Menjadi Kaya dengan Sedekah







Semua berawal dari perkataan teman tentang sedekah. Dia bercerita tentang Ustad Yusuf Mansur yang menganjurkan sedekah untuk mendapatkan tujuan kita. Dalam kondisinya, dia ingin segera menikahi tambatan hatinya namun kekurangan biaya. Ia pun mulai bersedekah berdasarkan jumlah nominal uang yang ia perlukan untuk membuat resepsi pernikahan nanti.

Karena penasaran dengan Ustad Yusuf Mansur yang telah membuat teman saya sangat terinspirasi itu, saya pun segera mencari informasi tentang Ustad Yusuf Mansur. Ternyata saya menemukan film ‘Kun FayaKuun‘ yang dibuat oleh Ustad Yusuf Mansur. Film ini bercerita tentang kehidupan seorang tukang kaca yang jauh dari mencukupi, namun tukang kaca itu tidak berputus asa dari rahmat Allah dan ia tetap bersedekah meskipun kekurangan.

Film ini sangat menginspirasi saya sehingga malam itu juga saya memutuskan besok pagi saya akan naik bis ke kantor agar bisa membeli banyak barang yang ditawarkan ke saya di dalam bis dengan maksud sedekah. Alhamdulillah, baru saja berniat seperti itu, besok paginya saya diajak meeting mendadak oleh seseorang dan dari pembicaraan kami telah lahir sebuah peluang yang nilainya ratusan kali lipat dari jumlah yang saya niatkan untuk sedekah. Subhanallah, baru niat saja sudah seperti itu! Saya pikir ini kebetulan, tapi waktu mendengarkan testimoni ibu ini di YouTube, saya yakin ini bukan sekedar kebetulan.

Saya semakin penasaran dan membeli buku dengan judul ‘The Miracle of Giving, Keajaiban Sedekah‘ yang ditulis oleh Ustad Yusuf Mansur sendiri. Di dalam buku itu, disebutkan dalam Al-Qur’an Surat 6:160, Allah menjanjikan balasan 10x lipat bagi mereka yang mau berbuat baik. Bahkan di dalam Al-Qur’an Surat: 2: 261, Allah menjanjikan balasan sampai 700 x lipat. Selama ini terus terang saya nggak menyadarinya. Insya Allah sedekah terus saya lakukan, tapi saya nggak pernah ‘menghitung’ dan mengharapkan apa yang akan saya dapatkan nanti dari Allah. Saya tidak menghubung-hubungkan rejeki yang saya terima dengan sedekah yang saya lakukan, padahal itu berkaitan erat!

Di dalam buku ini, Ustad Yusuf Mansur berkata, apa yang sudah kita ketahui ini akan menjadi ilmu buat kita. Sehingga jika kesusahan dalam hal finansial, nggak susah-susah minta tolong orang lain, tapi langsung minta tolong kepada Allah. Karena sadar dengan hal ini pun, saya jadi berusaha untuk sedekah dengan lebih baik dan terencana.

Beberapa tips menjadi kaya dari masukan Ustad Yusuf Mansur:

Shalat Dhuha 4 rakaat (dilaksanakan dalam 2 rakaat – 2 rakaat) dapat membuka pintu rizqi
Meminta pada Allah saat Shalat Tahajjud
Memelihara dan memberi makan anak yatim
Sedekah 10% dari penghasilan, karena 2,5% saja tidak cukup
Sedekah 10% dari jumlah yang diinginkan. Dengan konsep ini, jika kita ingin membeli rumah seharga Rp 100 juta, maka kita harus bersedekah sekitar Rp 10 juta terlebih dahulu. Karena beginilah matematika sedekah menurut Ustad Yusuf Mansur
10 – 1 = 19

Dalam matematika biasa memang 10 – 1 adalah 9. Namun karena Allah menjanjikan balasan 10x lipat, maka minimal kita akan mendapatkan 19. Jika perhitungan dilanjutkan maka akan seperti ini:

10 – 2= 28
10 – 3= 37
10 – 4= 46
10 – 5= 55
10 – 6= 64
10 – 7= 73
10 – 8= 82
10 – 9= 91
10 – 10= 100

Jadi sekarang agak ‘masuk akal’ kan jika ingin beli rumah Rp 100 juta maka harus bersedekah Rp 10 juta dulu

Tambahan dari saya mungkin bisa dicoba. Saya selama ini bersedekah untuk sesuatu yang sifatnya dapat berlipat ganda. Misalnya, sedekah untuk pendidikan anak, sedekah untuk alat ibadah, dll, yang kemungkinan pahalanya dapat saya bawa hingga mati (karena terus mengalir).
Last but not least, kadang-kadang untuk bisa percaya, kita perlu membuktikan. Mungkin dari pengalaman sendiri sudah banyak, tapi karena nggak perhatian akhirnya kita lupa. Silahkan baca pengalaman-pengalaman orang lain yang bersedekah dan merasakan manfaatnya di situs Wisata Hati milik Ustad Yusuf Mansur. Selamat bersedekah!

UPDATE:


Pagi ini gue praktekin ilmu sedekah-nya di bis, dengan membeli barang-barang yang tidak terlalu gue butuhkan plus menyantuni pengamen dan peminta-minta yang terlihat memang tidak capable menolong dirinya sendiri. Di sini gue ikhlas dan menghilangkan buruk sangka seperti, “Dapet berapa tu orang sehari, jangan-jangan lebih kaya dari gue!”.

