laporan harian PLTU ini. Pembangkit yang mestinya bisa memproduksi listrik 2 x 115 MW, hanya bisa menghasilkan kurang dari 50 MW. Saya sangat terusik oleh kenyataan ini. Berbagai penyebab diinventarisasi. Hampir tiap hari saya menelepon pimpinan PLTU ini untuk berdiskusi dan mencari jalan keluar.

Ketika saya mendapat laporan bahwa mesin pembangkit ini kurang baik, saya agak meragukan. Tidak mungkin ada mesin yang dibuat khusus agar hasilnya kurang baik. Tidak mungkin ada mesin yang karena untuk Sibolga, sengaja dibuat sekadarnya. Apalagi, pembangkit ini merupakan perwujudan dari dipulihkannya kerja sama ekonomi Indonesia-Tiongkok. Inilah proyek yang dananya diberikan oleh Tiongkok. Inilah proyek yang menjadi simbol penting dari dimulainya babak baru hubungan ekonomi Indonesia-Tiongkok.

Di samping berdiskusi dengan pimpinan PLTU Labuhan Angin, saya memanggil kontraktor PLTU itu. Yakni, perusahaan dari Tiongkok. Saya diskusikan dengan dia mengapa PLTU Labuhan Angin ini angin-anginan. Saya sungguh kaget ketika pimpinan perusahaan itu membawa sejumlah foto: foto batu yang jumlahnya luar biasa banyaknya. Batu apakah itu?

"Ini batu yang keluar dari boiler," ujarnya dalam bahasa Mandarin. Dengan foto itu dia ingin menunjukkan bahwa sebenarnya tidak ada masalah dengan mesinnya. Dia ingin memperlihatkan bahwa mesin itu rusak karena banyaknya batu yang tercampur dengan batubara. Batu-batu itulah yang menghantam boiler tiap hari secara terus-menerus.

Saya pura-pura membantah bahwa penyebab angin-anginannya PLTU Labuhan Angin bukan batu-batu itu. Tapi, dalam hati saya tidak bisa menolak alasan itu. Saya tidak mau mempersoalkan masa lalu. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya akan berusaha keras untuk mengontrol batubara yang dikirim ke Labuhan Angin. Tapi, saya juga minta kontraktor tersebut menangani kerusakan-kerusakan yang telah terjadi. Dengan risiko ada pada dirinya.

Saya lantas minta dikirimi foto-foto stok batubara yang ada. Teman-teman Labuhan Angin mengirimkannya. Bukan main. Foto tumpukan batubara itu tidak ada bedanya dengan tumpukan lumpur. Pantas kalau PLTU ini batuk-batuk terus. Dia harus menelan makanan yang sebenarnya tidak bisa dia telan.

Memang ada kelemahan lain yang mendasar. Di samping kualitas batubara yang tidak cocok, prasarana PLTU ini juga kurang tepat. Atap gudang batubara kurang lebar. Akibatnya, di musim hujan seperti sekarang ini, sangat sengsara. Batubara yang kandungan ash (debu)-nya sangat tinggi itu terkena hujan. Jadilah lumpur! Itulah yang menyebabkan batubara tidak bisa mengalir lancar ke dalam boiler. Juga tidak bisa dibakar dengan sempurna.

Dengan modal foto kiriman teman-teman Labuhan Angin itu, kami memutuskan mengganti pemasok batubara untuk Sibolga. Kami tidak mau lagi batubara seperti itu. Tapi, proses penggantian pemasok ini perlu waktu. Baru minggu lalu batubara yang lebih baik, dari Kalimantan, tiba di Labuhan Angin.

Dengan batubara inilah teman-teman Labuhan Angin akan tahu persis di manakah persoalan sebenarnya. Kalau persoalannya pada mesin, tentu pergantian batubara tidak akan ada bedanya. Tapi, kalau memang persoalannya di batubara, begitu PLTU diberi makan batubara yang baru, tentu lebih baik.

"Malam ini sudah bisa menghasilkan 90 MW!" lapor Ikuten Sinulingga, GM Pembangkitan Sumut, dalam laporannya via SMS kepada saya pekan lalu. "Sudah naik lebih dari 100 persen," tambahnya.

Maka, hari ini, ketika Komisi VII DPR RI tiba di Sibolga, kondisi PLTU ini sudah jauh lebih baik. Saya memang berjanji kepada Komisi VII untuk memperhatikan sungguh-sungguh PLTU ini. Sebab, peran PLTU ini dalam sistem kelistrikan Sumut sangat vital. Komisi VII selalu mempersoalkan kondisi PLTU Labuhan Angin ini ketika mengadakan rapat dengar pendapat dengan PLN.

Kini diketahuilah dengan pasti bahwa kualitas batubara memegang peran penting dalam meningkatkan kinerja PLTU Labuhan Angin. Tapi, persoalan belum selesai. Bagian-bagian tertentu dari PLTU ini telanjur "babak belur" kena hajar batu-batu yang menyelundup atau diselundupkan ke dalam batubara selama lebih dari setahun ini. Maka, pada saat yang tepat nanti, PLTU ini harus dipaksa berhenti secara bergantian selama dua bulan, untuk diperbaiki. Program ini akan dilakukan Mei nanti. Yakni, setelah listrik dari Asahan I mengalir ke para konsumen.

Kami sangat menginginkan agar krisis listrik di Sumut yang sudah berlangsung empat tahun dan sudah teratasi seminggu lalu itu bisa berlangsung seterusnya. Minggu lalu adalah tonggak penting teratasinya krisis listrik di Sumut. Bahkan, beberapa hari terakhir Sumut sudah bisa 'menyedekahkan' listriknya sebanyak 50 MW ke Riau.

Untung, Komisi VII baru bisa ke Sibolga hari ini. Kalau saja wakil-wakil rakyat itu ke Sibolga bulan lalu, pasti raut wajah mereka akan sangat bermuram durja! Bukan saja mengapa terjadi krisis listrik, tapi sampai bulan lalu saya pun belum tahu bagaimana harus mengatasinya! (*)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 17 Maret 2010

Label: , , , , ,

Terapi Air

Enam gelas air - Prestasi mengagumkan

Tuhan telah memberi kita air yang banyak dan gratis. Tanpa mengeluarkan uang untuk obat-obatan, tablet, suntikan, diagnosa, upah dokter, dll. Hanya minum air minum, penyakit-penyakit di bawah ini bisa disembuhkan.

Anda tak akan percaya sebelum melakukannya. Marilah kita lihat daftar penyakit yang dapat disembuhkan oleh terapi ini:

Oleh Prof. S Periasamy DIM & D ACC
  • Sakit kepala
  • Darah tinggi
  • Kurang darah
  • Rematik
  • Lumpuh
  • Kegemukan
  • Radang/sakit persendian
  • Radang selaput lendir
  • Gangguan jantung
  • Mabuk, pusing, gamang
  • Batuk
  • Asma
  • Bronchitis
  • TBC paru-paru
  • Radang otak
  • Batu ginjal
  • Penyakit saluran kencing
  • Kelebihan asam urat
  • Mencret
  • Disentri
  • Ambeien
  • Sembelit
  • Hosthortobics (Ing.)
  • Kencing Manis
  • Penyakit mata
  • Pendarahan di mata & mata merah
  • Haid tidak teratur
  • Leukimia
  • Kanker peranakan
  • Kanker payudara
  • Radang tenggorokan.
Bagaimana air minum itu bekerja?

Meminum air minum biasa dengan metoda yang benar, memurnikan tubuh manusia. Hal itu membuat usus besar bekerja dengan lebih efektif dengan cara membentuk darah baru, dalam istilah medis dikenal sebagai aematopaises. Bahwa mucousal fold pada usus besar dan usus kecil diaktifkan oleh metoda ini, merupakan fakta tak terbantah, seperti teori yang menyatakan bahwa darah segar baru diproduksi oleh mucousal fold ini.

Bila usus bersih, maka gizi makanan yang dimakan beberapa kali dalam sehari akan diserap dan dengan kerja mucousal fold, gizi makanan itu diubah menjadi darah baru. Darah merupakan hal paling penting dalam menyembuhkan penyakit dan memelihara kesehatan, dan karena itu air hendaknya dikonsumsi dengan teratur.

Bagaimana melakukan Terapi Air ini?

Pagi hari ketika Anda baru bangun tidur (bahkan tanpa gosok gigi terlebih dahulu) minumlah 1.5 liter air, yaitu 5 sampai 6 gelas. Lebih baik airnya ditakar dahulu sebanyak 1.5 liter. Ketahuilah bahwa nenek moyang kami menamakan terapi ini sebagai "Usha Paana Chikitsa".

Setelah itu Anda boleh mencuci muka. Hal sangat penting untuk diketahui bahwa jangan minum atau makan apapun satu jam sebelum dan sesudah minum 1.5 liter air ini. Juga telah diteliti dengan seksama bahwa tidak boleh minum minuman beralkohol pada malam sebelumnya. Bila perlu, gunakanlah air rebus atau air yang sudah disaring.

Apakah mungkin minum 1.5 liter air sekaligus? Untuk permulaan, mungkin akan terasa sulit meminum 1.5 liter air sekaligus, tapi lambat laun akan terbiasa juga. Mula-mula, ketika latihan, Anda boleh minum 4 gelas dulu dan sisanya yang 2 gelas diminum dua menit kemudian. Awalnya Anda akan buang air kecil 2 sampai 3 kali dalam satu jam, tapi setelah beberapa lama, akan normal kembali.

Menurut penelitian dan pengalaman, penyakit- penyakit berikut diketahui dapat disembuhkan dengan terapi ini dalam waktu seperti tertulis di bawah ini:
  • Sembelit - 1 hari
  • Tekanan darah/darah tinggi - 4 minggu
  • Asam urat - 2 hari
  • Kencing manis - 7 hari
  • TBC paru-paru - 3 bulan.
  • Kanker - 4 minggu
Catatan:

Disarankan agar penderita radang/sakit persendian dan rematik melaksanakan terapi ini tiga kali sehari, yaitu: pagi, siang, dan malam - satu jam sebelum makan - selama satu minggu; setelah itu dua kali sehari sampai penyakitnya sembuh.

