Munculnya pulau aneh di Madura membawa berkah bagi nelayan

warga menyewakan perahu. moch andriansyah©2013 Merdeka.com


Fenomena munculnya 'Pulau Karang' di tengah laut di pesisir pantai Desa Labuhan, Kecamatan Sepuluh, Bangkalan, Madura, Jawa Timur awal Januari lalu membuat warga penasaran bercampur panik. Mereka takut akan timbul petaka karena kejadian alam itu dianggap aneh.

Meski dianggap aneh, banyak pengunjung mendatangi pulau dadakan tersebut. Karena banyak pengunjung yang datang, hal ini dimanfaatkan oleh nelayan setempat untuk mengais rezeki.

"Siapa yang tahu soal kutukan, soal balak atau apalah sebutannya. Masalah gaib ya kita kembalikan pada yang gaib, yaitu Tuhan seru sekalian alam," kata seorang pengunjung, Suharyono yang ingin menyaksikan fenomena unik di Pulau Garam, sebutan Madura tersebut, Rabu (23/1).

Pengunjung asal Surabaya ini mengaku penasaran. Setiap pengunjung yang menyewa perahu, dikenakan tarif Rp 4 ribu untuk pulang-pergi.

Sementara pengunjung yang sudah menginjakkan kakinya di 'Pulau Karang' tak merasa takut karena aura mistisnya. "Mereka malah bercanda dan berfoto ria mengabadikan momen tersebut. Kalau mereka khawatir akan terjadi kejadian gaib pasca munculnya Pulau Karang itu, tentu mereka akan pergi, atau lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan. Bukan sibuk mengejar duniawi," ujarnya.

Sementara penduduk sekitar, saat awal kemunculan 'Pulau Karang' yang dihuni puluhan batu karang dengan ukuran besar, plus ribuan lebih atau bahkan jutaan lebih karang berukuran kecil itu dianggap sebagai pertanda akan terjadi bencana alam yan biasa menenggelamkan Desa Labuhan.

Salah satu warga yang juga seorang nelayan di Desa Labuhan, Subhan (56) mengatakan, semula warga kaget dan panik dengan kemunculan batu-batu karang dengan bentuk aneh tersebut. "Namun, lama kelamaan, karena banyak warga dari luar Desa Labuhan ingin melihat langsung karang ajaib itu, menjadi biasa dan memanfaatkan perahunya untuk disewakan, termasuk saya," katanya.

Subhan mengatakan, sekali antar pulang pergi, dia bisa mengangkut lima sampai tujuh orang dan setiap orang dikenakan sewa Rp 4 ribu. "Sehari lumayan banyaklah, bisa sampai ratusan," katanya.

Perahu-perahu nelayan ini akan disewakan ketika air laut pasang. Sebab, saat Subuh sampai menjelang siang, orang-orang bisa langsung melihat dengan jalan kaki ke tengah laut. Bahkan keindahan Pulau Karang bisa dilihat dari bibir pantai. Ukurannya cukup besar. Tingginya sekitar tiga meter dengan panjang sekitar 50 meter. Di bawahnya terdapat batu-batu karang dengan ukuran besar.

"Kalau Subuh atau pagi, karangnya bisa terlihat semuanya dari jauh. Kalau sore air laut pasang cuma terlihat bagian atasnya," kata Nur Afiah, salah satu warga Desa Labuhan.

Afiah juga mengatakan, kalau batu-batu karang yang berkumpul menjadi satu membentuk pulau itu, terdapat karang-karang berbentuk unik tidak seperti biasa dilihat warga di sekitar bibir pantai. "Karangnya aneh-aneh, ada yang seperti tengkorak manusia ada seperti piring dan ada juga dengan bentuk-bentuk tidak biasa kita lihat," katanya.

Sumber: Merdeka.com

Label: , , ,

Relief Misterius di Kaki Borobudur

Foto: Tempo/Hariyanto

Siapa tak terpesona menatap keindahan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah?

Dibangun pada masa Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra pada tahun 824, Borobudur terdiri dari 1460 panel relief dan 504 stupa. Namun, panel yang selama ini terlihat ternyata belum lengkap. Ada panel-panel yang sengaja ditimbun tanah karena reliefnya dianggap vulgar dan cabul. Panel-panel itu terletak di bagian paling bawah, yang disebut Kamadhatu.