Kalau dihitung berarti hari ini ‘invest’ Rp 50.000 di dalam bis. Kemudian pas sampai kantor, ngambil dokumen adek gue di lantai 1, ternyata masi disuruh bayar Rp 400.000-an lagi dan karena mereka nggak punya mesinnya gue disuruh ambil ATM dulu aja di depan. Meskipun bawaan gue banyak banget dari di bis sampe kantor gue coba tahan nggak ngedumel. Ternyata setelah gue ambil duit gue seperti nggak berkurang malah bertambah. Langsung deg-degan.

Sampai kantor langsung cek Klik BCA and ada transferan senilai 20x investasi gue tadi pagi dari arah yang tidak disangka-sangka. Jadi teman-teman, ilmu baru ini terbukti dan teruji, jangan ragu lagi!

Ps: Semua barang itu tidak akan menjadi mubazir, karena akan di-donate pada yang benar-benar membutuhkan
Pss: Semua yang disampaikan tidak untuk bermaksud Riya’

Sumber: Ollie's Blog, 09 November 2008

Label: , , ,

Belajar dari ‘Doktrin’ Mario Teguh

Kondisi masyarakat kita berbeda dengan kondisi sosial di negara Timur Tengah. Konsep dan metode dogma yang diterapkan Mario Teguh di sini jelas tidak akan bisa diterima sosial di sana.

SEBUAH dogma motivasi dan ’siraman rohani’ (pengajian) yang dikemas dalam sebuah acara televisi “Mario Teguh, Golden Way” yang berusia setahun (2/8/2009), menyuguhkan dan menyajikan konsep modern serta matode inovatif yang dapat diterima segala lapisan masyarakat dari berbagai daerah, suku dan agama yang berbeda.

Mario Teguh adalah sosok ‘ustad’ atau ‘rohaniwan’ atau ‘motivator ulung’ di balik sukses pengajian “Golden Way”, yang memang terkesan borjuis, eksklusif dan prestisius. Filosofi dogmanya ada di balik permainan apik dalam mengolah kata-kata.

Kalimat yang diucapkan sederhana, jelas, tegas, lugas dan mudah dicerna siapapun yang mengikuti secara seksama acara mau’idzoh hasanah (ceramah dogma) ini, yang tidak pernah menyertakan sumber nukilan (referensi) dari sebuah kitab suci atau literatur keagamaan.

Mario Teguh menjadikan para ‘fans religiusnya’ atau ‘fans dogmatisnya’ terus menerus dalam kondisi penasaran tentang siapa hakikat dirinya yang sebenarnya. Hingga kini, penulis terus bertanya-tanya tentang sosok Mario Teguh. Apakah dia ustadz yang beragama Islam? Atau rohaniwan yang beragama Kristen? Atau, dia seorang suhu yang beragama Hindu atau Buddha?

Fenomena inilah yang menjadikan acara “Mario Teguh Golden Ways” ‘pengajiannya’ selalu menyedot perhatian kaum intelektual yang strata sosialnya multidimensi.

Ada statemen menarik dari Mario Teguh. “Kalau saya menukil ayat dari sebuah kitab suci (apapun), maka Anda tidak berhak mendebat ayat tersebut. Padahal, saya menghendaki adanya perdebatan (tanggapan) dari Anda semua. Saya manusia, maka sayapun berbuat salah.”

Metode diskusi yang diterapkannya telah mengubah suasana audensi menjadi lebih hidup dan bergairah, meski tema pembahasan yang diangkatnya tidak melulu aktual. Sebagaimana tema pada (9/8/2009) adalah “Wanita, Tahta dan Harta”; padahal, kejadian yang sedang memanas adalah “Memburu Noordin M Top”.

Apapun pembahasan yang disuguhkannya selalu memberikan opini dan nuansa baru yang bertentangan dengan kultur (adat) sosial yang selama ini diyakini sebagai disiplin ilmu yang valid. Sebagaimana dogma kultural yang mensinyalir bahwa wanita adalah faktor penghalang dan perusak karier Bani Adam (laki-laki).

Bagi Mario Teguh, justru ‘magnet’ wanitalah yang dapat menjadikan kaum laki-laki lebih dewasa dan bertanggung jawab. Bahkan, daya tarik wanitalah yang sering kali mengubah nasib dan karier seseorang menjadi lebih baik. Percayalah !

Kemampuan Menalar
Menggeluti profesi sebagai ustadz, rohaniwan, motivator atau orator podium harus menguasai materi menarik, memiliki retorika (ilmu berpidato) yang mumpuni, menguasai keadaan audiens, memiliki kemampuan (skill) menalar dan siap membuka diri dengan lapang dada ketika ada sanggahan atau kritikan yang tajam.

Pengajian keagamaan selama ini menyuguhkan materi-materi klasik yang kurang menarik, retorika yang membosankan, dogma-dogma religius ‘paten’ yang punya kesan tidak boleh disanggah atau didebat. Kemampuan menalar dari sejumlah pengasuh pengajian dalam menjawab berbagai pertanyaan forum terkesan ‘cekak’ (pas-pasan) dan tak kena sasaran atau jauh dari kata memuaskan.