Prof. S Periasamy DIM & D ACC
Bohiraj Vedante Maharish Charity
Kantha Health and Research Centre
KARUR - 639 006, TN India

Label: , , ,

Meditation for Pain

Our reactions to external events localize in our bodies. We create emotions, which create physical pain. When we understand that simple fact, we can learn to change the way we respond to outside events.

We can choose the way we react to incidents in the world. If we react with anger, hostility, depression, anxiety, or another intense emotion, our bodies follow along and create the necessary hormones and muscle contractions and other physical manifestations that eventually cause us actual pain.

Therefore, we must always remember that these effects are our responsibility in the sense that we can change our reactions in ways that are less personally harmful. We can become free of emotional drama and turbulence.

Meditate for a moment on the concept of personal responsibility for emotional reactions. Once the pain has been located and acknowledged, and after you’ve taken responsibility for it, you can release the pain.

Place your attention on the part of the body where you are holding the pain. With every exhalation of breath, have the intention of releasing that tension that you are holding. For half a minute, focus on releasing tension and pain with every breath. Let it go. Breathe it out.

The next step is to share the pain. Imagine that you could speak to the person who was involved in the incident. What would you say to that person? As you consider this, remember that the person was not the true cause of your pain. You had the emotional reaction that manifested in physical pain. You have taken responsibility. Knowing this, what would you say to that person?

Whatever you say to share the pain you experienced will help to cleanse the experience from your consciousness forever. Share what you felt, share how you feel now, and share how you intend to deal with such feelings in the future. Take a moment to celebrate that you have used this painful experience to transcend to a higher level of consciousness.

Adapted from The Spontaneous Fulfillment of Desire, by Deepak Chopra (Three Rivers Press).

Label: ,

Foto Komposit dalam Dunia Jurnalistik


Foto jurnalistik adalah foto yang menyampaikan informasi. Namun, tidak selalu informasi bisa disampaikan dengan satu foto saja. Manakala lebih dari satu foto dibutuhkan, itulah yang disebut foto komposit, esai foto, dan foto seri. Tulisan Klinik Fotografi Kompas akan membahas ketiganya, tetapi kali ini akan dibahas foto komposit terlebih dahulu. Jenis ini adalah penggabungan beberapa foto sekaligus menjadi seakan satu foto saja.

Oleh ARBAIN RAMBEY

Mari perhatikan aneka foto komposit di halaman ini. Dapatkah Anda melihat keistimewaan foto komposit yang pertama atau foto A?

Foto A adalah foto dari kampanye Pemilu 1997. Saat itu hanya ada tiga partai yang berlaga, yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan warna hijau, Golongan Karya (Golkar) dengan warna kuning, dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI, bukan PDI-P) dengan warna merah.

Waktu itu, ada giliran hari untuk berkampanye untuk mencegah bentrok. Misalnya, hari ini yang berkampanye adalah PPP, besok adalah jatah Golkar, dan lusa adalah jatah PDI. Demikian terus bergulir sampai satu bulan penuh masa kampanye.

Massa fanatik?

Dalam masa kampanye itu kita bisa melihat betapa fanatiknya massa setiap partai. Mereka rela mencukur rambutnya dengan bentuk lambang partai atau bahkan mengecat tubuh mereka dengan warna partainya.

Waktu itu banyak yang mensinyalir bahwa massa fanatik itu hanya massa semu alias hanya fanatik karena uang.

Karena penasaran, Desk Foto Kompas lalu mencoba mencari kebenaran sinyalemen itu. Pada setiap kampanye partai, dicari orang-orang yang punya kemungkinan muncul di kampanye partai lain.

Dan Kompas mendapatkan pembuktiannya! Anak muda dalam foto A muncul pada kampanye ketiga partai. Ciri khasnya, yaitu tato di dada dan bentuk giginya yang khas, membuktikan bahwa ketiga foto adalah orang yang sama.

Foto A memang harus dibuat sebagai foto komposit agar maksud Kompas bisa sampai ke pembaca dengan langsung dan mudah dimengerti.

Foto komposit A memang harus terdiri dari tiga foto, tidak bisa kurang bukan?

Satu hal terpenting adalah: foto A tidak mungkin diulangi lagi karena sekarang partai jumlahnya sangat banyak.

Potret komposit

Sedangkan foto B merupakan potret komposit karena Kompas ingin menggambarkan karakter pengamat politik Effendi Gazali yang unik.

Sebagai catatan, foto potret adalah foto wajah yang mengandung sifat dan keseharian orang yang terpotret. Potret bisa tunggal dan bisa komposit.

Potret tunggal yang lazim berupa foto manusia dengan berbagai hal yang menjadi profesinya, misalnya koki yang dipotret dengan deretan masakan, atau cendekiawan yang dipotret di perpustakaan pribadinya.

Dengan potret tunggal, rasanya sulit untuk bisa menceritakan seorang Effendi Gazali dengan lebih dalam.

Demikian pula foto komposit C yang melaporkan sebuah pergelaran tata rambut. Dengan menampilkan foto komposit, lebih banyak foto bisa dimuat sekaligus bukan?

Kalau saja foto C tidak dibuat komposit, foto yang kecil-kecil dan terpisah membuat layout halaman yang memuatnya jadi tidak menarik.

Sedangkan foto komposit terakhir atau foto D adalah foto yang biasa disebut foto sekuen. Antara satu foto dan foto lainnya ada kesinambungan alias ada urutan di antara foto-foto itu.

Foto D merekam sebuah atraksi pesulap Demian menciptakan api di tangan kosongnya. Dari api tercipta sampai api padam direkam dalam empat gambar berurutan.

Sumber: Kompas, Selasa, 2 Maret 2010

Label: , ,

Efficient Reading of Papers in Science and Technology

Prepared by : Michael J. Hanson
Updated by: Dylan J. McNamee

Introduction: Why Read?

Before beginning to read a paper, consider why you are doing it. What do you want to get out of it? Your needs control how you read. If you only need an overview, a brief skim may suffice. If you will present the paper to others, you will need to dig deeply, to challenge the paper’s arguments until you understand it fully. If you will use the information later, taking notes will help you remember it. If you don’t know what you hope to gain from the paper, you can not tell whether reading it will be beneficial or a waste of time.

In order to get the most from your reading, you should be properly prepared. Find a quiet place to work where you will not be disturbed or distracted, have a pencil and note pad at hand, and bear in mind exactly what you expect to get from this paper.

The following method for reading a scientific paper offers you ideas about the process of reading a paper, how to decide what to read, how to build a broad framework by skimming, and how to challenge the paper to get depth of understanding. Finally, it will show you how to take notes so that the key points won’t be lost as soon as you set the paper down. Since reading is the process of getting ideas from the author, you must focus on the author’s thoughts, not just read the words on the paper.

Deciding what to read

When you first approach a paper, ask yourself “What did the author do?” Reading the title and the abstract should tell you this. Then decide if the paper is useful to you now. If so, read it. If not, might the paper be useful to you later? If so, file it. If it is not relevant to you, skip it.

Reading for Breadth:

Build a framework
If you decide to read the paper, first skim it.
• Read the introduction.
• Read the section headings.
• Look at the tables and graphs to see what they say and read the captions.
• Read the definitions and theorems.
• Read the conclusions.
• Consider the credibility of the article:

Who wrote it? Are they well-known?
Where do they work? What biases might they have as a result of their employer?
Where was the article published? What is the reputation of the journal? Was the journal refereed?
When was it written? Might it be outdated or superceded?

• Skim the bibliography:

How extensive is it?
Are the authors aware of current work?
Does it reference classic papers in this field?
Have you read any of the papers that are referred to?
Do you know relevant research that isn’t cited?

By skimming the paper first you can learn what the authors did, and develop a framework to understand the parts of the paper. Developing a framework adds to your general understanding of the field, and gives you a basis to understand the paper. If you know what conclusions they draw, you can follow their arguments more easily. Knowing where they are going can help you to follow their path and give you a chance to find shortcuts or places where they missed a turn.

Once you have skimmed a paper you have a broad idea of what they did. Then you can decide if you want to know more. If you are interested in how they did it, then read the body of the paper for details. If not, file away what you have learned and congratulate yourself for saving the time of reading the paper in depth.

Reading in Depth:

Challenge what you read
There is a lot of junk published, so you should be selective in what you read and what you believe. When you read a paper in detail, approach it with scientific skepticism. You can do this by trying to tear the arguments apart.

Examine the assumptions
• Do their results rely on any assumptions about trends or environments?
• Are these assumptions reasonable?

Examine the methods
• Did they measure what they claim?
• Can they explain what they observed?
• Did they have adequate controls?
• Were tests carried out in a standard way?

Examine the statistics
• Were appropriate statistical tests applied properly?
• Did they do proper error analysis?
• Are the results statistically significant?

Examine the conclusions
• Do the conclusions follow logically from the observations?
• What other explanations are there for the observed effects?
• What other conclusions or correlations are there in the data that they did not point out?

By challenging what you read, you will understand better what the author is saying and why they say it. You will also be able to decide whether the evidence supports their conclusions, and to draw your own conclusions from their data. Once you understand the paper, ask yourself how you can apply their approach to your own work.

Taking Notes:

React to what you read
Taking notes will help you to understand what you read and will save you effort in the future. When you have just read a paper, you may understand it well. The definitions are clear, the charts show correlations at a glance. But next week, when you are writing a report on this subject, or next year, when you need to refer to the paper again, it may not be so clear.