Oleh Tole

Bagian fondasi tersembunyi itu terdiri dari 160 relief adegan Sutra Karmawibhangga atau hukum sebab-akibat. Panel-panel itu menggambarkan perbuatan yang mengikuti hawa nafsu manusia, semisal: bergosip, membunuh, menyiksa dan memerkosa. Juga ada adegan-adegan seks dalam berbagai posisi.
Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Indonesia, Edi Sedyawati mengemukakan, relief Karmawibhangga itu menggambarkan kehidupan masyarakat saat candi itu dibangun.

Ada sejumlah pendapat mengapa relief ini ditimbun. Bisa jadi karena kurang pantas dipertontonkan ke publik, tapi ada pula yang menduga penutupan ini semata-mata demi kestabilan posisi candi — agar tidak amblas.
Terlepas dari perdebatan itu, keseluruhan relief di Borobudur mencerminkan ajaran Budha Mahayana: semakin ke atas semakin mencapai kesempurnaan.

Bagian paling bawah atau Kamadhatu menggambarkan perilaku penuh angkara murka dan hawa nafsu yang menyebabkan seseorang masuk neraka jahanam.
Bagian tengah (terdiri dari empat tingkat) dinamakan Rapadhatu, tempat manusia dibebaskan dari nafsu dan hal-hal duniawi. Sedangkan bagian teratas — termasuk tiga teras melingkar yang mengarah ke pusat kubah—disebut Arupadhatu, tempat para dewa bersemayam atau nirwana.

Keberadaan Borobudur sesungguhnya telah diketahui penduduk lokal di abad ke-18. Sempat tertimbun material Gunung Merapi, candi ini lalu ditemukan kembali oleh Sir Stanford Raffles pada 1814. Selanjutnya, pada 1885, arkeolog JW Yzerman mendokumentasi dan merekam reliefnya. Saat itulah, timnya menemukan relief tersembunyi di bagian paling bawah.

Sekitar tahun 1890-1891, bagian yang tertutup itu dibuka seluruhnya oleh fotografer Kasiyan Chepas untuk dipotret satu per satu. Batu bervolume 13000 meter kubik ini diangkat, lalu dikembalikan lagi ke posisi semula. Hingga hari ini, bagian itu ditimbun tanah sehingga tak seorangpun bisa melihat. Ada tiga panel di bagian tenggara candi yang terbuka--diduga karena proses penutupan kembali yang tak sempurna.

Hasil bidikan Chepas kemudian dibukukan pada 1931. Buku aslinya kini ada di Museum Nasional, Jakarta. Sedangkan klise asli disimpan di Museum Tropen, Amsterdam karena statusnya milik Pemerintah Belanda. Pemerintah Indonesia memiliki replika seluruh foto itu. (isyana)

[keluar]

Sumber: Yahoo!News, Apr 12, 2011

Label: , , ,

Komodo Island is the NEW 7 Wonders of The World

Komodo

Komodo Island is the NEW 7 Wonders of The World and it is just in Indonesia, and the island is candidate of NEW World Wonders. Support the Giant lizard or Varanus komodoensis and Komodo Island as the New 7 Wonders Of The World.

Komodo Island is the largest island in the Komodo National Park. with beautiful sandy beach, mountains and savannah, where prehistoric creature and other wild animals that live freely in their habitat. It also features many point to the dive around the island and one of the famous is Liang Bay.

The island is famous not only cultural heritage and natural beauty, but also for the unique wildlife that roam. Komodo dragon, the world’s largest living lizard, takes its name from it. It is kind of lizard, which lives in soil and some small islands in the zone.

The Monster was first documented in 1910 by Lieutenant van Steyn van Hensbroek, when rumors of a “land crocodile” reached the Dutch colonial administration. in 1912, Peter Ouwens, director of the Zoological Museum at Bogor, Java, published a paper on the dinosourus is after receiving the photo and skin from the lieutenant van Steyn van Hensbroek, as well as two other specimens from a collector.

Sumber: Dudi Jaya

Label: , , ,

Wisata Sumenep

Tandus dan panas. Sepertinya itulah kesan pertama yang didapat para pelancong, begitu mendengar nama Pulau Madura disebut. Anggapan ini berlaku terutama bagi warga luar daerah yang belum pernah datang ke sana. Madura memang gambaran masyarakat bertemperamen keras, memiliki budaya karapan sapi dan carok . Tipologi tanah tandus dan udara panas itu, kian mengesankan Madura sebagai pulau yang tak punya pepohonan hijau dan panorama alam yang elok dipandang mata.

