Olahraga KULTAT Cara Sehat Ala Soekarti

Add caption
Hampir rata-rata seseorang ketika memasuki usia lanjut, tubuhnya banyak dihinggapi penyakit degeneratif. Kondisi tersebut tampaknya berbeda dengan yang dialami Soekarti Sario. Wanita 88 tahun yang memiliki 16 anak dan 25 cucu ini, justru tubuhnya selalu sehat dan bugar. Tak ada satupun penyakit degeneratif yang diidapnya.

Apa rahasianya? Dengan tegas Soekarti membeberkan bahwa semua itu didapatnya dari resep tradisional. Baik jamu yang diminumnya, maupun cara berolah raga yang dilakukannya, semua adalah resep tradisional.

Wanita asli Blitar ini mengaku setiap hari selalu minum jamu yang dibuatnya sendiri. Sejak kecil ia telah diajarkan orang tuanya untuk membuat resep jamu resep tradisional ini. Sehingga sejak muda dirinya sudah membuat jamu sendiri. Ia selalu mencari bahan jamunya baik daun-daunan maupun akar-akaran.

Resep yang diperoleh dari orang tuanya ini, nyatanya sangat membantunya dalam hal menjaga kesehatannya. Terbukti, rentang waktu 20 tahun ketika harus melahirkan ke 16 anaknya, tak sekalipun ia mendapatkan masalah. Tak ada satu pun anaknya lahir melalui operasi cesar. Semua persalinan berjalan normal. ”Itu karena saya sering minum jamu lempuyang. Jenis jamu itu sangat membantu otot-oto tubuh saya kuat. Apalagi kalau dulu saya sering berjalan kaki berkilo-kilometer, membuat otot kaki saya kuat,” jelas wanita yang sudah memiliki 27 cicit ini.

Sampai sekarang urusan minum jamu itu tetap ia pertahankan dan ajarkan pada anak dan cucunya. Tak heran jika di rumahnya setiap hari selalu tersedia berbagai bahan jamu seperti lempuyang, beras kencur, kunir, maupun paitan. Ia pun masih aktif di organisasi Persatuan Isteri Veteran Indonesia (PIVERI) hingga kini.

Baginya minuman itu membuat tubuhnya semakin sehat, terhindar dari nernagai macam penyakit. Tak hanya tubuh sehat, kulitnyapun terasa halus sampai saat ini. Tubuhnya juga tak sekalipun pernah merasakan sakit yang aneh-aneh. Hanya flu dan batuk, karena pengaruh perubahan cuaca.

Olahraga Kultat

Ada yang unik ketika menyinggung cara olah raga tradisional yang menurutnya telah ia praktikkan sejak dulu itu. Menurut istri Soewandi (alm) ini, ia mengaku melakukan olah raga setiap jam 02.30 pagi. Tempatnya cukup di kamar tidur. Caranya, dengan menidurkan badan dengan miring ke kanan ataupun ke kiri secara bergantian.

Pada posisi itu, kaki kanan maupun kiri secara bergantian pula, dipukulkan ke pantat. Aktivitas tersebut di lakukan 20 sampai 50 kali. Tujuannya untuk lebih memperkuat kaki sekaligus tulang ekor, agar jalan kita tetap tegap. Nyatanya, hal itu terbukti sampai saat ini Soekarti masih mampu berjalan tegak dan tidak bongkok sedikitpun.

Setelah melakukan olahraga yang ia beri nama ’Kultat’ (pukul pantat), dilanjutkan dengan ’melempar’ kedua tangan ke arah depan, samping dan atas secara bergantian. Sampai tangan terasa agak lelah, sekitar 5-10 menit.

Tak hanya itu, pensiunan PNS Pemprov Jatim ini juga memiliki cara unik pendeteksi sakit. Ketika selesai melakukan kultat maupun lempar tangan, dirinya menyumbat lubang hidungnya sebelah kanan, lalu dihembuskannya nafas lewat lubang hidung sebelah kiri. Jika merasa plong, tandanya sehat. Begitu juga sebaliknya jika terasa ada hambatan tandanya ada penyakit yang hinggap di tubuh kita. Cara tersebut dilakukan bergantian, sampai kedua lubang hidung ini merasa plong.

Ketika ayam mulai berkokok setelah sholat shubuh, barulah ia keluar rumah untuk menghirup udara pagi yang segar sambil berjalan santai dan menggerakkan badannya di sekitar rumah.. Hal itu rutin dilakukannya setiap hari.

Soal makanpun ia mengaku tidak aneh-aneh. Dirinya lebih memilih tahu tempe, ketimbang daging. Begitu juga dengan sayur dan buah, selalu menjadi menu utamanya setiap hari.

Sehat Dengan Hati

Tubuh yang sehat tak akan tercipta tanpa jiwa yang sehat pula. Lantas apa resepnya untuk menjaga kondisi psikologis tetap sehat? Wanita yang memiliki koleksi perangko hingga 25 album ini menjawab, cukup ingat ’SARINE TEBU’. Lho kok..?