Highlight major points
On papers you plan to keep, underline main points or mark them with a line in the margin; make notes so that new ideas will stand out. When you find a definition of a new term, abbreviation or acronym, write “def” in the margin. When you find an example that clarifies a point, note that in the margin.

When you see a chart or table, examine it. Figure out what its significance is. What trends does it show? What correlations? Write a note explaining it in your own way.

React to the points in the paper
If you see a correlation to other work, note it in the margin. If you doubt a statement, note your objection. If you find a pleasing quotation, write it down.

Construct your own example
This can tell you if you understand the definitions and terminology, give you insight on why a theorem or result holds, and expose aspects not covered by the examples in the paper.

Summarize what you read
When you have digested an article, write a short summary. In your own words, state what you learned from the paper. What were the main points for you? Keep the summary with the article for future reference.

Reacting to what you are reading gets you emotionally involved in the argument. Emotion emphasizes what is said, making it easier to remember. Writing a summary helps to relate the paper to what you already know, again aiding memory by tying into your framework for the subject. The summary also serves as a reference when you need to return to the paper.

Summary:
How to read a paper


Copyright © 1989, 1990 Michael J. Hanson,
revised by Dylan J. McNamee (dylan@cse.ogi.edu)

Label: , , , ,

Pantau Posisi Kereta Api dengan GPS


Kereta api merupakan salah satu alat transportasi publik yang sampai saat ini masih sangat digemari masyarakat umum terutama menengah ke bawah. Menyangkut hajat hidup orang banyak dan keselamatan penumpang menjadi prioritas utama. Akan tetapi hingga sekarang masih sering terjadi kecelakaan kereta api yang sangat merugikan baik bagi penumpang maupun perusahaan pengelola kereta api itu sendiri.

Kerugian itu bukan hanya materi tapi juga kerugian yang berupa dampak sosial karena hilangnya nyawa beberapa penumpang. Tabrakan antar kereta api pada jalur rel yang sama merupakan salah satu jenis kecelakaan yang paling banyak terjadi dan menimbulkan kerugian yang besar.

Salah satu penyebab kecelakaan kereta api adalah belum adanya suatu sistem yang bisa memberikan informasi berupa posisi antar kereta api yang sedang melakukan perjalanan. Dengan mengetahui posisi kereta api tersebut, maka pusat kontrol (server) dapat memantau dan mengatur jadwal serta alur rel perjalanan kereta api. Diharapkan dengan sistem seperti ini akan bisa meminimalisasi terjadinya tabrakan antar kereta api pada jalur rel yang sama.

Permasalahan inilah yang diangkat dijadikan tugas akhir di Jurusan Teknik Elektronika PENS ITS. Ali Murtadlo mahasiswa D4 salah satu merespon positif permasalahanyang diberi judul "Sistem Informasi Posisi Kereta Api dengan menggunakan GPS untuk Keselamatan Penumpang."

Ini merupakan ide dari dosen pembimbing dari Ali Murtadlo yaitu Firman Arifin. Sistem ini menerapkan teknologi GPS untuk menentukan posisi kereta api yang sedang melakukan perjalanan. Setelah didapatkan data posisi kereta api, kemudian dikirim ke server (Operator KA) menggunakan SMS gateway. Selain itu sistem ini juga dilengkapi dengan running text sebagai informasi posisi stasiun yang dilewati kereta api kepada penumpang.

Dengan alat ini, perjalanan KA akan selalu terpantau server. Jika ada 2 atau lebih alat seperti ini, akan dapat mengurangi kecelakaan KA akibat tabrakan antar KA pada jalur rel yang sama. Walaupun alat ini kelihatannya sederhana, tapi Firman selaku pembimbing selalu menyemangati.

"Alat itu tidak hanya dilihat dari kecanggihannya, tetapi seberapa besar manfaatnya untuk orang lain, walaupun alat itu sederhana," kata Firman memberi semangat pada Ali.

Istimewanya, judul ini mendapat dua penghargaan berupa pendanaan untuk penelitian dan pembuatannya. Pertama, Program Huawei Supporting Research Fund yaitu dana bantuan beasiswa penelitian untuk membuat Tugas Akhir.

"Dengan bantuan dari PT. Huawei, saya semakin bersemangat dalam mengerjakan TA," tutur Ali Murtadlo.

Kedua kata Ali mendapat penghargaan dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2010. "Karena sistem yang dibangun ini sangat aplikatif, kami mengajukan judul TA ini ke PKM. Alhamdulillah, judul TA ini lolos dalam ajang kreatifitas mahasiswa paling bergengsi antar kampus di Indonesia," ungkap pemuda yang mendapat nilai A untuk hasil karyanya ini. (wln/wln)

Sumber: surabayadetik.com, Selasa, 16/02/2010

Label: , , ,

Kiat Meningkatkan Kreativitas Fotografi

Dalam banyak seminar fotografi selalu muncul pertanyaan, apakah kemampuan fotografi bisa dilatih dan ditingkatkan. Pertanyaan ini berkaitan dengan beberapa pehobi fotografi yang merasa bahwa kemampuan fotografisnya sudah mentok dan merasa tidak punya tantangan lagi dalam melakukan hobinya tersebut. Benarkah kemampuan fotografi itu bisa naik turun?

Oleh ARBAIN RAMBEY

Sebenarnya ilmu fotografi itu mirip dengan ilmu berenang. Sekali kita sudah bisa berenang sampai kapan pun tetap bisa walau sempat tidak bersentuhan dengan kolam sampai beberapa tahun. Namun, kecepatan dan daya tahan berenang seorang atlet tentu berbeda dengan orang yang hanya berenang agar sekadar bugar.

Dalam dunia fotografi, seorang yang sempat sangat mahir dalam bidang ini tetap punya mata yang baik dalam melihat dan menilai foto sampai kapan pun. Namun, kalau dia sempat lama tidak memotret, kepekaannya merekam pasti akan sangat menurun. Jadi, kemampuan melihat tetap, tetapi kemampuan menghasilkan yang akan menurun.

Bagaimana melatih kemampuan menghasilkan foto ini?

”Memotong” adegan

Fotografi adalah ”memotong” adegan dari realitas 360 derajat yang tiga dimensi ke dalam sepotong foto. Sebuah foto menjadi menarik karena ”terbatas”, alias cuma sebagian dari realitas. Maka, hal yang harus disadari dalam fotografi adalah kemampuan melihat ”sepotong” realitas itu. Foto yang bagus muncul dari kejelian sang fotografer menemukan potongan tersebut.

Orang yang tiap hari memotret pasti lebih jeli dalam melihat sebuah ”potongan yang indah”, sedangkan orang yang sudah jarang memotret mungkin tidak sadar bahwa di depannya terpampang sebuah bahan fotografi yang menarik.

Maka, melatih kemampuan dan kreativitas fotografi sebenarnya bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana. Tulisan ini mencoba menyederhanakan berbagai metode pelatihan fotografi yang pernah dilakukan di berbagai seminar dan pelatihan.

”Street photography”

Untuk mengasah kemampuan fotografi, kita bisa melakukan perjalanan keliling kota sambil memotret. Namun, kita hanya boleh memotret hal-hal yang tidak lazim atau yang bukan hal yang biasa kita lihat di berbagai foto. Dengan cara ini, kita mencoba ”meluaskan” apa yang selama ini kita jalani.

Contoh-contoh foto di halaman ini sedikit banyak akan memberikan gambaran pada latihan yang kita lakukan ini.

Foto A mencoba merekam bangunan tua yang bersanding dengan bangunan modern. Foto B adalah etalase sebuah toko pakaian. Memotret rak dasi tersebut juga mengasah kita untuk dapat memotret dengan perspektif yang baik, artinya tepi-tepi kotak yang lurus harus terpotret lurus.

Foto C adalah bagian dari sebuah tiang pelabuhan. Foto ini menantang kita untuk memotret sambil jongkok sebab kalau tetap berdiri, kita tidak mendapatkan ”adegan” ini. Penempatan baut, bagian besi, dan bagian kayu tiap orang akan berbeda. Di situlah kita berlatih komposisi.

Foto D sekadar memotret gembok tua pada warung warna-warni. Permainan bidang warna dan penempatan posisi gembok di bidang fotonya bisa mempunyai ratusan kemungkinan. Foto D melatih kita dalam merekam akurasi warna lewat penentuan white balance yang tepat, selain melatih komposisi.

Foto E adalah atap lobi sebuah hotel. Ada permainan gradasi di situ. Ada langit yang biru, ada bagian yang tercahayai, dan ada bagian yang dalam bayang-bayang. Selain melatih komposisi, foto ini juga melatih kita melakukan metering yang akurat.

Foto F adalah bayangan orang-orang yang berjalan di depan kita. Foto ini melatih kita bereaksi terhadap komposisi yang terus bergerak. Rasakan bahwa beda satu detik pun akan menghasilkan gambar yang sangat berbeda.

Foto G adalah memotret dari teropong di tempat wisata. Upaya ini adalah mencoba melihat dengan cara lain. Dalam dunia jurnalistik, kita melihat banyak wartawan memotret dari pantulan kaca spion, misalnya.

Adapun foto H adalah pola atap di hotel sebelah. Kemampuan melihat pola-pola komposisi bisa dilatih dengan banyak-banyak memotret aneka pola-pola yang ada di sekitar kita.

Contoh-contoh dalam tulisan ini akhirnya hanya sekadar contoh. Di dunia nyata sangat banyak subyek-subyek yang bisa kita lihat dan rasakan lalu kita rekam ke dalam selembar foto.

Anda bisa melakukan dan merancang latihan Anda sendiri.

Sumber: Kompas, 9 Februari 2010

Label: , ,

Pencetus Larangan Masjid Di Swiss Itu
Kini Masuk Islam

Daniel Streich, politikus Swiss, yang tenar karena kampanye menentang pendirian masjid di negaranya, tanpa diduga-duga, memeluk Islam.