Konsep mendasarnya ada pada kemampuan menalar dari materi bahasan yang diangkat. Mario Teguh, misalnya memiliki kemampuan menalar mumpuni yang belum dimiliki siapapun yang memimpin suatu majelis taklim, forum diskusi atau forum organisasi sosial-keagamaan.

Padahal, dalam asas dasar agama apapun, hanya pembahasan yang menyangkut masalah akidah (iman) dan ibadah saja yang tidak boleh menggunakan logika akal (nalar). Selain itu, justru sering terjadi diferensiasi (perbedaan) yang tajam mengenai mukamalat (tatanan) kehidupan sehari-hari yang merujuk pada penggunaan logika akal sehat kaum cendekiawan.

Meski bobot dan kualitas ilmu agamawan bersumber dari literatur dan pijakan kitab yang sama, namun nalar dan cara pandang masing-masing seharusnya difokuskan pada peningkatan gairah belajar dan semangat menuntut ilmu dari para audiensnya. Fakta riilnya, antusiasme masyarakat dalam belajar dan menuntut ilmu dari sebuah pengajian misalnya, hanya terjadi pada awal-awal pertemuan saja.

Selanjutnya, acara pengajian semakin hari semakin sepi dan tidak ada gairah lagi. Ironis bukan?
Acara “Mario Teguh, Golden Ways” meski bukan acara pengajian agama, tapi telah memberikan wacana dan nuansa pemikiran baru yang mengetuk hati para pengasuh pengajian agar lebih membuka diri dalam menalar suatu problem dan berkenan lapang dada dalam menerima kritik atau saran dari setiap audiens.

Bukanlah forum siraman rohani yang baik bila pengikutnya (santri) selalu datang dan pergi silih berganti. Siapapun yang berprofesi sebagai pembimbing dalam sebuah forum pengajian harus memutar otak untuk membuat variasi pengajaran atau doktrinitasnya dengan nalar yang logis dan retorika yang funny agar mereka yang datang mendapatkan ilmu dan motivasi yang dapat memberikan semangat dalam menghadapi problematika kehidupan.

Kondisi masyarakat kita berbeda dengan kondisi sosial di negara Timur Tengah, semisal di Kuwait, Arab Saudi, Yordania atau di Iran. Konsep dan metode dogma yang diterapkan Mario Teguh di sini jelas tidak akan bisa diterima sosial di sana. Warga di sana memiliki jiwa pasif, yang hanya tunduk pada dogma religius yang difatwakan ulama dengan menyebut dalil-dalilnya yang valid dan yang tertera dalam kitab suci.

Adapun pendapat atau pandangan yang tidak menggunakan dasar dari sumber profetis (wahyu) harus diabaikan. Apalagi, jika sebuah pendapat bertentangan dengan tatanan yang telah digariskan, maka penyampaian gagasan itu dianggap bidah (hal baru) yang menyesatkan. Dainya dapat dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan menyebarkan hal-hal yang bidah dan menyesatkan umat. Padahal, hanya Tuhanlah yang mengetahui kebenaran sesungguhnya.

Sumber: Surya, Jumat, 21 Agustus 2009

Label: , , ,

Kaya Rasa, Kaya Makna

”Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam....”

Kemiskinan badan berjumpa kemiskinan batin, demikian seorang murid mendengar bisikan gurunya pada akhir meditasi.

Oleh Gede Prama

Rumah sakit yang seyogianya menjadi tempat penyembuhan, tidak saja mahal, malah mengirim pasiennya ke penjara. Sekolah yang dulu menggembirakan, kini pada saat ujian dijaga polisi, Bahkan, terjadi berbagai penangkapan, menakutkan.

Sekolah yang indah

Di banyak tempat, ditemukan home schooling. Anak-anak takut ke sekolah karena dipukuli teman, guru galak, pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya. Ini memberi inspirasi, saatnya merekonstruksi sekolah agar indah.

Di sebuah pelatihan sopir taksi pernah dilakukan latihan memberi yang menarik. Pada hari pertama peserta diminta membawa nasi bungkus karena tidak disediakan makan siang. Peserta berlomba membawa makanan yang enak. Ketika makan, peserta diminta meletakkan nasinya di kelas sebelah untuk dimakan peserta sebelah. Sementara yang bersangkutan memakan makanan yang dibawa orang lain.

Pada hari kedua juga diminta membawa nasi bungkus. Setelah tahu kalau nasi yang dibawa untuk kelas sebelah, banyak yang membawa nasi seadanya. Tidak sedikit hanya membawa nasi putih saja. Ternyata aturannya berubah, peserta harus memakan nasi yang dibawa sendiri.

Yang ingin diilustrasikan di sini, menyangkut perut sendiri betapa borosnya manusia memberi, bahkan banyak yang stroke. Namun terkait perut orang, betapa sedikit yang diberikan. Tiba-tiba para sopir tersentak, betapa egoisnya hidup. Ego inilah yang menciptakan penderitaan. Maka ada guru yang berpesan: ”Memberi, memberi, memberi. Lihat bagaimana hidupmu menjadi sejuk dan lembut setelah rajin memberi”.

Di sekolah guru boleh meniru pola pelatihan sopir itu, bisa juga mengajak anak didik ke panti asuhan, bermain bola bersama anak kampung. Intinya, menyadarkan pentingnya memberi.

