Munculnya pulau aneh di Madura membawa berkah bagi nelayan

warga menyewakan perahu. moch andriansyah©2013 Merdeka.com


Fenomena munculnya 'Pulau Karang' di tengah laut di pesisir pantai Desa Labuhan, Kecamatan Sepuluh, Bangkalan, Madura, Jawa Timur awal Januari lalu membuat warga penasaran bercampur panik. Mereka takut akan timbul petaka karena kejadian alam itu dianggap aneh.

Meski dianggap aneh, banyak pengunjung mendatangi pulau dadakan tersebut. Karena banyak pengunjung yang datang, hal ini dimanfaatkan oleh nelayan setempat untuk mengais rezeki.

"Siapa yang tahu soal kutukan, soal balak atau apalah sebutannya. Masalah gaib ya kita kembalikan pada yang gaib, yaitu Tuhan seru sekalian alam," kata seorang pengunjung, Suharyono yang ingin menyaksikan fenomena unik di Pulau Garam, sebutan Madura tersebut, Rabu (23/1).

Pengunjung asal Surabaya ini mengaku penasaran. Setiap pengunjung yang menyewa perahu, dikenakan tarif Rp 4 ribu untuk pulang-pergi.

Sementara pengunjung yang sudah menginjakkan kakinya di 'Pulau Karang' tak merasa takut karena aura mistisnya. "Mereka malah bercanda dan berfoto ria mengabadikan momen tersebut. Kalau mereka khawatir akan terjadi kejadian gaib pasca munculnya Pulau Karang itu, tentu mereka akan pergi, atau lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan. Bukan sibuk mengejar duniawi," ujarnya.

Sementara penduduk sekitar, saat awal kemunculan 'Pulau Karang' yang dihuni puluhan batu karang dengan ukuran besar, plus ribuan lebih atau bahkan jutaan lebih karang berukuran kecil itu dianggap sebagai pertanda akan terjadi bencana alam yan biasa menenggelamkan Desa Labuhan.

Salah satu warga yang juga seorang nelayan di Desa Labuhan, Subhan (56) mengatakan, semula warga kaget dan panik dengan kemunculan batu-batu karang dengan bentuk aneh tersebut. "Namun, lama kelamaan, karena banyak warga dari luar Desa Labuhan ingin melihat langsung karang ajaib itu, menjadi biasa dan memanfaatkan perahunya untuk disewakan, termasuk saya," katanya.

Subhan mengatakan, sekali antar pulang pergi, dia bisa mengangkut lima sampai tujuh orang dan setiap orang dikenakan sewa Rp 4 ribu. "Sehari lumayan banyaklah, bisa sampai ratusan," katanya.

Perahu-perahu nelayan ini akan disewakan ketika air laut pasang. Sebab, saat Subuh sampai menjelang siang, orang-orang bisa langsung melihat dengan jalan kaki ke tengah laut. Bahkan keindahan Pulau Karang bisa dilihat dari bibir pantai. Ukurannya cukup besar. Tingginya sekitar tiga meter dengan panjang sekitar 50 meter. Di bawahnya terdapat batu-batu karang dengan ukuran besar.

"Kalau Subuh atau pagi, karangnya bisa terlihat semuanya dari jauh. Kalau sore air laut pasang cuma terlihat bagian atasnya," kata Nur Afiah, salah satu warga Desa Labuhan.

Afiah juga mengatakan, kalau batu-batu karang yang berkumpul menjadi satu membentuk pulau itu, terdapat karang-karang berbentuk unik tidak seperti biasa dilihat warga di sekitar bibir pantai. "Karangnya aneh-aneh, ada yang seperti tengkorak manusia ada seperti piring dan ada juga dengan bentuk-bentuk tidak biasa kita lihat," katanya.

Sumber: Merdeka.com

Label: , , ,

Pulau karang tiba-tiba muncul di tengah laut Madura

pulau karang di Madura. ©2013 Merdeka.com
Pulau karang sepanjang 50 meter di tengah laut, tiba-tiba muncul di pesisir yang berada di Desa Labuhan, Kec Sepuluh, Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Fenomena kemunculan gundukan karang setinggi sekitar tiga meter ini, diyakini masyarakat sekitar sebagai tanda akan terjadinya bencana.