Ia pun membeberkan ’Sarine Tebu’ yang ia maksud adalah ungkapan kata. Awalan kata SA memiliki makna sabar, yakni dalam menghadapi segala rintangan dan persoalan hidup harus sabar. Kata RI yakni rilo, berarti memberi seseorang dengan tulus ikhlas, baik itu materi maupun ilmu. NE artinya nerimo ing pandum, menerima apa adanya semua kehendak Tuhan. Tetapi tetap selalu berikhtiar, jangan sampai berdiam diri dan berpangku tangan.

Sedangkan TE artinya temen (bersungguh-sungguh), setiap perkataan bisa dipercayai, jujur hati maupun ucapan. Dan BU memiliki makna budi, yakni berbudi pekerti luhur, setiap kelakuan harus berdudi yang baik agar semua yang dijalankan berjalan dengan baik.

”Sarine Tebu memiliki makna yang mendalam. Jika kita bisa melakukannya pastinya akan mendapatkan ketenangan hati. Sekaligus hati kita akan sehat. Inilah makna sehat luar dalam,” tuturnya.

Soekarti pun memiliki kebiasaan membaca yang ia lakukan sejak ia masih di sekolah rakyat. Baginya, buku merupakan jendela dunia, meski ia mengaku terlahir dari keluarga berekonomi rendah. Kini, membaca buku baginya untuk melatih kosentrasi serta menghindarkan dirinya dari kepikunan.

Hebatnya, wanita yang akrab disapa eyang oleh anak dan cucu cicitnya ini, meski usianya sudah 88 tahun sama sekali tak butuh kacamata saat membaca. Ketika coba dipraktekannya membaca koran yang berada di meja tamu, ia pun dengan cepat membaca setiap kalimat dengan huruh yang berukuran kecil tersebut. ”Membaca memang sudah kebiasaan dari kecil, ujarnya, sambil menunjukkan koleksi buku di almari pustakanya.

Di situ cukup banyak buku mengenai sejarah, ada juga beberapa buku berbahasa Belanda, biografi, sampai majalah. Kamus berbagai versi bahasa Belanda pun menjadi salah satu koleksinya. Maklum, iapun mengaku pernah 10 tahun belajar bahasa Belanda.

Kini keinginan yang belum tersampaikan adalah membuat perpustakaan mini di kelurahan tempat tinggalnya di Jl Johar. ”Agar setiap orang bisa memanfaatkan buku koleksi saya untuk dibaca. Jika hanya ditata dilemari serasa buku itu kurang bermanfaat,” pungkasnya. (m11)

Biodata
Nama : Soekarti Sario
TTL : Blitar, 25 Maret 1925
Nama Suami : Soewandi (alm)
Anak : 16 orang (7 alm)
Cucu : 25 cucu
Cicit : 27 cicit

Riwayat Pekerjaan
Pegawai Telkom Surabaya (1943-1944)
Pegawai Perhutani Surabaya (1944-1945)
Pegawai Pemerintahan Kabupaten Nganjuk (1948-1950)
Pegawai Kotamadya Kediri (1951-1954)
Pegawai Karisedenan Malang (1954-1956)
Pegawai Kabupaten Surabaya (1956-1958)
Pegawai Kantor Gubernur Surabaya (1958-pensiun 1975)

Sumber: Surabaya Post, Minggu, 07/04/2013

Label: , , ,

Olahraga bermanfaat untuk kesehatan otak

Para ilmuwan mengatakan olahraga mendorong peningkatan aliran darah ke otak


Penelitian baru tentang pengecilan otak pada usia lanjut menunjukkan bahwa olahraga mungkin lebih bermanfaat dibandingkan kegiatan yang merangsang secara mental dan sosial.

Tim peneliti Universitas Edinburgh, Skotlandia, Inggris menyampaikan kesimpulan itu setelah melakukan penelitian terhadap 638 orang yang berusia 70-an tahun.

Hasil pemindaian menunjukkan bahwa mereka yang aktif secara fisik mengalami pengecilan otak lebih sedikit.

Selain menjaga bagian korteks otak besar -bagian dari pusat pikir, olahraga juga bisa membantu mengurangi kerusakan pada ganglia dasar.

Para ilmuwan mengatakan olahraga yang diperlukan tidak harus kegiatan yang berat, tetapi cukup berjalan kaki beberapa kali seminggu.

Menurut ilmuwan, dengan berolahraga maka aliran darah ke otak meningkat sehingga pasok oksigen dan nutrisi tercukupi.

Sebagai perbandingan, tim ilmuwan meneliti mereka yang melakukan latihan mental seperti mengerjakan teka-teki dan bermain catur. Hasil aktivitas tersebut minim.

Hasil penelitian ilmuwan Universitas Edinburgh diterbitkan di jurnal Neurology.