Streich merupakan seorang politikus terkenal, dan ia adalah orang pertama yang meluncurkan perihal larangan kubah masjid, dan bahkan mempunyai ide untuk menutup masjid-masjid di Swiss. Ia berasal dari Partai Rakyat Swiss (SVP). Deklarasi konversi Streich ke Islam membuat heboh Swiss.

Streich mempropagandakan anti-gerakan Islam begitu meluas ke seantero negeri. Ia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi umat Islam di Negara itu, dan membuka jalan bagi opini publik terhadap mimbar dan kubah masjid.

Tapi sekarang Streich telah menjadi seorang pemeluk Islam. Tanpa diduganya sama sekali, pemikiran anti-Islam yang akhirnya membawanya begitu dekat dengan agama ini. Streich bahkan sekarang mempunyai keinginan untuk membangun masjid yang paling indah di Eropa di Swiss.

Yang paling menarik dalam hal ini adalah bahwa pada saat ini ada empat masjid di Swiss dan Streich ingin membuat masjid yang kelima. Ia mengakui ingin mencari 'pengampunan dosanya' yang telah meracuni Islam. Sekarang adalah fakta bahwa larangan kubah masjid telah memperoleh status hukum.

Abdul Majid Aldai, presiden OPI, sebuah LSM, bekerja untuk kesejahteraan Muslim, mengatakan bahwa orang Eropa sebenarnya memiliki keinginan yang besar untuk mengetahui tentang Islam. Beberapa dari mereka ingin tahu tentang hubungan antara Islam dan terorisme; sama halnya dengan Streich. Ceritanya, ternyata selama konfrontasi, Streich mempelajari Alquran dan mulai memahami Islam.

Streich adalah seorang anggota penting Partai Rakyat Swiss (SVP). Ia
mempunyai posisi penting dan pengaruhnya menentukan kebijakan partai. Selain petisinya tentang kubah masjid itu, ia juga pernah memenangkan militer di Swiss Army karena popularitasnya.

Lahir di sebuah keluarga Kristen, Streich melakukan studi komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah Islam, tapi ajaran Islam memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Akhirnya ia malah antipati terhadap pemikirannya sendiri dan dari kegiatan politiknya, dan dia memeluk Islam. Streich sendiri kemdian disebut oleh SVO sebagai setan.

Dulu, ia mengatakan bahwa ia sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan sering pergi ke gereja, tapi sekarang ia membaca Alquran dan melakukan salat lima waktu setiap hari. Dia membatalkan keanggotaannya di partai dan membuat pernyataan publik tentang ia masuk Islam.

Streich mengatakan bahwa ia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam, yang tidak dapat ia temukan dalam agama sebelumnya. (sa/iol/eramuslim)

Sumber: Eramuslim

Label: , , ,

Jaman Edan ... Ki Ronggowasito

JAMAN EDAN

Pancen amenangi jaman edan,
sing ora edan ora kaduman.
Sing waras padha nggragas,
sing tani padha ditaleni.
Wong dora padha ura-ura.
Begjane sing eling lan waspada.
Ratu ora netepi janji,
musna prabawane lan kuwandane.
Akeh omah ing ndhuwur kuda.
Wong mangan wong,
kayu gilingan wesi padha doyan rinasa
enak kaya roti bolu.
Yen bakal nemoni jaman:
akeh janji ora ditetepi,
wong nrajang sumpahe dhewe.
Manungsa padha seneng tumindak ngalah
tan nindakake ukum Allah.
Bareng jahat diangkat-angkat,
bareng suci dibenci.
Akeh manungsa ngutamakake reyal,
lali sanak lali kadang.
Akeh bapa lali anak,
anak nladhung biyunge.
Sedulur padha cidra,
kulawarga padha curiga,
kanca dadi mungsuh,
manungsa lali asale.
Rukun ratu ora adil,
akeh pangkat sing jahat jahil.
Makarya sing apik manungsa padha isin.
Luwih utama ngapusi.
Kelakuan padha ganjil-ganjil.
Wegah makarya kapengin urip,
yen bengi padha ora bisa turu.
Wong dagang barange saya laris, bandhane ludhes.
Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan.
Akeh wong nyekel bandha uripe sangsara.
Sing edan bisa dandan.
Sing mbangkang bisa nggalang
omah gedhong magrong-magrong.
Wong waras kang adil uripe nggragas lan kapencil.
Sing ora bisa maling padha digething.
Sing pinter duraka padha dadi kanca.
Wong bener thenger-thenger,
wong salah bungah-bungah.
Akeh bandha muspra ora karuwan larine.
Akeh pangkat drajat padha minggat ora karuwan sababe.
Bumi saya suwe saya mungkret.
Bumi sekilan dipajegi.
Wong wadon nganggo panganggo lanang.
Iku tandhane kaya raja kang ngumbar hawa napsu,
ngumbar angkara murka,
nggedhekake duraka.
Wong apik ditampik,
wong jahat munggah pangkat.
Wong agung kesinggung,
wong ala pinuja-puja.
Wong wadon ilang kawanitane,
wong lanang ilang kaprawirane.
Akeh jago tanpa bojo.
Wanita padha ora setya,
laku sedheng bubrah jare gagah.
Akeh biyung adol anak,
akeh wanita adol awak.
Bojo ijol-ijolan jare jempolan.
Wong wadon nunggang jaran,
wong lanang numpang slendhang pelangi.
Randha loro, prawan saaga lima.
Akeh wong adol ngelmu.
Akeh wong ngaku-aku,
njaba putih njerone dhadhu.
Ngakune suci, sucine palsu.
Akeh bujuk.
Wektu iku dhandhang diunekake kuntul.
Wong salah dianggep bener,
pengkhianat nikmat,
durjana saya sampurna.
Wong lugu keblenggu,
wong mulya dikunjara,
sing curang garang,
sing jujur kojur.
Wong dagang keplanggrang,
wong judhi ndadi.
Akeh barang kharam,
akeh anak-anak kharam.
Prawan cilik padha nyidham.
Wanita nglanggar priya.
Isih bayi padha mbayi.
Sing priya padha ngasorake drajate dhewe.
Wong golek pangan kaya gabah den interi.
Sing klebat kliwat,
sing kasep keplesed.
Sing gedhe rame tanpa gawe,
sing cilik kecelik.
Sing anggak kalenggak.
Sing wedi padha mati,
nanging sing ngawur padha makmur,
sing ngati-ati sambate kepati-pati.
Cina olang-aling kepenthung
dibandhem blendhung,
melu Jawa sing padha eling.
Sing ora eling
padha milang-miling,
mloya-mlayu kaya maling,
tudang-tuding.
Mangro tingal padha digething.
Eling, ayo mulih padha manjing.
Akeh wong ijir,
akeh wong cethil.
Sing eman-eman
ora kaduman,
sing kaduman
ora aman.
Selot-selote besuk
ngancik tutupe taun,
dewa mbrastha malaning rat,
bakal ana dewa
angejawantah,
apangawak manungsa.
Apasuryan padha Bathara Kresna.
Awewatak Baladewa.
Agegaman trisula wedha.
Jinejer wolak-waliking jaman,
wong nyilih mbalekake,
wong utang mbayar.
Utang nyawa nyaur nyawa,
utang wirang nyaur wirang.
Akeh wong cinokot lemud mati.
Akeh swara aneh tanpa rupa.
Bala prewangan, makhluk alus padha baris,
padha rebut bebener garis.
Tan kasat mata tanpa rupa,
sing mandhegani putra Bathara Indra,
agegaman trisula wedha.
Momongane padha dadi nayakaning prang,
perange tanpa bala,
sekti mandraguna tanpa aji-aji.
Sadurunge teka ana tetenger lintang kemukus dawa ngaluk-aluk,
tumanja ana kidul sisih wetan bener, lawase pitung bengi.
Parak esuk banter,
ilange katut Bthara Surya,
jumedhul bebarengan karo sing wus mungkur.
Prihatine kawula kelantur-lantur.
Iku tandhane putra Bathara Indra wus katampa
lagi tumeka ing ngarcapada,
ambiyantu wong Jawa.
Dununge ana sikile redi Lawu sisih wetan.
Adhedukuh pindha Raden Gathutkaca,
arupa gupon dara tundha tiga.
Kaya manungsa asring angleledha,
apeparab Pangeraning Prang,
tan pakra anggone anyenyandhang,
nanging bisa nyembadani ruwet-rentenge wong sapirang-pirang.
Sing padha nyembah reca ndhaplang,
cina eling, Syeh-syeh pinaringan sabda gidrang-gidrang.
Putra kinasih swarga Sunan Lawu,
ya Kyai Brajamusthi,
ya Kresna,
ya Herumurti,
mumpuni sakehing laku,
nugel tanah Jawa kaping pindho.
Ngerehake sakabehing para jim,
setan, kumara, prewangan.
Para lelembut kabawah prentah
saeka praya kinen abebantu manungsa Jawa.
Padha asenjata trisula wedha,
kadherekake Sabdopalon Nayagenggong.
Pendhak Suro nguntapake kumara,
kumara kang wus katam nebus dosanira,
kaadhepake ngarsane kang Kuwasa.
Isih timur kaceluk wong tuwa,
pangiride Gathutkaca sayuta.
Idune idu geni, sabdane malati, sing bregudul mesthi mati.
Ora tuwa ora enom,
semono uga bayu wong ora ndayani.
Nyuwun apa bae mesthi sembada,
garise sabda ora gantalan dina.
Begja-begjane sing yakin
lan setya sabdanira.
Yen karsa sinuyutan wong satanah Jawa,
nanging pilih-pilih sapa waskitha pindha dewa.
Bisa nyumurupi laire embahira,
buyutira, canggahira, pindha lair bareng sadina.
Ora bisa diapusi
amarga bisa maca ati.
Wasis wegig waskitha
ngreti sadurunge winarah,
bisa priksa embah-embahira,
ngawuningani jaman tanah Jawa.
Ngreti garise siji-sijining umat,
tan kalepyan sumuruping gegaman.
Mula den udia satriya iki,
wus tan bapa tan bibi,
lola wus aputus wedha Jawa.
Mula ngendelake trisula wedha,
landhepe trisula :
pucuk arupa gegawe sirik agawe pepati utawa utang nyawa.
Sing tengah sirik agawe kapitunaning liyan,
sing pinggir tulak talak colong jupuk winaleran.
Sirik den wenehi ati melathi, bisa kasiku.
Senenge anyenyoba, aja kaina-ina.
Begja-begjane sing dipundhut,
ateges jantrane kaemong sira sabrayat.
Ingarsa begawan wong dudu pandhita.
Sinebut pandhita dudu dewa.
Sinebut dewa kaya manungsa,
kinen kaanggep manungsa sing seje daya.
Tan ana pitakonan binalekake,
tan ana jantra binalekake.
Kabeh kajarwakake nganti jlentreh
gawang-gawang terang ndrandang.
Aja gumun aja ngungun,
yaiku putrane Bathara Indra kang pambayun,
tur isih kuwasa nundhung setan.
Tumurune tirta brajamukti, pisah kaya ngundhuh.
Ya siji iki kang bisa njarwakake
utawa paring pituduh jangka kalaningsun.
Tan kena den apusi
amarga bisa manjing jroning ati.
Ana manungsa kaiden katemu,
uga ora ana jaman sing durung kalamangsane.
Aja serik aja gela
iku dudu waktunira,
ngangsua sumur ratu tanpa makutha.
Mula sing amenangi gek enggala den luru,
aja nganti jaman kandhas.
Madhepa den amarikelu.
Begja-begjane anak putu, iku dalan sing eling lan waspada,
ing jaman Kalabendu nyawa.
Aja nglarang dolan nglari wong apangawak dewa,
dewa apangawak manungsa.
Sapa sing ngalang-ngalangi bakal cures ludhes sabraja dlama kumara.
Aja kleru pandhita samudana, larinen pandhita asenjata trisula wedha.
Iku paringe dewa.
Ngluruge tanpa wadyabala.
Yen menang datan ngasorake liyan.
Para kawula padha suka-suka
amarga adiling Pangeran wus teka.
Ratune nyembah kawula, agegaman trisula wedha.
Para pandhita ya padha ngreja,
yaiku momongane Kaki sabdopalon sing wus adus wirang.