Dalam bahasa manusia jenis ini, saat memberi sebenarnya orang tidak saja mengurangi beban pihak lain, tetapi juga sedang membangun potensi kebajikan dalam diri. Ini yang kelak memancarkan kebahagiaan.

Tiga tangga pemberian

Pemberian terdiri tiga tangga. Pertama, semua makhluk sama dengan kita: ”mau bahagia, tidak mau menderita”. Karena itu, jangan pernah menyakiti.

Kedua, para makhluk lebih penting. Nasi, udara, pekerjaan, semua yang memungkinkan hidup berputar, dihasilkan makhluk lain. Binatang bahkan terbunuh agar manusia bisa makan daging. Untuk itu, banyaklah menyayangi. Dari menanam pohon, melepas burung, menyayangi keluarga, bekerja jujur, tulus, sampai memberi beasiswa anak-anak miskin.

Ketiga, karena semua makhluk lebih penting, belajarlah memberi kebahagiaan, mengambil sebagian penderitaannya. Perhatikan doa Santo Fransiskus dari Asisi. Beri saya kesempatan menjadi budak perdamaian. Di mana ada kegelapan kemarahan, biar saya hadir membawa cahaya kasih. Di mana ada bara api kebencian, biar batin ini muncul membawakan air suci memaafkan. Mistikus sufi Kabir berkata, ”Nur terlihat hanya beberapa detik, tetapi ia mengubah seorang penyembah menjadi pelayan.”

Dalai Lama kerap menitikkan air mata saat membacakan doa ini, ”Semasih ada ruang, semasih ada makhluk. Izinkan saya terus terlahir ke tempat ini agar ada yang membantu semua makhluk keluar dari penderitaan.”

Penggalan lagu di awal tulisan mengingatkan, dengan mencangkul yang dalam, akar-akar pohon membantu batang, daun, bunga, dan buah bertumbuh. Kehidupan manusia juga serupa. Hanya pemberian yang memungkinkan seseorang ”mencangkul hidupnya” secara mendalam. Hasilnya, bunga kehidupan mekar: kaya rasa, kaya makna. Sampai di sini, guru berbisik: bahkan kematian pun bisa berwajah menawan.

Pertama, bagi yang terbiasa memberi (melepaskan), tidak lagi tersisa kelekatan yang membuat kematian menakutkan. Kematian menakutkan karena manusia belum terbiasa melepaskan.

Kedua, melalui kematian manusia melaksanakan kesempurnaan pemberian. Jangankan uang, tubuh pun diikhlaskan.

Tubuh menyatu dengan tanah, ikut menghidupi makhluk di bumi karena menghasilkan padi, sayur, buah. Unsur air bergabung dengan air agar makhluk tidak kehausan. Unsur api menyatu dengan api agar makhluk bisa memasak. Unsur udara bersatu dengan udara agar makhluk bisa bernapas. Unsur jiwa (ada yang menyebut kesadaran) menyatu dengan semua jiwa (kesadaran) agar semua makhluk teduh. Inilah kematian yang menawan. Melalui kematian manusia bukan kehilangan, malah memberikan.

Guru, semoga ada pemimpin yang tertarik mencangkul hidupnya secara mendalam. Lalu tersentuh untuk meringankan beban mereka yang kerap menangis oleh biaya sekolah, biaya berobat, biaya menemukan keadilan yang serba mahal.

Gede Prama, Penulis buku Simfoni di Dalam Diri: Mengolah Kemarahan Menjadi Keteduhan

Sumber: Kompas, Sabtu, 18 Juli 2009

Label: , , ,

Mengawali Sebelum yang Lain

Mal bukan lagi tempat belanja satu-satunya pada era teknologi informasi yang memberi kemudahan berbelanja di ujung jari.

Kini semakin banyak produk Indonesia ditawarkan online. Dua di antaranya adalah Simplight (simplight.net) yang dimiliki dan dikelola oleh Vilia Ciputra (26) dan De Pernics (www.pernics.multiply.com) milik Ade Siregar, ibu dua anak.

Toko virtual ini berawal dari kesukaan mereka berselancar di internet walau mereka sebelumnya mengawali usaha secara fisik. Ade yang lulusan sekolah perhotelan di Bali, ketika bekerja di perusahaan produksi sinetron (PH) di Jakarta, kerap menitipkan baju dan kain kepada suaminya yang juga bekerja di perusahaan PH.

”Karena suka ngobrol dengan teman-teman lewat internet, mereka mendorong saya bikin toko online,” kata Ade.

Awal pertama usaha Vilia adalah berjualan dari rumah ke rumah, lalu punya butik di rumah, kemudian toko di ITC Kuningan. Tahun 2000 ketika bisnis di internet mulai muncul di Indonesia, dia membuka toko online. Kini, usaha Vilia termasuk mapan, dilihat dari penataan etalase di layar, sistem pencarian (search of engine), maupun pemakaian situs khusus.

”Ke depan saya melihat perkembangan online akan lebih efektif dan efisien karena jauh lebih mudah menggapai pasar global. Saya juga bisa fokus mengurus proses toko dan produk,” kata Vilia, lulusan London School of Public Relations. Alasan lain, waktu kerja dan skala usaha lebih fleksibel serta bisa dikerjakan dari rumah.