Sumber: BBC

Label: ,

Internet Berguna bagi Lansia untuk Kurangi Kesepian

BBC/Ilustrasi


Sebuah studi di Australia yang mengajarkan para lansia untuk menggunakan program seperti Facebook mengatakan, media sosial sangat berguna mengurangi perasaan terisolasi dan kesepian di kalangan lansia tersebut.

Para peneliti dari proyek Menghubungkan Para Lansia (Connecting Older Adults) mengatakan juga bahwa meskipun teknologi ini membantu kelompok lansia Australia tinggal di rumah mereka sendiri lebih lama, sebagian masih merasa terisolasi dari masyarakat.

Tim dari Universitas Sydney telah melatih lebih dari 150 orang lansia untuk menggunakan Twitter, Facebook, dan Skype, serta mengecek kemajuan mereka selama enam bulan secara teratur.

"Berdasarkan latihan yang mereka dapat, para lansia ini mengatakan teknologi yang ada bermanfaat bagi mereka untuk mengurangi perasaan kesepian dan berhubungan dengan orang lain," kata Prof Robert Steele, peneliti utama proyek tersebut.

Menurut laporan ABC, salah seorang peserta, Mila Pinko (67) dari Sydney, mengatakan bahwa media sosial ini membuat dia merasa menjadi bagian dari masyarakat. "Saya tidak merasa kesepian, tidak merasa depresi," katanya.

Pinko mengatakan sejak mendapat pelatihan, dia menggunakan media sosial setiap hari. "Mereka mengajarkan Facebook dan Twitter, hal yang belum pernah saya sentuh sebelumnya," kata Pinko lagi. "Dengan Skype, itu sangat membantu karena saya bisa mengirim file, dan juga bisa berbicara, bisa mengirim dan menerima foto."

"Facebook, saya mulai menggunakannya untuk mengirim file video atau foto yang besar, dan tetap berhubungan dengan sanak saudara atau teman." "Bila saya ingin tahu apa yang terjadi dengan teman-teman saya, saya akan melihat halaman Facebook teman-teman," lanjut Pinko. Ia menggunakan Skype untuk berkomunikasi dengan putra dan cucunya yang tinggal di luar negeri.

"Dalam sehari, saya bisa mendapatkan empat atau lima panggilan lewat Skype. Fantastis. Saya bisa melihat gambar anak-anak dari teman-teman dan cucu mereka," katanya. Internet menurut Pinko membuatnya bisa berhubungan lagi dengan teman-teman lama. "Tahun ini, berarti sudah 50 tahun saya tamat dari sekolah. Namun, kami berhasil mengadakan kontak lagi dan saling melihat lewat Skype."

Menurut ABC, dalam enam bulan, tim dari Universitas Sydney mengukur tingkat kesepian sebelum dan sesudah menggunakan sosial media. "Hasilnya cukup mengejutkan. Mereka merasa tidak lagi kesepian. Sebanyak 80 persen dari peserta mengatakan akan terus menggunakan media sosial setelah masa percobaan selesai," kata Prof Steele.

Menurut laporan koresponden Kompas di Australia, L Sastra Wijaya, proyek Menghubungkan Para Lansia ini adalah proyek yang dibiayai oleh Departemen Pelayanan Keluarga dan Masyarakat Australia. Komisioner Diskriminasi Umur Federal Susan Ryan berharap Pemerintah Australia memberikan subsidi sehingga para lansia bisa memiliki akses internet di rumah-rumah mereka.

"Mereka yang berusia 70, 80, atau 90-an tidak tumbuh bersama komputer. Mereka mungkin sudah pensiun ketika komputer menjadi bagian dominan dalam kehidupan kantor, jadi mereka kurang percaya diri," kata Ryan.

"Mereka hanya perlu sedikit latihan, dan banyak contoh menunjukkan bahwa bahkan ketika berusia 90-an pun, mereka bisa menguasai komputer," tambah Ryan. Penelitian oleh Universitas Sydney hanya memberikan pelatihan sosial media selama enam jam. Namun, para lansia ini sendiri terkejut mereka sendiri begitu cepat bisa menguasai komputer.

"Pada awalnya saya takut, saya akan menekan tombol yang salah, tetapi ternyata sederhana dan mudah. Saya rasa kalau saya bisa melakukannya, siapa saja akan bisa," kata Pinko. (Penulis: L Sastra Wijaya/Editor: Robert Adhi Ksp)

Sumber: Kompas, Minggu, 24 Maret 2013

Label: ,

Hati-Hati, Lansia Jangan Banyak Minum Air

Minum air putih malah bisa memicu penyakit bila berlebihan terutama bagi mereka yang telah memasuki usia senja.

MINUM air putih tampaknya adalah aktivitas yang biasa dan menyehatkan. Sedari kecil, guru dan orang tua selalu mengajarkan untuk banyak minum air putih demi kesehatan tubuh. Tapi konsumsi air putih, ternyata bisa membahayakan, khususnya bagi orang tua. "Kalau sehari minum 2-3 liter, bisa jatuh hingga patah kaki," ujar dokter spesialis ginjal dan hipertensi Parlindungan Siregar.