Sumber: Sritomo's Note on Facebook, Thursday, November 26, 2009

Label: ,

Mati listrik 10 Jam di Surabaya?

RASANYA tidak masuk akal. Apalagi, itu terjadi di akhir bulan Januari 2010 di saat semestinya tidak mungkin terjadi listrik mati begitu lamanya. Tapi, itulah kenyataannya. Tanggal 30 Januari 2010 kemarin, ada satu kawasan kecil di Surabaya (tepatnya di sebuah RT di Tenggilis Mejoyo, Surabaya) listrik mati sejak jam 15.00 dan baru hidup pada pukul 24.00.Itu saya ketahui dari SMS yang masuk ke HP saya. Saat itu masih jam 17.00, berarti mati lampunya sudah dua jam. Saat itu saya lagi di ruang rapat kantor PLN pusat. Saya lagi membaca sebuah konsep perubahan pelayanan pelanggan PLN yang tenunya juga membahas soal mati lampu yang menjadi keluhan utama pelanggan. Menurut konsep tersebut penyebab utama kejadian mati lampu yang bersifat lokal seperti di Tenggilis tersebut umumnya akibat kerusakan trafo 200 kva (trafo untuk melayani sekitar 200 sampai 500 rumah).

Catatan Dahlan Iskan

Ketika saya tiba di Surabaya Jumat tengah malam, saya bertekad keesokan harinya, saya harus ke lokasi yang mati lampu itu. Saya harus tahu secara detil apa yang terjadi di Tenggilis Mejoyo tersebut. Ini penting karena semua kasus mati lampu di mana pun kira-kira penyebabnya sama. Kalau saya bisa menghayati apa yang terjadi di tenggilis tersebut tentu saya bisa memperoleh gambaran begitulah yang terjadi di seluruh Indonesia. Sebenarnya, saya sendiri bertekad tidak akan mendalami dulu masalah-masalah distribusi dan pelayanan pelanggan seperti ini. Saya berencana baru akan mendalaminya mulai bulan April mendatang. Yakni harus menyelesaikan dulu masalah-masalah yang terjadi di hulu dan yang lebih mendasar. Misalnya soal kekurangan gas 1 juta mmbtu setiap hari. Atau bagaimana mengatasi kekurangan daya (strum) di luar Jawa. Atau bagaimana melakukan perbaikan sistem pengadaan barang/jasa yang harus lebih hemat. Tahun ini PLN harus membeli barang/jasa sebesar Rp70 triliun lebih. Alangkah besarnya. Saya ingin agar pembelian tersebut jangan sembarangan. Perlu langkah penghematan yang nyata dalam membelanjakan uang sebanyak itu.

Kalau masalah-masalah mendasar tersebut sudah tertata, barulah saya bertekad untuk mendalami persoalan yang menyangkut peningkatan pelayanan pelanggan.
Tapi kejadian mati lampu di sebuah RT di kota besar seperti Surabaya selama 10 jam yang tidak masuk akal itu membuat saya harus mengetahui detil persoalannya. Mungkin saya belum akan melakukan perbaikan, tapi setidaknya sudah mengetahui akar masalahnya.Apalagi beberapa masalah mendasar memang sudah berhasil ditata. Perjuangan untuk pengadaan gas yang bisa menghemat dana Rp 15 triliun pertahun itu sudah menunjukkan hasil. Pemerintah sudah memutuskan bahwa mulai bulan September tahun depan PLN bisa mendapatkan kekurangan seluruh gas yang diinginkan. Gambaran bagaimana mengatasi krisis listrik luar Jawa juga sudah selesai dipetakan dan dibuatkan road-mapnya. Bahkan sistem baru pengadaan barang/jasa juga sudah mulai berjalan. Hasilnya luar biasa: pengadaan barang strategis pertama yang kami lakukan minggu lalu (satu jenis barang saja) sudah bisa menghemat Rp50 miliar lebih. Barang yang dulu harus kita beli dengan harga Rp120 miliar/buah, dengan sistem baru itu bisa kita beli dengan harga Rp65 miliar/buah. Hemat Rp55 miliar untuk satu barang.

Maka ketika ada berita mati lampu selama 10 jam di sebuah RT di kota besar seperti Surabaya, saya menyelipkan agenda ini di sela-sela kesibukan saya yang sangat padat selama satu bulan menjabat Dirut PLN ini. Tidak masuk akal ada peristiwa mati lampu 10 jam! Tapi itulah kenyataannya. Saya khawatir kejadian ini tidak hanya terjadi di Tengglis Mejoyo. Saya khawatir kejadian serupa juga terjadi di Bekasi, Bantul atau daerah lainnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Sabtu pagi, jam 06.30 WIB, saya minta salah seorang manajer PLN menemani saya ke Tenggilis Mejoyo. Saya hanya mau ditemani manajer yang paling bawah yang tahu persis keadaan lapangan. Tidak perlu ditemani para pimpinan PLN tingkat atas. Toh saya tidak bermaksud melakukan inspeksi atau sidak. Saya benar-benar hanya ingin belajar memahami apa yang terjadi, mengapa terjadi dan apakah bisa dicarikan jalan keluar yang sifatnya lebih mendasar dan lebih berlaku umum. Yakni jalan keluar yang bisa ditrapkan untuk mengatasi persoalan yang sama di seluruh Indonesia.

Mula-mula saya minta diantar ke sebuah rumah pelanggan di Tenggilis Mejoyo yang lampunya mati 10 jam itu. Saya ingin menelusuri persoalan dari yang paling bawah sampai yang paling pokok. Di rumah pelanggan itu saya minta ditunjukkan sistem kabelnya. Lalu ke mana alirannya. Terus ke mana lagi dan ke mana lagi. Sampai akhirnya ke gardu induk.Kabel listrik di sebuah rumah selalu berasal dari satu tiang yang ada di depan rumah tersebut. Inilah yang disebut tiang TR (tegangan rendah). Saya menyebutnya tiang pembagi. Satu tiang seperti ini melayani 6 atau 8 rumah. Di ujung atas tiang TR tersebut ada 8 buah konektor. Masing-masing untuk satu rumah. Kalau misalnya ada kejadian hanya satu rumah yang mati lampu, maka persoalannya ada di konektor ini. Biasanya konektor ke rumah tersebut terbakar.

Penyebab terbakarnya konektor adalah karena "gigitan" konektornya merenggang. Karena renggang itulah maka konektornya panas sekali, lalu terbakar. Mengapa "gigitan" konektor itu merenggang? Ini umumnya disebabkan saat pemasangannya dulu kurang teliti dan kurang sempurna. Dalam satu kawasan setingkat kira-kira satu kecamatan, terjadi kebekaran konektor rata-rata 10 kali sehari. Karena pemasangan konektor itu dilakukan oleh kontraktor, maka persoalan pokoknya adalah: bagaimana PLN harus mengontrol para kontraktor.Dari tiang-tiang TR tersebut saya terus menelusuri dari mana kabelnya berasal. Maka penelusuran sampailah ke trafo 200 kva. Yakni trafo berbentuk kotak besi yang biasanya dipasang di pinggir jalan, di sela-sela dua tiang yang berjarak sekitar 1,5 meter. Trafonya sendiri ada di bagian atas, sedang kotak besinya itu instalasinya.