Oleh Mustika Maduratna

Anggapan tersebut tidak seutuhnya benar. Pulau terbesar di Provinsi Jawa Timur ini memang tandus dan panas. Namun, ini tak berarti Pulau Madura tidak memiliki potensi wisata yang mempesona. Bila tak percaya, datanglah ke daerah paling timur ”Pulau Garam”, tepatnya Kabupaten Sumenep. Daerah ini memiliki ragam objek wisata, khususnyai pantai dan kepulauan nan indah.Dan yang menjadi primadona wisata Sumenep adalah Pulau-pulau kecil bak untaian mutiara, merekat Indonesia menjadi negara kepulauan nan indah.

Deretan pulau di timur Pulau Madura bak gadis berbanjar menari ini disebut Kepulauan Kangean. Julukan tersebut karena barisan pulau yang paling besar adalah Kangean. Selain itu masih ada lagi Pulau Sapudi, Raas, Puteran, Genteng, Gili Iyang, dan Pulau Raja. Pemerintah Kabupaten Sumenep menyebut kawasan kepulauan tersebut sebagai objek wisata Island Resort.

Objek wisata itu menawarkan birunya laut yang jernih, lekuk pantai dan terumbu karang yang sudah mati menjadi batuan, serta kesunyian yang menenangkan. Semua itu bisa dinikmati dengan biaya relatif murah. Menjelajah kepulauan tersebut tidaklah sulit. Karena puluhan kapal angkutan penumpang bisa mengantarkan kaum pelancong ke sana setiap saat. Kapal dan perahu itu bisa kita dapatkan di Pelabuhan Kalianget. Namun, jika pelancong akan mendatangi banyak kepulauan di sana, mereka bisa menyewa kapal sendiri.


Dari Pelabuhan Kalianget, pulau-pulau yang menjadi tujuan kaum wistawan itu hanya cukup ditempuh empat jam pergi-pulang. Pada umumnya para pelancong tidak hanya sekadar menginjakkan kaki semata di pulau-pulau tersebut. Mereka acap melihat geliat warga kepulauan, panorama alam, dan mencari buah tangan. Yang unik dan menarik, buah tangan dari Pulau Kangean misalnya, adalah ayam bekisar dan ukiran kayu jati.

Ayam bekisar adalah hasil penyilangan antara ayam hutan (jantan) dan ayam kampung (betina). Jenis hasil penyilangan memiliki keturunan yang menarik. Tubuhnya lebih besar dari ukuran ayam kampung dan warna kulit hitam kebiru-biruan, malah kadang kemerah-merahan. Di bulu pada lehernya terdapat lurik warna hijau berpadu kekuning-kuningan. Eksotik.

Keelokannya fauna inilah yang kemudian mendorongnya ditetapkan sebagai maskot Pemerintah Provinsi Jatim. ”Biasanya pelancong suka datang di Kangean membawa oleh-oleh ayam bekisar,” masih papar petugas pelabuhan. Namun mereka lebih banyak menikmati panorama alam pulau-pulau tersebut.

Di Taman Laut Pulau Mamburit, pelancong bisa menikmati taman laut yang beragam dan masih asli. Di tempat ini, wisatawan yang berhobi menyelam bisa sepuasnya menikmati dasar laut. Dengan dukungan angin yang cukup kuat dari kisaran Laut Jawa, pantai ini secara kontinyu dipergunakan wind surfing berskala nasional maupun internasional.

Panorama serupa juga terdapat di Taman Laut Pulau Gililabak. Pulau Gililabak terletak di sebelah tenggara Pelabuhan Kalianget, di antara Pulau Giligenting dan Pulau Puteran. Perjalanan menuju pulau ini bisa ditempuh sekitar satu jam, dengan memakai perahu motor melewati sela-sela bagan penangkapan ikan. Taman laut ini juga acap dijadikan ajang olahraga bahari, selam dasar (snorkling/diving) dan selam profesional (scuba diving).