Patah kaki mungkin tak apa-apa bagi anak muda, tapi untuk para lanjut usia (lansia), patah tulang artinya akan cacat di sisa hidupnya. Sebab metabolisme dan pemulihan sakit pada manula terjadi sangat lambat. Parlindungan menjelaskan bahwa, minum air putih yang tampaknya sederhana, bisa juga menjadi penyebab hilangnya kesadaran yang berujung jatuh tiba-tiba ini.

Prosesnya adalah penurunan kadar natrium. Pada orang yang berusia di atas 50-60 tahun biasanya mereka memiliki kadar natrium yang rendah dalam darah atau dikenal hiponatremia. Selain itu fungsi ginjal mereka pun sudah turun. Akibatnya air putih yang masuk ke tubuh semakin menurunkan kadar natrium dalam darah. Secara perlahan, turunnya kadar natrium ini menyebabkan kantuk sehingga manula bisa tiba-tiba terjatuh.

Parlindungan memiliki seorang pasien manula yang selalu diantarkan keluarga karena acap jatuh. Ketika ditelusuri, ternyata sang nenek memiliki penyakit ginjal dan sering diminta untuk minum air putih oleh keluarganya. "Saya minta untuk dikurangi, keluarganya protes, tapi setelah dijelaskan, mereka pun menjalankan perintah," ujar Parlindungan. Tak lama, Ia pun jarang melihat perempuan 70 tahun tersebut di bawa ke rumah sakit karena terjatuh.

Menurut Parlindungan, untuk usia lanjut di atas 50 tahun, konsumsi air putih maksimal hanya 1,5 liter. Angka tersebut diperoleh dari hasil penelitiannya sendiri sekitar 4 tahun silam terhadap para penghuni panti Wredha di Jakarta. Cek info kesehatan lainnya di sini.

Picu Hiponatraemia

Selain hal di atas, minum air putih berlebihan dapat menyebabkan munculnya keadaan fatal yang disebut hiponatraemia. Hiponatraemia adalah suatu keadaan dimana kadar garam di dalam darah (dalam hal ini Natrium) lebih rendah daripada yang seharusnya. Secara normal konsentrasi natrium di dalam darah berkisar antara 135 sampai dengan 145 milimol per liter, namun pada keadaan hiponatraemia konsentrasi garam kurang dari 135 milimol per liter. Keadaan yang parah dari kondisi hiponatraemia dapat menyebabkan intoksikasi air yang memiliki gejala antara lain sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sering urinasi (buang air kecil) serta disorientasi mental.

Keadaan hiponatraemia yang disebabkan oleh jumlah air yang meningkat di dalam pembuluh darah membuat ginjal tak mampu mengeluarkan kelebihan air tersebut secara cepat. Akibatnya, air yang berlebih itu akan masuk ke dalam sel-sel tubuh. Sel-sel tubuh yang menerima kelebihan air akan mengalami pembengkakan. Sel-sel tubuh yang membengkak tersebut tidak akan mengalami kesulitan untuk mengembang akibat air yang diterimanya, karena masih memiliki ruang di sekitar sel-sel tersebut. Namun, hal tersebut berbeda dengan sel otak. Sel-sel otak terkurung dalam tulang tengkorak yang keras dan tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengembang ketika menerima kelebihan air. Jika kelebihan air tersebut sampai memasuki sel-sel otak dan sel otak mengalami pembengkakan, seperti sel-sel tubuh lainnya, maka yang terjadi selanjutnya dapat dipastikan adalah bencana. Tubuh akan mengalami kejang, koma, sistem pernapasan terhenti, batang otak mengalami herniasi dan akhirnya berujung pada kematian.ins

Sumber: Surabaya Post, Senin, 11/03/2013

[keluar]



Label: ,

Diet yang Tepat bagi Lansia

Karena fisik lansia mulai mengalami kemunduran dan keterbatasan. Bagaimana memilih dan mengolah makanan yang baik bagi mereka? Adakah anggota keluarga Anda di rumah yang tergolong lanjut usia (lansia)? Apakah kondisinya cukup prima pada umurnya yang sudah lanjut itu? Banyak penyakit yang diderita lansia berkaitan erat dengan faktor makanan sehari-hari. Bisa jadi mereka menderita penyakit salah gizi (gizi kurang dan gizi lebih), diabetes mellitus, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, anemia, dan penyakit tulang.

Untuk mencegah dan menunda terjadi penyakit pada anggota keluarga 'senior' kita, makanan mereka perlu diperhatikan dan sedikit diatur. Suatu langkah yang tidak merepotkan asal tahu caranya.

Ahli Gizi dari Instalasi Gizi RS Dr Sardjito Retno Pangastuti seperti dilansir gizinet mengatakan, menu untuk lansia sebetulnya tidak berbeda dengan menu untuk dewasa. Namun, karena pada lansia mulai ada kemunduran-kemunduran, keterbatasan-keterbatasan, maka biasanya kita harus memperhatikan cara pengolahan makanan. Misalnya, makanan harus empuk, renyah, jangan liat. "Daging sapi sebaiknya dicincang, daging ayam disuwir," kata Retno.