Satu trafo ini melayani sekitar 30 sampai 50 tiang TR. Dalam hal kejadian mati lampu 10 jam di Tenggilis Mejoyo tersebut penyebabnya adalah rusaknya trafo 200 kva ini. Yakni sebuah trafo di pinggir jalan di dekat sebuah sekolahan.Mengapa trafo ini rusak? Lama saya berada di trafo ini. Tapi tidak berhasil mendapat jawaban. Trafo yang rusak itu sudah dilepas dan sudah dibawa ke gudang di Sukolilo. Saya hanya bisa melihat trafo yang baru yang sudah terpasang. Apakah trafo yang dipasang ini sama dengan trafo yang rusak? Dari segi spesifikasinya sama. Tapi merknya berbeda. Oh, saya tahu bahwa ada merk-merk tertentu yang kualitasnya lebih rendah dari merk-merk lainnya. Ini persoalan mendasar yang harus dipecahkan kelak: bagaimana memilih trafo yang baik.

Tapi mengapa mengganti trafo seperti ini memerlukan waktu mati lampu sampai 10 jam? Bukankah cukup 3 jam? Ternyata ada persoalan lain: PLN baru tahu kawasan itu mati lampu setelah jam 19.00! Padahal matinya sudah sejak jam 15.00. Berarti ketika mati lampu sudah berlangsung selama 4 jam belum ada yang tahu. Seperti orang stroke yang mati di dalam kamar mandi saja.
PLN baru tahu kalau ada kematian mendadak itu setelah seorang warga Tenggilis mengadu ke kantor PLN pada jam 19.00. Alangkah mengecewakannya. Sudah mati selama 4 jam PLN belum tahu. Warga tentu mengira PLN sudah tahu. Sedang PLN mengira sepanjang tidak ada warga yang mengadu, berarti tidak ada yang mati. Oh, saya tahu ada masalah berat di sini: masalah komunikasi dan sistem komunikasinya.Maka saya bertanya ke petugas PLN yang mendampingi saya. Yakni Ir Mukhtar yang lulusan fakultas elektro Unhas: mungkinkah di dalam kotak trafo tersebut dipasangi komputer sehingga kalau trafonya rusak PLN otomatis tahu? Sehingga tidak perlu menunggu ada warga yang mengadu?

Ir Mukhtar memang bukan orang yang harus bertanggungjawab di kawasan itu. Wilayah tugasnya di Sidoarjo. Tapi hari itu dialah yang bisa mendampingi saya. Jawab Mukhtar ternyata mengejutkan saya. Petugas PLN tersebut punya solusi yang lebih sederhana. Sebuah solusi yang dia sudah tahu tapi tidak berdaya untuk melakukannya. Dia mengusulkan agar di luar kotak trafo 200 kva tersebut dipasangi meteran digital. Tujuannya banyak: bisa memberi sinyal kepada bagian pengaduan PLN, bisa melaporkan kondisi trafo setiap saat dan bisa pula mengontrol beban di wilayah itu sehingga bisa langsung tahu kalau terjadi kasus kelebihan beban. Oh, saya tahu: ada teknologi yang bisa mengatasi kematian yang diketahui orang seperti itu.

Mengapa sebuah trafo hanya melayani 50-an tiang konektor? Tidak bisakah beberapa trafo 200kva itu digabung ke sebuah trafo yang lebih besar? Agar jumlah trafo tidak terlalu banyak sehingga mengontrolnya lebih mudah? Ini menarik untuk diperdebatkan. Tapi saya memaklumi mengapa trafo kecil banyak dipakai.Trafo kecil itu mula-mula diperlukan karena dulunya perumahan di situ masih sedikit. Kian lama rumahnya kian banyak. Trafo kecil itu tidak cukup lagi. Lalu dibangun trafo kecil lainnya tidak jauh dari situ. Tapi jumlah rumah masih terus bertambah lagi. Maka trafo pun ditambah lagi, ditambah lagi. Begitulah seterusnya sehingga terlalu banyak trafo kecil di mana-mana. Terlalu banyaknya trafo kecil 200kva itu membuat kontrol dan pemeliharaannya kian sulit. Rupanya karena itu kontrol dan pemeliharaan trafo ini diserahkan ke pihak swasta. Out sourching, istilahnya. Apakah trafo ini pemeliharaannya cukup? Petugas PLN yang mendampingi saya mengatakan sudah cukup. Swasta yang melakukan pekerjaan itu selalu melaporkan datanya.

Hanya saya agak kaget ketika diberitahu bahwa kontrol yang disebutkan cukup itu ternyata ini: enam bulan sekali. Itulah kontrak yang dilakukan antara PLN dengan swasta yang melakukan tugas kontrol itu. Oh, saya tahu: saya harus belajar banyak lagi apakah kontrol trafo setahun dua kali itu cukup? Apakah laporan hasil kontrol itu juga dikontrol dengan baik?

Saya lalu minta diantar ke gudang yang dipakai menyimpan trafo rusak tersebut. Letaknya cukup jauh tapi penelusuran ini harus sampai pada ujungnya. Di gudang inilah saya melihat bahwa trafo yang rusak tersebut masih teronggok di luar gudang. Masih belum dianalisa apa penyebab kerusakannya. Mungkin juga tidak pernah dianalisa. Trafo ini dari jenis/merk yang kurang disukai oleh para operator PLN karena tidak sebagus trafo yang lain. Tapi dia tidak berdaya untuk tidak memakainya karena urusan memilih trafo bukan kewenangannya. Dari penelusuran kabel-kabel mulai dari rumah pelanggan sampai gardu induk tersebut saya benar-benar belajar sistem distribusi listrik yang sangat mendasar. Terlalu banyak ide untuk mengubahnya. Tapi saya mengambil kesimpulan tetap lebih baik kalau saya memprioritaskan pembenahan hulu-hulunya dulu. Maafkan saya. Pembenahan di hilir tidak akan ada artinya (bahkan membuat frustrasi saja) kalau hulunya belum dibenahi dulu. Begitulah urutan berpikir dan bertindaknya.**

Sumber: Pontianak Post, Senin, 01 Februari 2010

Label: , , ,

Memahami dan Memodifikasi Kontras


Dalam lingkup fotografi digital, kontras adalah lebar rentang kecerahan antara titik tergelap dan titik terterang sebuah foto. Sebuah foto disebut kontras apabila rentang kecerahannya lebar, alias kecerahannya menyebar dengan rata dari hitam tergelap sampai putih terterang. Adapun foto yang tidak kontras adalah foto yang hampir semua nada kecerahannya terkumpul di daerah tanggung yang disebut midtones (nada-nada tengah)

Oleh ARBAIN RAMBEY

Perhatikan gambar 1 yang merupakan foto tidak kontras. Ketidakkontrasan gambar 1 bisa dilihat secara teknis dengan membukanya di perangkat lunak Photoshop, lalu kita tekan Ctrl L. Fungsi Ctlr L ini adalah untuk menampilkan kurva histogram sebuah gambar.

Kurva histogram adalah kurva yang menggambarkan 'penyebaran' aneka tingkat kecerahan sebuah foto.

Perhatikan gambar 2, yang menggabungkan gambar 1 dan kurva histogramnya sekaligus.

Dalam histogram pada gambar 2 terlihat bahwa ada tiga slider (titik yang bisa digeser-geser) pada kurva histogramnya, yaitu A yang merupakan ujung gelap (hitam), B yang merupakan pusat midtones, serta C yang merupakan ujung terang (putih). Terlihat jelas bahwa gambar 1 cuma punya penyebaran tingkat kecerahan di sekitar titik B saja, maka disebut tidak kontras.

Untuk memperbaiki gambar 1, perhatikan gambar 3. Gerakkan slider A ke kanan sampai menyentuh titik tergelap kurva, lalu gerakkan slider C ke kiri sampai menyentuh titik terterang kurva.

Sekarang gambar 1 tadi sudah mempunyai kontras yang baik seperti terlihat pada gambar 4. Perhatikan pula kurva histogramnya yang sudah memenuhi seluruh area dari hitam sampai putih.

Namun, kalau diperhatikan dengan baik, terlihat kurvanya tidak padat, tetapi bergaris-garis. Hal ini bisa dimengerti karena semula kurvanya cuma seonggok di tengah, lalu diregangkan agar memenuhi seluruh rentang kurva. Secara kasatmata, kurva yang bergaris-garis ini tidak memengaruhi mutu gambar secara keseluruhan.

Sebuah foto bisa menjadi berkontras rendah dari berbagai hal, antara lain karena adanya side light atau adanya sinar yang datang dari samping lensa, atau bisa juga karena kesalahan pengukurna pencahayaan lalu dikoreksi habis-habisan, atau juga karena kerusakan kamera.

Dunia fotografi digital punya keunggulan dibandingkan dunia fotografi film karena bisa mengoreksi kontras dengan mudah.

Kontras alam

Di alam nyata, perbedaan kontras bisa terjadi dari berbagai hal. Perhatikan gambar 5 dan gambar 6 yang memotret sebuah pemandangan yang sama.

Gambar 5 lebih kontras daripada gambar 6 karena disinari cahaya matahari yang keras, sedangkan gambar 6 dicahayai matahari yang dilingkupi langit mendung.

Kedua gambar punya rentang kecerahan yang memenuhi seluruh kurva histogramnya. Bahwa gambar 6 kalah kontras. Itu terjadi karena kondisi pencahayaannya.

Foto apa pun bisa dinaikkan tingkat kontrasnya dengan mudah. Pada fotografi film, menaikkan kontras dilakukan dengan pemilihan tingkat kertas foto yang dipakai untuk mencetak. Makin besar angka tingkatnya, makin kontras kertas itu. Sebagai contoh, kertas dengan tingkat 6 pasti lebih kontras daripada kertas dengan tingkat 4.

Sementara itu, pada fotografi digital, untuk menaikkan kontras salah satunya bisa dilakukan dengan memainkan posisi slider A, B, dan C.

Manakala kita ingin menaikkan kontras dengan menambah daerah hitam, kita mendekatkan slider A ke slider B, dan/atau slider B ke slider A.