Menurut warga sekitar, sebelum cuaca ekstrem melanda Laut Jawa, pulau baru di tengah laut yang terdiri dari puluhan batu karang dengan ukuran besar dan ribuan lebih karang berukuran kecil itu, tidak pernah ada.

"Karang-karang dengan ukuran dan bentuk yang tidak lazim (tidak seperti yang biasa dilihat warga di bibir pantai) itu, muncul awal Januari lalu," kata Nur Afiah, warga Desa Labuhan, Rabu (23/1).

Awalnya, penduduk sekitar mengira cuma kumpulan pasir di tengah laut yang terdorong oleh ombak besar. "Tapi lama-lama tambah membesar, membentuk seperti kapal raksasa yang terdampar. Karena penasaran, penduduk akhirnya mendekat dan ternyata ada banyak karang. Bentuknya aneh-aneh, ada yang seperti tengkorak manusia, ada yang berbentuk lempengan dan karang yang kecil-kecil seperti tulang belulang."

Fenomena alam ini, dikhawatirkan sebagai pertanda akan terjadinya petaka di kawasan sekitar. "Terus terang saja, kami, warga di sini kaget dan takut, soalnya batu berukuran besar ini sebelumnya tidak ada, tapi kenapa kok tiba-tiba bermunculan, jangan-jangan ini isyarat sesuatu," sahut Firman (35), warga Desa Labuhan yang lain.

Meski demikian, misteri kemunculan pulau karang yang secara tiba-tiba ini, belum bisa dibuktikan secara pasti kalau nantinya akan terjadinya bencana. Hanya saja, kekhawatiran dan berbagai opini tetap muncul di desa setempat.

Beberapa di antaranya, menganggap kalau Desa Labuhan akan segera tenggelam disapu air laut. Ada juga yang berpikir, untuk selalu waspada saja, karena bencana apapun bakal terjadi dengan munculnya pulau karang tersebut.

"Bentuk bencana itu, kita ya nggak tahu. Hanya saja kita patut waspada dan selalu istighfar, itu saja," kata Nur Afiah lagi, menimpali ucapan Firman.

Kendati memunculkan kekhawatiran dan spekulasi bernuansa mistis, warga sekitar tetap memanfaatkan keanehan pulau karang tersebut sebagai obyek wisata baru. Para nelayan di Desa Labuhan-pun, memanfaatkan perahunya untuk mengantar wisatawan lokal melihat dari dekat keunikan batu karang di pulau karang tersebut.

Cukup Rp 4 ribu per kepala, bisa mengobati rasa penasaran warga. Tak hanya warga di Pulau Madura yang berbondong-bondong ingin menyaksikan sendiri pulau karang itu, warga dari Surabaya, Sidoarjo, Gersik pun tak mau ketinggalan ingin menyaksikan fenomena alam tersebut.

Sumber: Merdeka.com.

Label: , ,

Gulai Madura

Fadoli Barbathully/Tabloid Nova
Gulai Madura

Bahan:
300 gr daging kambing, potong 2 cm
2 cm lengkuas, memarkan
2 btr cengkih
1/8 sdt kelabat (klabet)
1 btg serai, memarkan
350 ml santan dari 1/2 butir kelapa

Bumbu halus:
7 btr bawang merah
3 siung bawang putih
1 sdt ketumbar sangrai
1/4 sdt merica sangrai
1/4 sdt pala
1 cm kayumanis
1 sdt garam

Cara membuat:
1. Tumis bumbu halus bersama lengkuas, cengkih, kelabat, dan serai, sampai harum dan matang.
2. Masukkan daging, lalu aduk hingga daging berubah warna.
3. Tuang santan sedikit demi sedikit, lalu masak sampai bumbu meresap.

Untuk 6 porsi

Catatan: Kelabat adalah sejenis tumbuhan beraroma yang biasa digunakan sebagai bumbu atau obat-obatan.

Resep: Erwin Kuditawati
Uji Dapur: Klub Nova
Penata Saji: R. Rudy Gunawan

[keluar]

Sumber: Nova, Jumat, 18/9/2009

Label: , ,

Madura Heritage Slide Shows

Label: , , ,

SOTO MADURA

Soto Madura adalah jenis soto yang berasal dari daerah Madura, Jawa Timur berbahan dasar daging sapi, telur rebus, kentang goreng dan tauge, dengan bumbu ketumbar, bawang merah , bawang putih, jahe, kunir, laos, Kemiri, jeruk purut dan garam secukupnya.