Indera pengecap melemah

Kondisi kesehatan lansia biasanya berbeda. Terkadang ada pantangan makanan atau minuman tertentu. Ini biasanya dilihat dari hasil laboratorium yang menunjukkan olesterolnya tinggi, asam urat tinggi, mulai gangguan ginjal, dan hipertensi. Kondisi khusus seperti itu, pada orang dewasa umum sekalipun harus menjalani perlakuan diet yang sama. Dari berbagai kasus tersebut, Retno yang juga ahli gizi di Happy Land Medical Centre ini menyebut, kasus hipertensilah yang banyak terjadi pada lansia.

Perlu disadari adalah sebetulnya indera pengecapan pada lansia sudah mulai berkurang. Terutama untuk rasa asin. Akibatnya, pada makanan dengan rasa asin yang cukup pun sering terasa kurang bagi mereka. Tak heran pada lansia banyak terjadi hipertensi. "Sebetulnya hal seperti itu yang kita sampaikan kepada lansia, sehingga dia menyadari bahwa panduan rasa asinnya tidak bisa lagi dipakai sebagai ukuran, karena bila dengan panduan asin dari lansia, untuk kita yang belum lansia akan terasa asin sekali," tutur dosen Ilmu Gizi di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Respati Yogyakarta ini.

Makanan yang kurang baik bagi lansia adalah yang berlemak. Misalnya, jeroan, daging ayam, daging sapi, dan daging kambing yang berlemak. Tapi, itu bukan bukan berarti lansia harus menghindari lemak. "Dalam mengonsumsi lemak harus disesuaikan dengan kemampuan tubuh," jelas Retno. Sebagai contoh, dalam setiap kali makan, bila sudah ada gorengan, maka jangan sajikan sayur bersantan. Buatlah sayur bening atau tumis. Jika sayurnya bersantan, maka buatkan lauk yang dibakar, dipanggang, dikukus atau ditim.

Sementara itu makanan yang baik atau harus cukup bagi lansia adalah makanan berserat seperti sayuran, buah-buahan. Sebetulnya lansia tidak perlu menambah dari luar misalnya suplemen makanan, asal setiap kali makan ada sayur dan buah. (ins)

Artikel terkait:


[keluar]

Sumber: Surabaya Post, Minggu, 18/12/2011

Label: ,

Kenali Gangguan Memori pada Lansia

Banyak jenis gangguan memori yang menyerang para lansia. Ada yang bisa dicegah, ada pula yang bisa dihambat.

Belum lama ini, istri mantan Wakapolri Adang Daradjatun, Nunun Nurbaeti yang diduga terlibat suap pada kasus cek suap Miranda Goeltom ditangkap di Thailand. Setelah dibawa ke Indonesia, Nunun mengalami sejumlah pemeriksaan kesehatan.

Sebelumnya, Nunun sebenarnya sudah pernah menjalani pemeriksaan medis. Hasilnya? Berdasar hasil pemeriksaan tertanggal 2 Maret 2010 dan 15 Maret 2010 di Mt Elisabeth Hospital, diketahui Nunun menderita hilangnya ingatan yang dasyat. Selain itu, kesimpulan Dr Nei I Ping di Mt Elisabeth Hospital Singapura tertanggal 1 April 2010, Nunun dinyatakan menderita alzheimer ringan menjurus dementia.

Lepas dari diagnosa dokter terbukti atau tidak, kaum lansia memang rentan mengalami gangguan memori seiring dengan terjadinya penurunan fungsi organ-organ tubuh akibat proses alam yakni penuaan.

Sebagian besar orang lanjut usia atau lansia mengalami penyakit saraf otak yang bisa meningkatkan risiko dimensia (kepikunan). Untuk itu, gangguan saraf otak harus dicegah dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, pola hidup yang seimbang, dan menerapkan gaya hidup sehat.

Menurut dr Julie A Schneider dari Pusat Kedokteran Universitas Rush, Chicago, beserta timnya, sebagaimana dikutip Reuters Health, di New York, Amerika Serikat, mayoritas lansia dengan dimensia, yang ditandai dengan gangguan memori dan kemampuan kognitif lain, memiliki lebih dari satu tipe patologi pada otak yang mengalami perburukan.

"Gangguan saraf otak ini umumnya berupa gejala penyakit alzheimer dan stroke, diikuti penyakit terkait parkinson," ujar Schneider.

Para lansia tanpa dimensia bukan berarti bisa bernafas lega. Karena ada ancaman lain yang menunggu, seperti alzheimer dan gangguan saraf lain. Lansia dengan lebih dari satu gangguan saraf otak secara signifikan meningkatkan gejala dimensia.

"Para lansia sering kali dapat mengatasi satu patologi pada otak mereka, tetapi beban lebih dari satu patologi bisa menyebabkan mereka menderita dimensia," kata Schneider.