Itu juga alasan Ade. ”Kerja kantoran menghabiskan banyak waktu dan penghasilannya sudah tertentu. Bisnis seperti ini waktunya bisa saya atur dan bisa saya kerjakan dari rumah,” papar Ade.

Kerja sama

Vilia menawarkan aksesori, seperti tas, dompet, dan perhiasan untuk anak perempuan dan perempuan dewasa serta pakaian. Selain produknya sendiri, dia juga menawarkan produk dari produsen lain, sebagian besar perempuan. ”Supaya lebih banyak perempuan maju dalam berbisnis,” kata Vilia.

Syaratnya, memakai 70 persen bahan lokal, terutama untuk bebatuan aksesori. Mereka dibuatkan telusuran (link) sendiri dan diberi tenggang sebulan untuk memajang produk. Bila hasil penjualan tidak bagus, si penjual boleh tetap memasang produknya dengan kompensasi biaya administrasi Rp 250.000 per bulan. Bila tak laku, jalur ditutup.

Karena pembeli hanya mengandalkan gambar produk yang dipasang di situs, maka menyediakan gambar secara detail sangat penting. Ade yang menjual produk sendiri berupa baju, kain, dan tas memastikan foto yang terpasang harus sama dengan aslinya.

Seperti juga Vilia, Ade membuat desain dan memiliki pegawai untuk memproduksi atau mensubkontrakkan ke perajin kain dan aksesori. Untuk kain, Ade bekerja sama dengan perajin di Pekalongan, sementara Vilia bekerja sama antara lain dengan perajin di Bali.

Vilia memberi garansi kepada pembeli untuk mengembalikan dalam tiga hari bila barang tidak cocok atau rusak serta jasa cuma-cuma perbaikan, perawatan, dan penggantian elemen produk yang sudah dibeli.

”Dengan layanan tambahan ini, pembeli tidak ragu berbelanja,” tutur Vilia. Sebaliknya, agar tidak tertipu pembeli fiktif, keduanya menerapkan sistem pembayaran di muka. Sejauh ini, bisnis mereka berjalan lancar dan pembeli pun ada yang dari Australia, Malaysia, hingga Jerman. (IND/NMP)

Sumber: Kompas, Minggu, 19 April 2009

Label: , ,

Menjalani Bisnis Masa Depan dari Rumah

Para pemasar di mana pun menghadapi persoalan besar saat ini dalam menjangkau konsumen, terutama orang muda. Miliaran dollar AS dikeluarkan untuk iklan, tetapi cara yang dianggap ampuh ternyata getok tular alias informasi yang disampaikan dari mulut ke mulut dan informasi itu dipercaya karena yang menyampaikan adalah teman atau kerabat.

Dalam era teknologi digital, informasi itu akan sampai lebih cepat karena internet memotong jarak waktu dan ruang. Bukan kebetulan bila Generasi Net (lahir Januari 1977-Desember 1997), bersamaan dengan lahirnya teknologi komputer, merupakan pengguna internet paling mahir dan menjadi pengunjung setia blog.

Data Fashionese Daily milik Hanifa Ambadar dan Affi Assegaf memperlihatkan, anggota situs mode dan kecantikan itu berusia rata-rata 20-35 tahun, 60 persen adalah profesional, 99 persen perempuan.

Dari sisi tersebut, internet memang memberi banyak peluang bisnis untuk usaha kecil dan menengah, seperti yang dilakoni Vilia Ciputra dengan Simplight.net, Ade Siregar dengan De Pernics, serta Affi dan Hanifa. Ketiganya mengatakan optimistis dengan masa depan bisnis secara online.

Untuk Vilia dan Ade memasarkan melalui toko online mereka, artinya jangkauan konsumen dapat global, sementara untuk Affi dan Hani, panggilan Hanifa, kecenderungan promosi saat ini yang menggunakan kekuatan getok tular membuat situs seperti milik mereka menarik bagi calon pemasang iklan.

Yang terpenting adalah memiliki nama menarik, tampilan enak dilihat dan mudah dibuka, serta memberi jalur ke situs-situs lain. Untuk ini memang diperlukan keterampilan seorang pemrogram komputer atau mencari bantuan dari tenaga profesional.

Kesulitan ini dirasakan Ade yang masih menggunakan situs gratis multiply.com. ”Tidak mudah mencari orang yang punya kemampuan teknis teknologi sekaligus juga kecintaan pada kain,” kata Ade.

Di sisi lain, Affi dan Hani merasa tumbuh kebutuhan mencari bantuan tenaga profesional untuk meyakinkan calon pemasang iklan bahwa blog dapat dikerjakan serius dan benar-benar mendatangkan pembeli bagi produk yang beriklan.

”Penetapan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional oleh Menteri Komunikasi dan Informatika mengangkat kredibilitas blog,” ujar Hani. Nyatanya, Departemen Pendidikan Nasional sudah memasang iklan di Fashionese Daily yang menunjukkan peran blog semakin dihargai.

Kendala lain adalah biaya pemakaian internet yang dirasa masih dapat diturunkan lagi seperti dijanjikan pemerintah.

Vilia mengatakan, untuk yang membuat sistem dan situs sendiri, biayanya bisa jadi tidak murah karena banyak jenis sistem yang harus diaplikasikan, seperti sistem pengecekan stok barang, basket, pencatatan auto update, sampai mesin pencari yang dibuat begitu rupa sehingga mudah dicari oleh peselancar internet.