Berwisata di Sumenep tentu tidak bisa ditempuh hanya sehari. Sebab pelancong harus menyusuri laut menuju deretan kepulauan ini. Setelah lelah naik kapal menyusuri kepulauan, pelancong bisa beristirahat di sejumlah penginapan dan hotel di Kota Sumenep. Kemudian bisa melanjutkan menikmati wisata darat, yakni Masjid Agung, Keraton (keduanya berada dalam kota), situs Asta Tinggi, Pantai Slopeng, dan Pantai Lombang.

Khusus untuk objek wisata pantai, selama ini yang acap didatangi pelancong adalah Pantai Lombang. Pantai ini terletak di Desa Lombang, Kecamatan Batang-batang, sekitar 30 kilometer arah selatan Kota Sumenep. Di sepanjang perjalanan dari Sumenep menuju Lombang, mata pelancong akan disapa oleh gugusan gunung kapur dan tanah merah yang tandus.

Di hari libur objek wisata ini didatangi banyak pengunjung. Ia memiliki hamparan pasir putih sepanjang 12 kilometer. Pada pinggiran hamparan pasir berhiaskan tumbuhan pohon ”cemara udang” sebagai tanaman yang hanya ada di Indonesia dan Cina, sehingga membuat teduh dan nyaman pantai itu. Semua objek wisata di Sumenep ini terbilang masih alami. Belum mendapat sentuhan secara optimal sebagai tempat wisata.

Sumber: Mustika Maduratna

Label: , ,

Ta-bhutaan, Ondel-ondel Khas Jember

Foto: zonaberita/hei
Beberapa ondel-ondel khas Jember sebelum tampil.

SIAPA bilang Ondel-ondel cuma milik Betawi. Di Jember kesenian ini juga sudah lama berkembang, khususnya di Desa Kamal, Kecamatan Arjasa. Bahkan Ondel-ondel yang dikenal dengan Ta-bhutaan atau Buto-butoan diklaim sebagai kesenian asli Jember yang berbeda filosofinya dengan yang ada di daerah lain.

Ondel-ondel yang menggambarkan wajah buto (raksasa berwajah menakutkan) ini tampil memukau saat menyambut Bupati Jember MZA Djalal dalam acara Bedah Potensi Desa di Desa Biting, Kecamatan Arjasa, Rabu (24/3). Bukan hanya musiknya yang khas dengan bunyi-bunyian khas etnis Madura, ondel-ondel itu berjalan berkeliling sambil bergoyang ngebor gaya Inul.

“Kesenian Ta-bhutaan ini adalah salah satu kekayaan budaya khas Jember yang akan terus kita bina dan kembangkan disamping kesenian lain seperti musik patrol dan Can-macanan Kadhuk yang mulai punah,” kata Thomas MS, Sekretaris Dewan Kesenian Jember kepada www.zonaberita.com

Menurut ketua seni budaya Ta-bhutaan, Andiyanto, seni budaya ondel ondel Ta-bhutaan merupakan kesenian asli Kabupaten Jember terutama wilayah utara. Kesenian ini masih banyak digunakan oleh masyarakat Desa Kamal sebagai salah satu sajian dalam acara-acara selamatan desa, dan bersih desa atau ruwatan. Andiyanto juga menjelaskan kesenian ini merupakan ajaran dari leluhur desa Kamal, yang diyakini masyarkat setempat mampu menghalau musibah yang akan melanda desa, misalnya gagal panen maupun penyebaran wabah penyakit.

“Semula kesenian ini hanya dikenal di wilayah Jember Utara, tetapi akhir-akhir ini mulai dikenal lebih luas. Kami juga pernah tampil di acara Jember Fashion Carnaval (JFC) serta di daerah lain seperti Banyuwangi. Mudah-mudahan ada perhatian dari pemkab agar kami bisa melestarikan kesenian ini,” katanya.

Kepala Desa Kamal, Kusnad mengatakan kesenian Ta-bhutaan merupakan warisan budaya sama halnya dengan kesenian-kesenian lain seperti ludruk suroboyoan, gandrung banyuwangi, dan can-macanan kadhuk yang juga milik khas masyarakat Jember. “Kami bertekad terus melestarikan agar tidak tergilas kesenian impor karena ini warisan leluhur,” katanya.(hei/ijo)

Sumber: Rabu, zonaberita, 24 Maret 2010

Label: , , , ,

Candi Sukuh

KOMPAS/ARDUS M SAWEGA
Relief lingga dan yoni yang digambarkan secara realis kita temukan pada lantai gerbang saat memasuki pelataran Candi Sukuh di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.