Sebaliknya kalau kita ingin menaikkan kontras, tetapi dengan menambah daerah putih, kita mendekatkan slider B ke slider C, dan/atau slider C ke slider B.

Terang/gelap

Akhirnya, foto yang kontras kadang belum memenuhi selera orang yang melihatnya. Sebuah foto yang kontras kadang tampak terlalu gelap atau terlalu terang.

Untuk mengatur agar sebuah foto kontras tampak pas, kita bisa memainkan slider B. Menggeser slider B ke kiri akan membuat gambar lebih cerah, sebaliknya menggeser slider B ke kanan membuat gambar lebih gelap.

Sumber: Kompas, Selasa, 2 Februari 2010

Label: , , ,

Ribuan Bonek Berangkat ke Bandung dengan KA

Jatuh dari KA, Satu Suporter Tewas

[IBNU TAUFIK JR/RADARJOGJA/JPNN]
MENUJU BANDUNG Ratusan suporter Persebaya berjubel di lokomotif dan gerbong KA Pasundan saat melintas di Stasiun Lempuya­ngan, Jogja, kemarin.

Suporter Persebaya, Bonek, benar-benar nekat. Meski Komisi Disiplin (Komdis) PSSI telah menjatuhi sanksi larangan mendampingi laga away Persebaya selama dua tahun, ribuan suporter tetap berangkat ke Bandung dengan menumpang KA Ekonomi Pasundan kemarin. Mereka berniat menyaksikan laga Persebaya dengan Persib di Stadion Jalak Harupat, Bandung, hari ini (23/1).

Sebagian Bonek beraksi lebih nekat dengan berdiri di atap gerbong dan memenuhi lokomotif KA Pasundan. Saat kereta berhenti di Stasiun Madiun, petugas gabungan dari Polresta, Polsuska, TNI, dan karyawan stasiun berusaha melarang ulah itu. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Malah, para suporter berteriak-teriak. "Pak Polisi, Pak Polisi, kami jangan dipukuli, kami bukan sapi", teriak mereka.

Suasana tegang terjadi ketika memasuki Solo. Terjadi insiden pelemparan batu antara rombongan suporter dan warga di sepanjang jalur kereta api di Kota Solo. Akibat peristiwa itu, seorang wartawan Antara (Hasan Sakri Ghozali, 25), seorang anggota Brimob (Briptu Marsito), dua warga Solo (Kusyanto, 33, Hanif Supriyanto, 25) luka-luka.

Hasan mengalami luka bocor pada bagian kepala setelah dikeroyok dan dipukul dengan batu oleh suporter. Hanif dan Agung terluka pada bagian dahi dan pelipis mata karena terkena lemparan batu. Briptu Marsito, yang saat kejadian berada di dalam gerbong untuk mengawal para suporter, juga mengalami luka parah pada bagian mata.

Seorang suporter, M. Fatoni, tewas. Dia ditemukan di Nganjuk karena jatuh dari gerbong kereta api. Dua suporter lain kritis. Mereka adalah Abdul Muchid, 31, asal Simokerto, Surabaya, dan Hayat, 35, asal Sampang, Madura. Muchid dan Hayat jatuh dari gerbong KA. Mereka mengalami luka parah pada bagian kepala dan telinga kiri. Hayat sebelum jatuh tersangkut kabel telepon di kawasan Tegal Harjo, Jebres, Solo.

Indro Febriyanto, saksi mata, mengatakan bahwa saat peristiwa tersebut, dia bersama sejumlah wartawan foto berniat mengambil gambar kedatangan rombongan Bonek yang melintas di kawasan Stasiun Purwosari. Namun, tanpa dia sadari, kereta jurusan Surabaya-Bandung dengan sembilan gerbong itu ternyata berhenti.

Tiba-tiba, sejumlah suporter turun dari kereta untuk mengambil batu dan menyerang warga sekitar stasiun. Indro dan beberapa wartawan foto yang terjebak di tengah kerumunan suporter sontak berlarian. "Saat kejadian, jarak Hasan (wartawan korban pelemparan) terlalu dekat. Beberapa suporter berhasil memukul dan merebut helm yang dia pakai," kata Indro di Rumah Sakit Panti Waluyo kemarin.

Indro menambahkan, saat dikeroyok suporter, Hasan sulit menangkis pukulan dan lemparan batu. "Dia berusaha melindungi kamera agar tidak dijarah. Sebab, helm yang dia pakai sudah direbut Bonek," ujar Indro terlihat jengkel.

Kapoltabes Solo Kombespol Joko Irwanto saat dikonfirmasi mengatakan, polisi sudah berusaha melakukan pengawalan dengan menerjukan sekitar 250 personel dari satuan dalmas dan brimob. Namun, aksi saling lempar ternyata tetap tidak bisa dihindari.

Joko Irwanto menambahkan, sebelum suporter memasuki wilayah Solo, personelnya telah melakukan razia di Stasiun Palur. Namun, beberapa suporter tetap dapat lolos dan berhasil menyembunyikan batu yang diduga untuk melempar warga di saat memasuki Stasiun Jebres. "Kita juga menempatkan petugas gerbong untuk mengantisipasi terjadinya kericuhan," kata Kapoltabes.

Koran ini mengamati, kericuhan mulai panas saat rombongan suporter memasuki kawasan Stasiun Jebres. Selain insiden pelemparan, di lokasi tersebut ratusan warga dan suporter nyaris bentrok. Namun, aksi bentrok dapat digagalkan setelah petugas melakukan beberapa kali tembakan peringatan.

Dari Stasiun Jebres, KA Pasudan melintas ke kawasan Tegal Harjo, Jebres. Aksi saling lempar batu kembali terjadi di sana. Ketegangan terus mewarnai suasana di sepanjang perjalanan. Di Stasiun Purwosari, ribuan suporter kembali turun dari gerbong kereta untuk mengambil batu dan melempari warga dan sejumlah sarana fasilitas umum.

Selain melukai warga dan wartawan, para suporter itu juga merusak kaca pos perlintasan kereta api di sekitar Stasiun Purwosari. Tak hanya itu, sejumlah sarana fasilitas umum di sepanjang perlintasan kereta api di Kota Solo juga rusak karena lemparan batu.

Humas PT KA Daop VII Madiun Hariyono Wirotomo mengatakan, ribuan Bonek yang menumpang kereta itu merugikan pihaknya. Sebab, sebagian besar hanya membayar 75 persen dari harga tiket. Bahkan, diperkirakan ada yang tidak membayar. "Kalau didatangi Bonek, stasiun di wilayah kami selalu merugi. Apalagi banyak kaca jendela yang pecah," katanya. (in/fik/jpnn/iro)

Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 23 Januari 2010

Label: , , ,

Kolesterol

by Dr ANTON CASTILIANI













Label:

Theorizing Neoliberalism

A new word1) entered the vocabulary of the left in November 1999 with the momentous protest against the World Trade Organisation in Seattle—”neoliberalism”.2)

Just as the movement that erupted at that protest defined itself as being against “globalisation” (or “corporate globalisation”), so it came to describe itself as “anti-neoliberal”. The far left took over this terminology, often describing economic policies it opposed as “neoliberal”.

By Chris Harman

But there was an ambiguity in the term “neoliberal”. Did it refer to a way of running the capitalist system that could be changed with a change in government policy, or did it refer to something intrinsic to the present phase of capitalism that only challenging the system as whole could overcome? And was this present phase really described by the right wing “libertarian” anti-statist ideology of the neoliberals or was it a much more complex system of attacks?

Many of the most influential thinkers in the post-Seattle movement accepted the first answer to both questions. Leaders of Attac in France said their organisation was not “anti-capitalist”, but merely wanted to stop short term financial flows disrupting national economies.3)

Bernard Cassen, founder of Attac, wanted a “protectionist” national economy organised along capitalist lines. Susan George would occasionally speak about capitalism, but could also write of “the harmful consequences of globalisation”, as if this were something separate from, and intrinsically worse than, capitalism.

When it came to explaining what had changed since the 1960s, the emphasis tended to be on the victory of one ideology over another, rather than changes in the inner functioning of the global economic system. This was put very clearly by the French sociologist Pierre Bourdieu. He argued, “The main issue is neoliberalism and the retreat of the state. In France neoliberal philosophy has become embedded in all the social practices and policies of the state”.4)

This was “the effect of a shared belief…which has created a climate favourable to the withdrawal of the state and so submission to the values of the economy”.5)

The logic of this position was that all that was needed to reverse the unpleasant policies pursued by capitalist governments and corporations was a shift in ideology or politics at the top of society. Pressing for this could involve alliances with particular capitalist groups. Susan George spelt this out in theory, writing that “sometimes the allies may even be…-transnationals” such as those in the insurance industry.6)

Bernard Cassen applied this in practice by giving electoral support to the former French defence minister Jean-Pierre Chevènement. Such approaches contrasted sharply with the analyses of those of us who saw the faults falling under the rubric “neoliberalism” as flowing from the logic of capitalism at a certain stage in its development. This did not prevent us joining with the wider movement in agitating against those faults. As I wrote at the time, “Hundreds of thousands, perhaps millions of people are beginning, for the first time, to challenge the global system. They come from a vast range of backgrounds and experiences, and bring with them the differing ideas that have developed there”.7)

The different approaches were, however, bound to work themselves out in practice at some point. I added, “The movement will not be able to develop beyond a certain point unless such arguments are resolved”.8)

Developments over the past two years show that the arguments are indeed becoming important in practice. Alex Callinicos and Chris Nineham have written about the debilitating divisions that emerged in the World Social Forum movement that arose out of Seattle,9)

While Daniel Bensaïd and Pierre Rousset have pointed out: The “pillars” of the alterglobalisation—the Brazilian Workers Party and Rifondazione Comunista—lead or actively participate in centre_left governments , implementing openly social liberal policies. This evolution in less than six years is full of consequences. The problem does not lie in the suddenness of the conversions… The lack of resistance that they have encountered within their own parties must focus attention both on the limits of the anti-neoliberal rhetoric and the profound resignation that it has partially masked.10)

For this reason it is necessary to take up once again the analysis of the relationship of neoliberalism to capitalism—and by implication, of anti_neoliberalism to anti-capitalism.11)

Marxist analyses of neoliberalism

A number of Marxist analyses have attempted to come to terms with neoliberalism, for instance Gerard Duménil and Dominique Lévy’s Capitalism Resurgent, François Chesnais’s La Mondialisation du Capital and, probably most influentially, David Harvey’s The New Imperialism and A Brief History of Neoliberalism.