”Keuntungannya, di mata pelanggan dan calon pembeli, situs yang dibuat sendiri tentu lebih profesional dan representatif dan bisa menjadi sarana menunjukkan bagaimana usaha di dalamnya berjalan,” kata Vilia.

Masa depan

Di luar berbagai kendala tersebut, Ade, Vilia, Affi dan Hani yakin online adalah bisnis masa depan dan menguntungkan dalam arti luas. Fleksibilitas waktu dan ruang ada di tangan mereka karena dapat bekerja dari rumah atau dari tempat lain sepanjang ada jaringan internet.

”Kami akan terus mengembangkan usaha ini karena ini memberi rasa berharga pada diri kami,” kata Hani.

”Saya selalu berpikir perempuan harus punya kemandirian tertentu, termasuk dalam penghasilan, untuk payung kalau hari hujan biarpun saya tidak ingin itu terjadi,” tambah Affi.

Selain itu, krisis ekonomi saat ini menyebabkan orang semakin berhemat dalam membelanjakan uangnya. Kalaupun mereka masih mau berbelanja, mereka ingin mendapatkan barang yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka. Getok tular dengan saling memberi rekomendasi kepada teman serta internet memungkinkan itu terjadi. (NMP)

Sumber: Kompas, Minggu, 19 April 2009

Label: , , ,

Guru Lawan Google

Oleh: R Arifin Nugroho

It is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change." (Charles Darwin)

Saat ini perkembangan ilmu pengetahuan telah menjadi pilar utama penyempurnaan hidup di muka bumi. Akibatnya, berbagai perubahan harus selalu terjadi setiap saat.

Sesuai pernyataan Charles Darwin, jika manusia tidak ingin mengalami kepunahan, mereka harus memiliki sifat adaptif. Dalam menjalankan proses adaptasi tersebut diperlukan efektivitas untuk merespons perubahan.

Akibat perilaku yang harus adaptif ini muncul teknologi komunikasi yang mampu melintasi sekat ruang dan waktu. Perubahan di dunia dapat diketahui lewat sebuah laptop hanya dalam hitungan detik.

Agen pendidikan

Salah satu teknologi canggih yang mampu memfasilitasi ilmu pengetahuan adalah Google. Google yang lahir dari pertemuan tidak sengaja antara Larry Page dan Sergey Brin pada tahun 1995 telah membalikkan sekat keterbatasan informasi.

Embrio search engine yang diberi nama BackRub, pada tanggal 7 September 1998 berkembang sempurna menjadi Google. Mesin pencari supercanggih ini dapat mencari sebuah istilah hanya dalam satuan detik yang tersaji dalam jutaan situs internet.

Di dunia pendidikan, search engine ini mampu mengubah jejaring pemikiran para pelaku pendidikan. Seorang siswa dapat searching seluas-luasnya untuk mengeksplorasi sebuah pengetahuan baru. Dari mencari arti kata, materi pelajaran, sampai teknologi yang terkini dapat digali dengan mudah.

Banjir informasi menjadi fenomena yang sangat indah untuk dinikmati. Pemahaman tentang sebuah materi pelajaran pun terolah dengan lebih baik. Siswa tidak lagi harus mengeluarkan banyak biaya untuk membeli berbagai judul buku. Cukup klik dan dapat!

Para pendidik juga tidak ketinggalan atas kehebatan teknologi mesin pencari ini. Dari pencarian silabus, soal ulangan, sampai artikel ilmiah terbaru dapat diakses dengan mudah. Transfer ilmu pengetahuan antara guru dan siswa dapat berjalan dengan efektif. Libido ilmu pengetahuan yang selama ini terkekang sekarang dapat tersalurkan dengan nyaman.

Lebih dari Google

Suatu saat pernah seorang guru menjadi merah padam di depan kelas akibat Google ini. Pagi itu seorang siswa sudah ”sarapan” dengan mengakses perkembangan teknologi terbaru melalui fasilitas Google.

Kebetulan, materi pelajaran hari itu berhubungan dengan teknologi terkini yang ia temukan. Singkat cerita, di dalam kelas, siswa mencobai gurunya dengan bertanya seputar teknologi terbaru itu. Guru yang tadi pagi hanya sarapan nasi dan tempe itu akhirnya menjawab sekenanya, dan ternyata salah. Ia pun tergagap di depan kelas karena ditertawakan para murid akibat kesalahan yang ia lakukan.

Sekelumit gambaran tadi menunjukkan pentingnya seorang guru untuk selalu meng-up grade diri. Siswa masuk kelas bukan lagi dengan tidak bermodal, tetapi telah penuh dengan fantasi dan eksplorasi ilmiahnya.

Melihat situasi ini, lantas masih perlukah peran seorang guru? Bukankah Google lebih hebat daripada guru?

Jika seorang guru diadu dengan Google dalam kecepatan mengartikan, jelas guru akan kalah telak. Lalu, bagaimana nasib seorang guru selanjutnya?

Perlu diingat bahwa seorang guru bukan hanya pengajar yang mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi sekaligus sebagai pendidik yang memanusiawikan manusia menjadi sempurna. Yesus Sang Isa Almasih pernah berkata, ”Jadilah kamu sempurna seperti Bapamu di surga sempurna adanya (Injil Matius 5:48)”.