Untuk mengurangi risiko dimensia, perlu upaya pencegahan alzheimer dan penyakit saraf otak lain seperti stroke dan faktor risiko stroke, misalnya tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, merokok, dan obesitas.

Macam Gangguan:

Penurunan fungsi otak dan juga memori ini biasanya terjadi pada orang-orang lanjut usia, utamanya di atas usia 65 tahun. Kenali type-typenya.

Agnosia

Tidak bisa mengenali objek, suara, atau orang tertentu. Dikarenakan kerusakan pada otak, atau kerusakan pada syaraf.

Cedera Otak

Cedera otak bisa menibulkan amnesia. Cedera juga bisa menyebabkan trauma

Amnesia

Hilangnya sebuah memori . Amnesia bisa disebabkan oleh:

• Kerusakan di daerah temporal: hippocampus, dentate gyrus, subiculum, amygdala, the parahippocampal, entorhinal, and perirhinal cortices

• Kerusakan di daerah disencephalon: dorsomedial nucleus dari thalamus dan mammillary bodies dari hypothalamus

Banyak jenis dari amnesia, dengan mempelajari bentuknya yang berbeda, kita bisa melihat kerusakan yang nyata dari setiap bagian otak, dan mengetahui bagaimana otak normal bekerja.

Dementia

Mengacu pada gangguan besar yang ditandai dengan penurunan yang progresif kemampuan otak dan membuat memori otak menjadi rusak.

Alzheimer

Penyakit otak yang progresif, degeneratif dan fatal. Koneksi antar sell otak hilang. Akibatnya matinya sel otak bisa terjadi.

Parkinson

Penyakit yang termasuk dalam penyakit neurodegeneratif. Dalam melakukan gerakan biasanya dikendalikan oleh dopamin, sebuah bahan kimia yang membawa sinyal antara saraf-saraf di otak. Ketika sel-sel yang biasanya memproduksi dopamin mati gejala Parkinson muncul. Gejala yang paling umum termasuk: tremor, kelambanan, kekakuan, gangguan keseimbangan, kekakuan otot, dan kelelahan. Selama penyakit berlangsung, gejala non-motorik juga dapat muncul, seperti depresi, kesulitan menelan, masalah seksual atau perubahan kognitif.

Sindrom Hiperthimesik

Penderita memiliki memori autobiografi yang sangat rinci. Pasien dengan gangguan ini mampu mengingat peristiwa-peristiwa dari setiap hari dalam hidup mereka.

Huntingnton

Penyakit yang diwariskan yang membuat penderitanya melakukan gerakan yang tidak terkendali, emosi menjadi tidak stabil, dan hilangnya kemampuan intelektual.

Wernicke-Korsakoff’s Syndrome

Sindrom Wernicke-Korsakoff adalah gangguan neurologis yang parah yang disebabkan oleh tiamin kekurangan (vitamin B1), dan biasanya dikaitkan dengan konsumsi alkohol yang berlebihan. Hal ini ditandai oleh kelainan oculomotor, disfungsi sebelum dan kondisi mental yang berubah. (ins-berbagai sumber)

[keluar]

Sumber: Surabaya Post, Minggu, 18/12/2011

Label: , ,

Kunyit Sebagai Anti-Alzheimer





Kunyit (Curcuma domestica) merupakan salah satu jenis tanaman obat yang banyak memiliki manfaat, di antaranya sebagai bumbu masak (terutama kare), pewarna makanan, minuman, tekstil dan kosmetik. Tanaman ini telah dikenal sejak lama di Indonesia dan penggunaannya cukup banyak dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat pola hidup dewasa ini yang cenderung moderen dengan gejala serba instan, menjadikan penyakit yang berkembang di masyarakat juga beragam. Dalam sepuluh tahun terakhir, banyak penyakit yang mencuat di masyarakat di antaranya aids, kanker, flu burung dan bahkan gejala pikun dini. Kondisi ini membuat masyarakat mulai berfikir untuk mencari pengobatan alternatif secara konvensional di samping pengobatan moderen.

Salah satu tanaman obat yang berpeluang sebagai pengganti pengobatan kimiawi yang dapat memperlamat datangnya penyakit pikun adalah kunyit. Penggunaan tanaman ini biasanya berupa bubuk atau tepung kunyit yang diracik ke dalam bumbu masak. Rimpang kunyit sangat bermanfaat sebagai antikoagulan, menurunkan tekanan darah, obat cacing, abat asma, penambah darah,obat sakit perut, diare, usus buntu dan rematik. Selain ber-khasiat dalam pengobatan, rimpang kunyit juga banyak digunakan untuk bahan pewarna, bahan campuran kosmetika, bakterisida, fungisida dan stimulan.