Sir Thomas Stamford Raffles dalam proyek penulisan The History of Java memerintahkan sebuah tim yang dipimpin Residen Johson di Surakarta untuk melakukan pencarian dan pendataan candi-candi yang ada di Jawa.

Candi menurut Raffles merupakan bukti dan tonggak perjalanan peradaban Jawa. Candi menyimpan misteri masa lalu dan jejak-jejak untuk bayangan masa depan.

Oleh: Rohadi Budi Widyatmoko

Pencarian itu mencatat bahwa Candi Sukuh di Jawa Tengah kemungkinan didirikan pada akhir masa kekuasaan Majapahit. Pencatatan ini berasal dari penafsiran terhadap relief candi, gapuro bhuto anguntal jalmo (raksasa memangsa manusia). Dalam tafsir candra sengkala menurut kalender Jawa ditemukan angka 1359 berdasarkan tahun Saka atau 1437 dalam kalender Masehi.

WF Stutterheim (1930) dalam penelitiannya mengenai Candi Sukuh mencatat tiga argumen terkait kebersahajaan arsitektur dan relief dibandingkan dengan candi-candi lain. Pertama, pemahat candi mungkin bukan seorang ahli yang berasal dari pedesaan. Kedua, candi dibangun secara tergesa-gesa untuk dijadikan tempat pemujaan. Ketiga, candi dibangun saat kondisi ekonomi dan politik Majapahit menjelang keruntuhan sehingga tidak mungkin mendirikan candi yang sempurna dan monumental.

Keterangan hampir sama disampaikan R Soetarno (Aneka Candi Kuno di Indonesia, 1986: 114) bahwa Candi Sukuh mungkin merupakan hasil seni orang-orang terpencil dan bukan ahli. Relief-relief di Candi Sukuh tampak wagu dan sederhana, tetapi mengandung misteri yang belum bisa diungkapkan secara sempurna sampai saat ini.

Seksualitas Sukuh

Candi Sukuh memiliki keunikan. Patung-patung dan relief di Candi Sukuh menunjukkan hal-hal terkait dengan seksualitas. Para peneliti menganggap seksualitas mengandung misteri dalam ajaran hidup manusia Jawa, mencakup pemaknaan kehidupan lahir dan batin. Seksualitas mengajarkan pada manusia tentang asal-usul dan akhir kehidupan (sangkan paraning dumadi), pemujaan terhadap kekuasaan adikodrati, dan introspeksi diri. Seksualitas Candi Sukuh erat dengan simbolisme dan mistikisme.

Lingga dan yoni merupakan simbol maskulinitas dan feminitas. Seksualitas dalam simbol lingga dan yoni mencerminkan dunia ide dan realitas kehidupan manusia. Simbol-simbol seks di Candi Sukuh tersebut bukan merupakan bukti bahwa seksualitas itu puncak pemujaan hidup secara duniawi. Simbolisme dan mistisisme dalam seksualitas Jawa selalu mengarah pada spiritualitas atau filsafat.

Seksualitas di Candi Sukuh dapat ditelusuri dari ajaran dan mitos dalam pengaruh Hindu. Cliford Bishop (Seks dan Spiritualitas, 2006: 55-58) mengatakan, gagasan Hindu yang menghubungkan dewa dan seksualitas memiliki sejarah panjang mulai dari peradaban Indus yang mencapai puncaknya pada 2000 SM (Sebelum Masehi). Jejak-jejak itu tampak pada dewa berwajah tiga dan ithypallic yang dikenal sebagai proto-Shiwa.

Kidung Sudamala

Jejak-jejak seks dan spiritualitas di Candi Sukuh terungkap dalam simbolisme dan mistisisme kidung Sudamala yang ada di relief. Petikan kisah dalam kidung Sudamala ini menunjukkan bagaimana seks menentukan derajat dan harkat hidup manusia.

Kidung Sudamala oleh masyarakat Jawa dijadikan sebagai rujukan untuk tradisi ruwatan (menghapuskan kutukan atau kemalangan). Ruwatan itu diperuntukkan bagi bocah sukerta (anak kotor atau ternoda). Ruwatan dengan mengambil kidung Sudamala dalam pertunjukan wayang kulit, diartikan Sri Mulyono (Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang, 1979: 50) memiliki tujuan untuk ngluwari ujar (menepati janji), menghilangkan penyakit atau mala, dan menghindarkan segala mala yang akan menimpa.