Ilmu eling marang sangkan paraning dumadi (ingat akan tujuan kita diciptakan) menjadi bekal dasar seorang guru. Guru bukan sekadar pesaing dari Google sebagai alat mentransfer ilmu pengetahuan. Guru memiliki peran lebih untuk menyempurnakan kehidupan seorang pribadi agar serupa dengan Sang Khalik. Tidak hanya menjadikan siswa having, melainkan being.

Seperti dalam agama Hindu, guru bukan saja dinobatkan sebagai sang pembagi ilmu, tetapi sebagai tempat suci yang berisi ilmu (vidya). Hal ini semakin menguatkan peran guru yang sangat mulia.

Guru masih lebih unggul daripada Google karena guru mampu mengajarkan sisi humanis yang tidak dapat diberikan mesin pencari secanggih apa pun. Dalam kehidupan nyata tidak hanya diperlukan berlimpahnya ilmu pengetahuan dalam otak, tetapi juga sisi manusiawi agar bisa memanusiawikan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan memanusiawikan manusia saat berelasi dengan pribadi lain.

Bukan kebun binatang

Jika guru tetap sebatas mentransfer ilmu, sekolah tidak jauh berbeda dengan kebun binatang. Sebenarnya pendidikan bukanlah proses ”penjinakan”, tetapi ”peliaran”. Pendidikan kita seharusnya berusaha ”meliarkan”, memunculkan sifat manusiawi sebagai sifat dasar yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada makhluk yang diberi nama manusia.

Pendidikan bukanlah seperti kebun binatang dengan hiburan sirkus binatang di dalamnya. Di dalam kebun binatang terjadi proses domestikasi, yaitu membatasi kehidupan liar binatang. Akibatnya, sifat hewani tidak akan muncul dari dalam kebun binatang.

Jeruji, tembok pembatas, dan ransum makanan menjadi cara untuk domestikasi. Atraksi berbagai binatang yang sering kita jumpai di kebun binatang semakin meyakinkan pembatasan kehidupan mereka. Para binatang tidak lagi diajar untuk bisa survive di kehidupan hewani liarnya, tetapi justru diajar untuk melakukan tindakan-tindakan aneh.

Mana mungkin di tengah hutan ada monyet naik sepeda. Mana mungkin di tengah samudra yang penuh kompetisi dapat diatasi lumba-lumba karena kecerdasannya dalam mengerjakan soal penjumlahan.

Jika guru telah lupa untuk mengajarkan sifat manusiawi suatu ilmu pengetahuan dan memanusiawikan peserta didik, pendidikan yang terjadi tidak jauh berbeda dengan situasi di kebun binatang.

Pemahaman kita perlu disegarkan kembali bahwa teknologi hanyalah hasil akhir dari ilmu pengetahuan yang bersifat material, bisa rusak, bisa berubah, dan suatu saat bisa tidak bermanfaat. Karena itu, interaksi antarmanusia yang didasari kontak teknologi belaka akan terasa kering karena bersandar pada nilai material.

Pendidikan tidak dapat bersandar pada teknologi semata, melainkan juga harus melibatkan hati yang dimiliki setiap pribadi manusia.

Akhirnya ungkapan Charles Darwin akan semakin tepat dan survive jika dipadu dengan ungkapan indah Mariah Carey dalam lagunya yang berjudul 'Hero': If you look inside your heart… you know you can survive. (Jika engkau becermin ke dalam hatimu, engkau tahu bahwa engkau bisa bertahan!)

R ARIFIN NUGROHO Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta

[keluar]

Sumber: Senin, 16 Februari 2009

Label: , , ,

TOEFL dan Kualitas Guru

Skor 500 itu kurang dari cukup, tidak ada hubungannya dengan kemampuan mengajar dalam bahasa Inggris, dan mampukah Diknas beramai-ramai membiayai para guru mengikuti IBT(Internet-Based TOEFL), satu-satunya perangkat tes yang sah seperti yang dinyatakan oleh ETS-nya Universitas Princeton?

POLA pikir sebagian besar petinggi pengambil keputusan di negara ini lebih banyak anehnya dibandingkan logisnya, termasuk para petinggi di bidang pendidikan. Tidak heran, kondisi dan keluaran pendidikan negara ini menjadi ‘tidak karuan’ dan berpuluh langkah ketinggalan dibandingkan negara lain.

Yang lebih konyol, seiring berlangsungnya keanehan keputusan di bidang pendidikan, para petinggi ini sepertinya tidak pernah belajar dari kesalahan yang dibuat para pendahulu mereka (atau bahkan mereka sendiri di pos yang berbeda) di masa lalu.

Akibatnya pribahasa keledai tidak pernah terantuk pada batu yang sama untuk kedua kalinya, tidak berlaku di negari ini. Mengapa? Karena keledai-keledai di sini, berulang kali terantuk pada batu yang sama di tempat yang sama pula!

Isu konyol terbaru adalah diluncurkannya ketentuan bahwa semua guru wajib memiliki skor TOEFL di atas 500, khususnya guru-guru yang dipersiapkan untuk mengajar di sekolah nasional berstandar nasional.