Penyakit Alzheimer adalah sejenis penyakit pikun yang umum terjadi pada manusia yang mulai memasuki usia tua (manula). Secara alamiah, pikun biasa terjadi pada setiap orang karena kondisi fisik otak menurun. Namun pikunpun dapat di-perlambat datangnya dengan meng-gunakan kunyit dalam bentuk bum-bu kare. Kunyit sebagai bahan bumbu kare yang banyak dipakai dalam berbagai resep masakan dirasakan dapat mempertahankan kualitas otak hingga usia lanjut. Salah satu bukti adalah manula yang berada di negara-negara Asia tetap memiliki ingatan baik di usia lanjut karena mereka rajin mengkonsumsi bumbu kare.

Hasil penelitian Dr. Tze-Pin Ng dari Universitas Nasional Singapura (NUS) pada 1.010 manula berusia 60 tahun sampai 93 di tahun 2003, menunjukkan bahwa manula yang rajin mengkonsumsi bumbu kare memiliki daya ingat yang lebih tinggi dibandingkan mereka jarang atau yang tidak pernah sama sekali. Hal ini mungkin akan membuat kita penasaran dan ingin tahu. Ternyata rahasianya terletak pada zat pewarna kuning (kurkumin) yang terdapat di dalam rimpang kunyit yang diguna-kan dalam membuat bumbu kare tersebut. Kurkumin pada kunyit me-miliki fungsi yang sangat penting dalam mengobati berbagai jenis penyakit karena senyawa tersebut dapat berfungsi sebagai anti tumor promoter, antioksidan, anti mikroba, anti radang dan anti virus. Selain itu kurkumin pada kunyit ternyata juga berperan dalam meningkatkan sistem imunitas tubuh.

Tepung kunyit yang akan di-jadikan bahan racikan bumbu kare dapat dibuat dari umbi kunyit yang telah dikeringkan. Ditinjau dari segi kemudahannya, umbi yang telah di iris lalu dikeringkan, akan lebih mudah digiling untuk dijadikan tepung. Di negara-negara konsumen seperti Amerika Serikat dan Inggris, tepung kunyit digunakan secara langsung sebagai bumbu pewarna makanan,dan bahan baku pembuatan oleoresin. Di India, tepung kunyit merupakan salah satu bahan dasar untuk pembuatan bumbu kare (curry powder) yang merupakan campuran homogen dari berbagai jenis tepung kunyit.

Dengan rutin mengkonsumsi bumbu kare, akan dapat menurunkan resiko serangan penyakit Alzheimer yang bisa menyebabkan pikun total karena kondisi fisik otak yang terus menurun. Namun jangan salah, pada penggunaan yang berlebihan pun bagi orang lanjut usia dapat menim-bulkan efek sakit perut, gangguan hati atau ginjal. Dari hasil kesimpulan para pe-neliti yang dilaporkan dalam American Journal of Epidemiologi Edisi 1 November 2006, menyatakan bahwa bumbu kari sangat berpotensi mencegah alzheimer karena dilihat dari kemanjurannya dan tidak beracun. Hasil penelitian ini merupakan bukti pertama yang menunjukkan hubungan antara konsumsi kare dengan kemampuan kognitif otak. (ins)

[keluar]

Sumber: Surabaya Post, Selasa, 06/12/2011

Label: , ,

9 Myths About Alzheimer’s

Myth 1: “Mom can’t have Alzheimer’s–she remembers all kinds of things.”

Alzheimer’s disease affects newly learned information or recent memories first. Memories of the more distant past–including arcane details such as names and places–may endure for some time. The majority of longer-held memories don’t typically erode noticeably until the middle stage of the disease. That’s why someone recently diagnosed can often recall things in the past quite well.

By Paula Spencer, Caring.com senior editor

In addition, someone with Alzheimer’s has good days and bad days, sometimes appearing to improve or to function in a “back to normal” way for short periods. Sufferers also tend to retain basic social skills during the early stages of the disease–including the ability to “rise to the occasion” by doing their best to cover up potentially embarrassing or disruptive signs of the disease, like disorientation or memory loss.

Myth 2: “If you live long enough, you’ll get Alzheimer’s.”

Alzheimer’s and other causes of dementia aren’t an inevitable part of aging. True, almost everyone forgets things occasionally from middle age on. But not everyone develops a brain disorder that affects cognition (thinking ability), including memory, judgment, and eventually personality and behavior–which is what Alzheimer’s is. Millions of people reach their 70s, 80s, and even 90s with good memories and relatively little decline in mental abilities.

Myth 3: “Alzheimer’s only affects the elderly.”

It’s true that the vast majority of people with Alzheimer’s disease are older than 65, including half of all people older than 85. In fact, for each five-year span beyond 65, the percentage of people with the disease doubles, according to the National Institute on Aging. But a particular rare form of the disease, early-onset Alzheimer’s, can affect adults as young as their 30s. It strikes most commonly in the 50s. Early-onset Alzheimer’s disease accounts for only between 5 and 10 percent of the more than 4.5 million Americans with Alzheimer’s.

Myth 4: “Most people with Alzheimer’s are oblivious to their symptoms.”