Ruwat para pejabat

Spiritualitas di Candi Sukuh itu dapat menjadi salah satu jejak sejarah bangsa ini memahami kehidupan manusia. Candi Sukuh yang berada di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah, telah memberi bukti bahwa seks itu merasuk dalam kehidupan dengan semangat spiritualitas dan tidak diintervensi oleh kepentingan politis, apalagi semacam Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi.

Undang-undang semacam itu mungkin ingin jadi dasar untuk meruwat manusia-manusia yang dikriteriakan sebagai pelanggar dengan definisi-definisi seks berdasarkan tendensi dan kepentingan tertentu. Namun, tampaknya ruwatan itu mestinya lebih cocok dilakukan untuk orang-orang dalam parlemen atau para pejabat yang merusak moral masyarakat dengan perilakunya. Mereka perlu diruwat dengan upacara pengadilan dan hukuman dengan kidung tersendiri, ”kidung korupsi” atau ”kidung demokrasi”.

Menziarahi Candi Sukuh seperi menziarahi manusia dalam petualangan ruang dan waktu. Candi yang ingin menggapai langit tersebut membuat orang insaf bahwa masa lalu itu menyuarakan pesan-pesan kehidupan yang masih relevan untuk kehidupan saat ini dan esok hari.

Sebuah ziarah kecandian, mungkin akan membantu siapa saja yang terganggu dengan kerapuhan itu untuk mendapatkan jawabannya.

Rohadi Budi Widyatmoko, Mahasiswa Jurusan Sastra Daerah Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo, Aktivis di Komunitas Cething Ombo

Sumber: Kompas, Sabtu, 21 Februari 2009

Label: , , , , , ,

Safari Bubur Tradisional

Tiga jenis bubur tradisional berikut rasanya bikin kangen. Manis, legit, kenyal, dan gurih saat bertemu di mulut. Bubur Madura, bubur ketan hitam, dan bubur kacang hijau ini mudah dijumpai di mana saja. Pun di Surabaya. Ketiga jenis makanan tradisional ini mampu bertahan di antara terjangan menu jajanan modern lainnya.

Bubur Madura

Jika kangen bubur Madura, bisa mengunjungi sisi Timur Pasar Atom tepat pukul 14.00 WIB. Berjajar bug (panggilan khas Madura bagi perempuan dewasa) berjualan bubur Madura gendongan.

Beragam kendi kecil berisi bubur sum-sum, bubur mutiara, bubur ketan hitam, dan bubur candil (jenang grendul). Campuran bubur manis tersebut biasanya disajikan dengan santan kental dan kicir gula jawa cair (kinca). Rasanya jadi manis, gurih, dan jenang grendulnya legit di mulut.

“Santan ini dicampur dengan sedikit tepung beras, biar kental,” ujar Pijah, 40, salah seorang buk yang sudah berjualan bubur Madura sejak 1981 di Pasar Atom. Bubur Madura ini disajikan dalam pincuk, untuk makan memakai suruh (sendok daun pisang). Satu porsi harganya Rp 4.000.

Menemani bubur Madura, dijual pula jajanan pasar. Seperti lupis, ketan putih, klanting, jongkong, talam, tiwul, dan biji salak. Jenis jajanan itu ditata di atas pincuk lalu ditaburi parutan kelapa dan gula Jawa kental. Jika ingin rasa pedas, bisa mengganti gula Jawa dengan bumbu manggul (santan kental dicampur cabai).

Bubur Kacang Hijau

Paling mudah dicari adalah penjual bubur kacang hijau. Hampir semua pojok Surabaya terdapat jenis makanan ini. Biji kacang hijau direbus hingga lunak sembari ditambah gula. Hasilnya bubur kacang hijau yang kental dan manis.

Harga jual di warung berkisar antara Rp 3.000-4.000. Sedangkan bubur kacang hijau yang dijual di depot atau rumah makan harganya naik menjadi Rp 7.000.

Bubur kacang hijau yang gurih dan hangat bisa ditemui di kawasan Pasar Besar Surabaya. Tepatnya di depan karaoke Nav, Jl Pasar Besar Wetan. Abdul Fani, 55, sudah berjualan bubur kacang hijau di sana sejak 1974.