These works contain a mass of useful information about the world today. But they are also marked by the same ambiguity over neoliberalism to be found in the non-Marxist writings within the movement. All make reference to the problems faced by capitalism in the 1970s that led to a new period of crises. But they suggest that it is not capitalism as such that is to blame; rather it is a particular regime of capitalism. So Duménil and Lévy say that the new period was heralded by a fall in the rate of profit from which the system has not yet fully recovered,12) but then go on to describe the advance of neoliberalism as a “coup” (no less) by “finance capital” in the late 1970s.13)

This coup supposedly overturned the “Keynesian” approach of industrial capital, which had been based on accumulation through a “compromise” with working class organisations on the terrain of the welfare state.14)

Chesnais’s tone is often similar. He also refers to a “coup d’etat” in the late 1970s. He writes that “industrial capital” has been forced to subordinate itself to “money capital”.15)

Chesnais is a revolutionary socialist, but the implication of his argument is that, if “industrial capital” still dominated “finance capital”, capitalism today would not be experiencing a “mediocre or poor dynamic of investment” or “the destruction of industrial employment…and strong pressures which weigh on those jobs which remain”.16)

Essentially the same arguments are to be found in David Harvey’s work. He presents a picture of capitalism in the US, Western Europe and Japan before the mid-1970s expanding on the basis of “a class compromise between capital and labour”. This meant an acceptance that: The state could focus on full employment, economic growth and the welfare of its citizens, and that state power should be freely deployed alongside of, or if necessary, intervening in or substituting for market processes to achieve these ends. Fiscal or monetary policies usually dubbed “Keynesian” were widely deployed to dampen business cycles and to ensure reasonably full employment.17)

He calls this “embedded liberalism” and argues that it “delivered high rates of economic growth in the advanced capitalist countries in the 1950s and 1960s” and that a “social and moral economy was fostered through the activities of an interventionist state”.18)

He recognises that this system broke down in the mid-1970s. This was, he argues, caused by “a crisis of over-accumulation”, which he sees as persisting into the present.19)

But he goes on to imply, again and again, that an alternative was possible within the existing system. Capitalists, he argues, adopted the neoliberal approach because their class power had been diluted under Keynesianism and was threatened in the mid-1970s. Their response was determined by their need for a “restoration of class power”20) — or even because “neoliberalism creates conditions for class formation”.21)

One particular expression of this reassertion of class power has been the domination of finance over industry: “There was undoubtedly a power shift away from production to the world of finance… In a conflict between Main Street and Wall Street, the latter was to be favoured.” Harvey continues, “One substantial core of rising class power under neoliberalism lies, therefore, with the CEOs, the key operators on corporate boards, and the leaders of the financial, legal and technical apparatuses that surround this inner sanctum of capitalist activity.” And while they rise in power, the unfortunate shareholders are among those who suffer: “The power of the actual owners of capital, the stockholders, has been somewhat diminished”.22)

Sumber: Abdul Hadi W.M.'s Note pada Facebook.

Label: ,

Menggabungkan Dua Sel Excel

Bagaimana kalau Anda punya dua format berbeda dalam jumlah yang sangat banyak? Misalkan, Anda perlu menggabungkan field Tempat dan Tanggal Lahir dalam satu kolom.

Untuk menyiasatinya, buatlah kolom Tempat (Lahir), dan kolom Tanggal Lahir dalam kolom tersendiri. Misalnya, taruh data Tempat (Lahir) di kolom M, sedangkan data Tanggal Lahir disimpan di kolom O. Supaya cepat, isi Tanggal Lahir (kolom O) menggunakan keypad dengan format pengetikan (dd-mm-yy) atau (dd/mm/yy). Contoh, jika Anda akan mengetik 25 November 1992, cukup ketik 25/11/92 atau 25-11-92.

Jika, setelah di-enter, yang muncul adalah 25/11/92 atau 25-11-92 atau 25 11 92 atau 25-Nov-92, jangan cemas dulu. Formatlah sel/range dengan (dd mmmm yyyy). Caranya, blok kolom O, lalu klik “Format > Cells > Number > Custom”, lalu pilih dd mmmm yyyy pada Type. Jika pilihan tersebut tidak tersedia, buat pada kotak Type dengan cara mengetikkan dd mmmm yyyy. Akhiri dengan mengklik “OK”. Nah, format yang diinginkan kini telah muncul.

Sekarang, ketik seluruh data. Dalam hal ini, ada dua hal yang bisa Anda lakukan dengan cepat. Pertama, Anda bisa mengisi tanggal, bulan, dan tahun hanya dengan mengetik 6 digit (jika tanggal dan bulan satuan) atau 8 digit (jika tanggal dan bulan puluhan).

Begini langkah selanjutnya.
1. Di dalam program Excel, blok kolom Tanggal Lahir, lalu klik “Copy”.
2. Pindah ke MS Word, lalu klik “Edit > Paste Special > Paste > Unformatted Text > OK”.
3. Kembali ke Excel, blok kolom (di tempat yang salinannya akan ditempel, misalnya O7:O10) dengan mengklik “Format > Cells > Number > Text > OK”.
4. Pindah lagi ke Word, blok teksnya dan klik “Copy”.
5. Balik lagi ke Excel, tempatkan penunjuk sel di O7, lalu klik “Paste Special > Paste > Text > OK”. Kini, gabungkan hasil di sel O7 menggunakan operator sesuai keinginan. Hasil yang sama akan diperoleh jika Anda menggunakan perintah “=Concatenate(M7;O7)”.
6. Selanjutnya, tinggal salin dan tempel ke range di bawahnya.
7. Terakhir, salin dari range ke range yang sama menggunakan pasangan perintah “Edit > Copy” dan “Edit > Paste Special > Value”. Kini kolom yang tidak terpakai bisa dihapus dengan perintah “Edit > Delete > Entire Column > OK”. (PCplus)

Sumber: KOMPAS.com, Kamis, 31 Desember 2009

Label: ,

Otomatis Membaca Data Teks Excel

Bekerja dengan sebuah spreadsheet tidaklah mudah, apalagi jika Anda dituntut untuk menjaga keakuratan data yang tertera di sana. Nah, dengan fitur Text to Speech, Anda bisa membuat komputer membacakan semua teks yang dimasukkan ke Excel untuk melakukan verifikasi. Begini cara mengaktifkannya.
1. Pada menu “Tools”, pilih “Speech”, kemudian klik “Show Text To Speech Toolbar”.
2. Pilih kelompok cell yang ingin dibacakan.
3. Pada toolbar “Text To Speech”, klik “By Rows” agar komputer membacakan per baris, atau pilih “By Columns” agar komputer membacakan data per kolom.
4. Klik “Speak Cells” agar komputer membacakan sel yang Anda pilih.
5. Jika menemukan kesalahan pada data, klik “Stop Speaking”, lalu gunakan mouse untuk memperbaikinya.
6. Klik “Speak Cells” untuk melanjutkan.

Agar Excel membacakan setiap data yang Anda memasukkan ke dalam cell, jajal trik ini.
1. Pada menu “Tools”, pilih “Speech”, lalu klik “Show Text To Speech Toolbar”.
2. Pada toolbar “Text to Speech”, klik “Speak On Enter”. Selanjutnya, setiap kali Anda memasukkan data pada sebuah cell dan menekan Enter, komputer akan membacakan data yang ada di cell tersebut. (PCplus)

Sumber: KOMPAS.com, Kamis, 31 Desember 2009

Label: ,

Kunci dan Sembunyikan Rumus Excel

Selagi bekerja dengan rumus di Excel, mungkin Anda merasa perlu untuk menyimpan dan memproteksinya supaya tidak terjadi perubahan ketika Anda ingin menggunakannya kembali. Bagaimana caranya?

Sebenarnya mudah saja, bahkan Anda dapat menyembunyikannya sekalian. Begini caranya.
• Mula-mula, blok dulu sel yang rumusnya ingin Anda sembunyikan.
• Pilih “Format > Cell”, dilanjutkan dengan mengklik tab “Protection”. Aktifkan “Locked” untuk menguncinya dan “Hidden” untuk menyembunyikannya, lalu klik “OK”.
• Pastikan sel lain tidak ikut terkunci agar sewaktu-waktu Anda dapat mengubah data yang ada (Locked tidak aktif, karena default-nya Locked aktif) yaitu dengan memblok semua sel yang tidak akan dikunci. Ingat, jangan aktifkan Locked dan Hidden.
• Pilih “Tools > Protection > Protect Sheet…”. Akan muncul kotak dialog “Protect Sheet”. Aktifkan “Contents”, kemudian ketik password yang akan digunakan, diakhiri dengan “OK”. Akan muncul kotak dialog “Confirm Password” untuk memastikan. Ketik kembali password yang sama, lalu tekan “OK”. Simsalabim! Rumus akan menghilang dengan tiba-tiba.
• Untuk memunculkannya kembali, pilih “Tools > Protection > Unprotect Sheet…”. Masukkan password, lalu klik “OK”. Tada! Rumus akan muncul kembali. (PCplus)

Sumber: KOMPAS.com, Kamis, 31 Desember 2009

Label: ,