Typically someone in the early stage of Alzheimer’s disease does realize, at least part of the time, that something’s wrong. (Whether they recognize it as Alzheimer’s is another matter.) Most people with the disorder are aware that they’re experiencing memory lapses, for example, or that they’re starting to have trouble doing certain familiar tasks (following a favorite card game, cooking a particular recipe). Insight varies by individual, and the degree of awareness can shift from day to day.

Depending on their level of awareness and attitude toward correction, people with Alzheimer’s may appreciate being gently told when they make a mistake due to memory loss, disorientation, or another disease symptom. On the other hand, self-awareness of symptoms can make someone frustrated, angry, scared, or socially withdrawn. As the disease progresses and symptoms worsen, awareness of the situation is likely to decline.

Myth 5: “My mom has Alzheimer’s, so I’ll probably get it too.”

Having a parent or sibling with Alzheimer’s does increase your risk for developing the diseases compared to someone without a familial link. But it doesn’t mean you’re likely to get it. Family history only increases your risk slightly.

The role of genetics in the development of Alzheimer’s disease is still under investigation. Researchers have identified a “risk gene” called APOE-e4 (apoliprotein E-e4). APOE-e4 is one of three common forms of the APOE-e gene. Everybody inherits some form of that gene. Inheriting APOE-e4 from one or both parents is known to raise the risk of developing Alzheimer’s. But how this works is unknown, and it’s likely other genes are also involved.

Specific forms of Alzheimer’s disease are more likely to run in families: for example, familial Alzheimer’s disease, an early-onset type that accounts for fewer than ten percent of people with Alzheimer’s. It’s caused by one of several very rare gene mutations. More common forms of the disease, those with a “late onset,” however, don’t demonstrate a clear pattern of heredity.

Genetic tests are available that can identify the form of the APOE gene a person has, as well as the known rare gene mutations. A special lab must run these blood tests; a genetic counselor can assess the risks and benefits of testing for the possibility of a disease for which there is no cure. Most doctors don’t recommend routine testing.

Myth 6: “Alzheimer’s disease is preventable.”

There’s no known way to prevent Alzheimer’s disease because the cause isn’t known. Although researchers are learning more and more about the disease, they haven’t yet identified the reason that brain cells progressively fail. The best you can do is try to reduce your risk.

Aside from advancing age and a genetic link, factors associated with higher risk of developing Alzheimer’s include:

• Serious head injury.
• Heart disease.
• High cholesterol.
• High blood pressure.
• Type 2 diabetes.
• Glaucoma.
• Being female.

Women are more often affected (they also live longer, and the risk increases with age). Obesity, smoking, and alcohol consumption are suspected but aren’t considered strong risk factors. Note that having a risk factor doesn’t mean you will get the disease. It simply raises the possibility.

Purported causes of Alzheimer’s that have been discredited include getting flu shots, having amalgam fillings (the “silver” kind), and exposure to aluminum (such as eating or drinking from aluminum containers). Research is continuing on whether certain people are vulnerable to the presence of metals in food.

Myth 7: “Dad’s Alzheimer’s will make him an angry and aggressive person, and he will lash out at us eventually.”

It’s a common worry that a parent with Alzheimer’s will eventually turn irate or violent. Aggression is less common than you might think, however. It’s not a guaranteed part of one’s experience with the disease. It’s likely that your parent will feel frustrated or angry at times–perhaps especially when in an unfamiliar environment or when he’s embarrassed–but he may not express those emotions as violent outbursts.

The disease affects people differently. In fact, some people become more reserved or timid as the disease progresses. There are many ways to manage the full gamut of behaviors prompted by the disease.

Myth 8: “Alzheimer’s symptoms are reversible.”

A great deal can be done to treat and manage Alzheimer’s symptoms, slowing the pace of decline and helping a parent retain independence and quality of life for longer than if these things went unattended. This is especially true with an early diagnosis. Possibilities include medications, environmental cues, cognitive therapy, and treatment for related conditions like depression.

Ultimately, however, Alzheimer’s is a progressive disease. A person may function fairly well for years in its early stage, or may decline rapidly. But there’s currently no way to reverse its progress or cure it.

Myth 9: “There’s no bright side to an Alzheimer’s diagnosis.”

It would be sugar-coating to suggest that Alzheimer’s is not a particularly difficult disease for the sufferer or her family. It progressively robs your parent of her brain and, in turn, her personality, and it places a considerable emotional, financial, and practical burden on you and all those providing care. Many people do, however, come to appreciate some positives that can come from this hard situation.

Many adult children, for example, derive deep personal satisfaction and pride from meeting the challenge head-on and making their parents’ last years safe and comfortable. The crisis can be an opportunity to purposefully reconnect and share quiet quality time with a parent. Some folks realize that “now’s the time,” before a parent’s memory deteriorates further, to record a family history or sit down together and identify the faces in old photographs.

Another silver lining: Alzheimer’s diagnosis often brings together scattered or estranged family members as they work in concert to provide care.

[keluar]

Sumber: caring.com

Label: , ,