Biasanya bubur kacang hijau yang dijual disajikan bersama es serut dan ditaburi susu kental manis. “Tetapi bisa juga beli bubur kacang hijau tanpa es,” ucap Abdul Fani yang mulai buka warung pukul 19.00-24.00 WIB.

Pembeli bisa menikmatinya bersama lemper dan kacang goreng. Dibantu anak-anaknya, Abdul Fani memasak 10 kilogram lebih kacang hijau setiap hari. Ada juga artis ibukota asal Surabaya yang menjadi langganan tetapnya lho. “Iya, Tessy mampir di sini kalau pas di Surabaya,” ucap Abdul Fani.

Jika terlalu jauh tempatnya, bisa pula berburu bubur kacang hijau di perempatan Jl Barata Jaya, tepatnya di sebelah terminal Bratang. Penjualnya bernama Sukardi. Mulai buka warung pukul 17.00-24.30 WIB. Satu mangkuk dijual dengan harga Rp 3.000. Bagi yang ingin dingin tinggal ditambah es serut. “Sehari saya masak lima kilogram kacang hijau,” ungkapnya.

Bubur Ketan Hitam

Sejak sekolah dasar (SD), Sa’diyah, 48, membantu ibunya berjualan dawet di Pasar Blauran. Kadang orang tidak membeli dawet, tetapi bubur ketan hitam. Mulai 1984, Sa’diyah membuat dan menjual dawet sendiri. Bubur ketan hitam tetap saja dicari pembeli. Apalagi bubur ketan hitam buatan Sa’diyah lezat sekali.

Rasa khas ketan hitam tidak hilang dan lunak di mulut, tidak ada yang ngletis (masih keras saat dikunyah meski sudah direbus lama). “Pokoknya direndam lama. Saya sih hampir semalaman merendamnya,” ucap Sa’diyah.

Ketan hitam warna keungu-unguan ini dimakan bersama kuah santan yang sudah diberi garam sedikit. Satu porsi dijual Rp 4.000. Sama dengan dawet yang berisi bubur sum-sum, bubur mutiara, bubur ketan hitam, grendul, dan dawet hijau. Bongkahan es menambah segar bubur ketan hitam berkuah santan dan gula jawa cair ini. (marta nurfaidah)

[keluar]

Sumber: Surya, Minggu, 1 Maret 2009

Label: , , ,

Spiritualisme Candi Sukuh

KOMPAS/ARDUS M SAWEGA
Relief lingga dan yoni yang digambarkan secara realis kita temukan pada lantai gerbang saat memasuki pelataran Candi Sukuh di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.


Oleh: Rohadi Budi Widyatmoko

Sir Thomas Stamford Raffles dalam proyek penulisan The History of Java memerintahkan sebuah tim yang dipimpin Residen Johson di Surakarta untuk melakukan pencarian dan pendataan candi-candi yang ada di Jawa.

Candi menurut Raffles merupakan bukti dan tonggak perjalanan peradaban Jawa. Candi menyimpan misteri masa lalu dan jejak-jejak untuk bayangan masa depan.

Pencarian itu mencatat bahwa Candi Sukuh di Jawa Tengah kemungkinan didirikan pada akhir masa kekuasaan Majapahit. Pencatatan ini berasal dari penafsiran terhadap relief candi, gapuro bhuto anguntal jalmo (raksasa memangsa manusia). Dalam tafsir candra sengkala menurut kalender Jawa ditemukan angka 1359 berdasarkan tahun Saka atau 1437 dalam kalender Masehi.

WF Stutterheim (1930) dalam penelitiannya mengenai Candi Sukuh mencatat tiga argumen terkait kebersahajaan arsitektur dan relief dibandingkan dengan candi-candi lain. Pertama, pemahat candi mungkin bukan seorang ahli yang berasal dari pedesaan. Kedua, candi dibangun secara tergesa-gesa untuk dijadikan tempat pemujaan. Ketiga, candi dibangun saat kondisi ekonomi dan politik Majapahit menjelang keruntuhan sehingga tidak mungkin mendirikan candi yang sempurna dan monumental.

Keterangan hampir sama disampaikan R Soetarno (Aneka Candi Kuno di Indonesia, 1986: 114) bahwa Candi Sukuh mungkin merupakan hasil seni orang-orang terpencil dan bukan ahli. Relief-relief di Candi Sukuh tampak wagu dan sederhana, tetapi mengandung misteri yang belum bisa diungkapkan secara sempurna sampai saat ini.