Sesat Pikir

Untuk ketentuan seperti ini paling tidak ada tiga kesesatan berpikir, yang kalau dibiarkan dampaknya akan memperparah dunia pendidikan. Kesesatan berpikir yang pertama adalah bahwa dengan telah diperolehnya skor TOEFL di atas 500, lalu dianggap bahwa para guru itu telah mampu mengajar sejumlah mata pelajaran dalam bahasa dengan baik, benar dan bermutu.

Kesesatan berpikir yang kedua adalah dengan telah diperolehnya skor TOEFL di atas 500 lalu para guru tersebut dianggap sudah mampu mengajar dengan standar nasional. Kesesatan berpikir yang ketiga, dan mungkin ini adalah kesesatan berpikir yang paling menakutkan dampak dan akibatnya, adalah dengan diperolehnya skor TOEFL di atas 500 lalu para guru ini dianggap mampu menghasilkan keluaran yang berbudi luhur.

Mohon diingat bahwa masalah keluaran institusi pendidikan sejauh ini hanya diukur berdasarkan parameter nilai yang ada dalam rapor mereka, sementara hal yang paling penting - budi luhur, sama sekali diabaikan.

Skor TOEFL, dalam perspektif tertentu, sama sekali tidak berkaitan dengan kemampuan bahasa Inggris seseorang. Penjelasannya begini! Jika seseorang tidak pernah berlatih soal-soal TOEFL sebelumnya dan kemudian diikutkan TOEFL, maka skor yang diperolehnya dapat dianggap sebagai skor kemampuan bahasa Inggrisnya.

Kalau kemudian orang ini karena memperoleh skor yang jelek, katakan saja skornya di bawah 350, akan berlatih keras memelajari soal-soal TOEFL dengan cara mengenali trik-trik untuk menjawab soal dan sejumlah kunci pola pikirnya. Jika orang ini cukup tekun berlatih, sebulan atau dua bulan umpamanya, tidak diragukan lagi orang ini pasti mampu melonjakkan skor TOEFL-nya.

Bukan tidak mungkin orang ini akan memperoleh skor di atas 500. Pertanyaannya sekarang apakah dengan diperolehnya skor TOEFL di atas 500 lalu orang ini dapat mengklaim bahwa kemampuan bahasa Inggrisnya sama melonjaknya dengan skor TOEFL-nya?

Jelas tidak, sama sekali tidak, dan benar-benar tidak! Skor TOEFL boleh melonjak selangit tetapi tanpa diiringi usaha yang lain, usaha yang penuh onak duri dan memerlukan waktu yang lama, maka kemampuan bahasa Inggris seseorang jelas tidak akan meningkat naik bahkan mungkin juga sama sekali tidak meningkat.

Skor TOEFL di bawah 400 diberi label for non user, skor antara 401-450 labelnya too low, skor 451-500 diberi label less adequate, skor antara 501-550 labelnya adalah adequate dan skor di antara 551-599 labelnya barulah effective.
Skor-skor ini diperlukan atau dipersyaratkan oleh sejumlah universitas dan institusi pendidikan terkemuka di luar negeri yang bahasa pengantar perkuliahannya dalam bahasa Inggris.

Tiga Perubahan

TOEFL pertama kali dikembangkan oleh Universitas Princeton di AS dan sampai sekarang hanya universitas inilah yang punya hak menyelenggarakan TOEFL, termasuk penyelenggaraan yang di Indonesia. Jika penyelenggaranya di luar institusi resmi atau institusi yang ditunjuk oleh institusi resmi ini maka sertifikat TOEFL yang diperoleh tentu saja tidak diakui dan tidak berlaku secara internasional. TOEFL sejauh ini telah mengalami tiga tahapan perubahan yang dikenal sebagai PBT, CBT, dan IBT.

PBT atau Paper-Based TOEFL sekarang ini jelas-jelas sudah ditinggalkan oleh penyelenggara TOEFL Internasional atau Educational Testing Service (ETS) Princeton University.

Bahkan penggantinya Computer-Based TOEFL juga sudah tidak digunakan lagi di AS sejak 2005 dan sama sekali tidak akan digunakan pada tahun 2006 ini. Penggantinya yang diberi nama Internet-Based Nest Generation TOEFL akan diberlakukan secara penuh di AS dan di seluruh dunia mulai September 2006.

Salah satu perubahan mendasar dari perubahan ini adalah dimasukkannya tes ketrampilan Speaking dalam IBT. Bersama-sama dengan ketiga ketrampilan dasar lainnya, ketrampilan berbicara bahasa akan diuji.

Pertanyaannya sekarang apakah para petinggi yang membuat keputusan konyol dengan mengharuskan seorang guru harus memperoleh skor TOEFL minimal 500 sudah memahami sejumlah persoalan yang disampaikan dalam artikel ini?

Jika belum bagaimana kalau mempelajari atau mengenali TOEFL dulu baru membuat keputusan agar bentuk keputusannya tidak menggelikan seperti yang sekarang ini terjadi?

Skor 500 itu kurang dari cukup, tidak ada hubungannya dengan kemampuan mengajar dalam bahasa Inggris, dan mampukah Diknas beramai-ramai membiayai para guru mengikuti IBT (Internet-Based TOEFL), satu-satunya perangkat tes yang sah seperti yang dinyatakan oleh ETS-nya Universitas Princeton?

Tri Budhi Sastrio, Staf Pengajar Universitas Widya Kartika Surabaya

[keluar]

Sumber: Surya, Senin, 16 Februari 2009

Label: , , ,