Seksualitas Sukuh

Candi Sukuh memiliki keunikan. Patung-patung dan relief di Candi Sukuh menunjukkan hal-hal terkait dengan seksualitas. Para peneliti menganggap seksualitas mengandung misteri dalam ajaran hidup manusia Jawa, mencakup pemaknaan kehidupan lahir dan batin. Seksualitas mengajarkan pada manusia tentang asal-usul dan akhir kehidupan (sangkan paraning dumadi), pemujaan terhadap kekuasaan adikodrati, dan introspeksi diri. Seksualitas Candi Sukuh erat dengan simbolisme dan mistikisme.

Lingga dan yoni merupakan simbol maskulinitas dan feminitas. Seksualitas dalam simbol lingga dan yoni mencerminkan dunia ide dan realitas kehidupan manusia. Simbol-simbol seks di Candi Sukuh tersebut bukan merupakan bukti bahwa seksualitas itu puncak pemujaan hidup secara duniawi. Simbolisme dan mistisisme dalam seksualitas Jawa selalu mengarah pada spiritualitas atau filsafat.

Seksualitas di Candi Sukuh dapat ditelusuri dari ajaran dan mitos dalam pengaruh Hindu. Cliford Bishop (Seks dan Spiritualitas, 2006: 55-58) mengatakan, gagasan Hindu yang menghubungkan dewa dan seksualitas memiliki sejarah panjang mulai dari peradaban Indus yang mencapai puncaknya pada 2000 SM (Sebelum Masehi). Jejak-jejak itu tampak pada dewa berwajah tiga dan ithypallic yang dikenal sebagai proto-Shiwa.

Kidung Sudamala

Jejak-jejak seks dan spiritualitas di Candi Sukuh terungkap dalam simbolisme dan mistisisme kidung Sudamala yang ada di relief. Petikan kisah dalam kidung Sudamala ini menunjukkan bagaimana seks menentukan derajat dan harkat hidup manusia.

Kidung Sudamala oleh masyarakat Jawa dijadikan sebagai rujukan untuk tradisi ruwatan (menghapuskan kutukan atau kemalangan). Ruwatan itu diperuntukkan bagi bocah sukerta (anak kotor atau ternoda). Ruwatan dengan mengambil kidung Sudamala dalam pertunjukan wayang kulit, diartikan Sri Mulyono (Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang, 1979: 50) memiliki tujuan untuk ngluwari ujar (menepati janji), menghilangkan penyakit atau mala, dan menghindarkan segala mala yang akan menimpa.

Ruwat para pejabat

Spiritualitas di Candi Sukuh itu dapat menjadi salah satu jejak sejarah bangsa ini memahami kehidupan manusia. Candi Sukuh yang berada di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah, telah memberi bukti bahwa seks itu merasuk dalam kehidupan dengan semangat spiritualitas dan tidak diintervensi oleh kepentingan politis, apalagi semacam Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi.

Undang-undang semacam itu mungkin ingin jadi dasar untuk meruwat manusia-manusia yang dikriteriakan sebagai pelanggar dengan definisi-definisi seks berdasarkan tendensi dan kepentingan tertentu. Namun, tampaknya ruwatan itu mestinya lebih cocok dilakukan untuk orang-orang dalam parlemen atau para pejabat yang merusak moral masyarakat dengan perilakunya. Mereka perlu diruwat dengan upacara pengadilan dan hukuman dengan kidung tersendiri, ”kidung korupsi” atau ”kidung demokrasi”.

Menziarahi Candi Sukuh seperi menziarahi manusia dalam petualangan ruang dan waktu. Candi yang ingin menggapai langit tersebut membuat orang insaf bahwa masa lalu itu menyuarakan pesan-pesan kehidupan yang masih relevan untuk kehidupan saat ini dan esok hari.

Sebuah ziarah kecandian, mungkin akan membantu siapa saja yang terganggu dengan kerapuhan itu untuk mendapatkan jawabannya.

Rohadi Budi Widyatmoko, Mahasiswa Jurusan Sastra Daerah Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo; Aktivis di Komunitas Cething Ombo

Sumber: Kompas, Sabtu, 21 Februari 2009

Label: , , ,