Variasi

Soto Sumenep: Soto ini disajikan dan dimakan dengan singkong, tauge goreng, bihun, bawang daun, bawang goreng, lontong, daging sapi atau usus sapi. Yang membedakan dengan Soto Pamekasan & Soto Bangkalan adalah bumbu kacangnya yang terdiri dari kacang, petis dan pisang muda yg di uleg halus.

Soto Pamekasan: terdiri dari kentang rebus, perkedel kentang, tauge, daging sapi atau daging ayam, soun, lontong, dan disiram dengan kaldu bening dengan bumbu merica dan bawang putih. Disajikan dengan bawang goreng, daun seledri, rempeyek dan bakwan jagung.

Soto Bangkalan: memakai tauge dan soun dengan daging sapi, ayam atau jeroan. Disajikan dengan ditaburi kentang goreng dan kuah kuning berbumbu kunyit dan jahe.


Sebagai kelengkapannya, segeralah anda mencobanya langsung di Kota Madura tersebut. Apalagi hidangan kuliner ini sangat mudah dijumpai di sana. Selamat bersantap Soto Madura! (id.wikipedia.org/rmb)

Sumber: Media Indonesia, Jumat, 19 September 2008

Label: , , ,

Nikmatnya Jajan Nasi Jajan Madura

Nasi Jajhan termasuk salah satu hidangan khas Madura yang berasal dari Pamekasan. Menu satu ini banyak dicari orang. Yang sudah biasa mencicipinya pasti ketagihan, yang belum pasti penasaran.

Dari segi penyajiannya, Nasi Jajan hampir serupa dengan nasi campur Jawa. Di masakan ini kita bisa menjumpai srundeng (parutan kelapa berbumbu), opor telur, dendeng ragi yang dibuat menarik dengan tekstur krispinya, daging osik-osik (daging yang dibumbu rendang) berwarna kuning keemasan, dan taburan bawang merah goreng.

Alasnya yang sejak dulu hingga sekarang berasal dari daun pisang memang terasa tradisional. Namun yang membuat menu ini patut dicoba adalah sambal khas berbahan petis asin yang selalu menemani. Telur di Nasi Jajhan berbumbu coklat karena petis dari Madura adalah petis coklat, bukan hitam seperti petis-petis biasanya.

Petis asin yang diracik dengan bumbu dapur lainnya ini memang menjadi kekhasan kuliner di Pamekasan. Mengingat di kabupaten ini juga terdapat sentra penghasil petis, rasanya pun begitu kental aroma ikan laut. Sementara itu, Anda juga akan “terserang” kepedasan khas Madura.

Mengapa disebut Nasi Jajhan? Nama ini muncul karena “jajhan” berasal dari bahasa Madura yang berarti jajan. Keterkaitannya, menu ini adalah menu yang diperuntukkan untuk orang yang suka jajan. Dalam perkembangannya, menu makanan ini kerap kali dibuat untuk acara-acara hajatan, sepeti perkawinan atau khitanan.

Sumber: rengoneng.com/

Label: , , ,

Colorful Batik Madura


BATIK Madura tak lagi asing terdengar di telinga. Bahkan salah satu kekayaan khasanah Indonesia ini telah beredar di beberapa belahan dunia. Performa batik asal pulau garam ini juga memiliki ciri khas yang membedakannya dengan batik dari daerah lain, seperti warna-warna cerah dan motifnya yang beragam menciptakan karakter masyarakat lokal.

“Batik Madura memiliki perbedaan warna dan motif dengan batik dari daerah lain. Warna batik Madura itu khas menggunakan warna-warna berani, mulai dari merah, hijau, kuning, dan biru,” ungkap Maimuna dari Pesona Batik Madura, ketika ditemui okezone dalam pameran yang diadakan di Belleza Permata Hijau, Jakarta Selatan, Kamis (21/2/2008).

Menurut perajin batik keturunan ke empat dari keluarganya itu, ciri khas batik pesisir dengan warna-warna berani dan corak bebas ini diproduksi dari daerah Bangkalan, Madura.

“Motif batik Madura berbeda karena pengaruh dari daerah pinggiran, yang biasanya ada gambar burung. Selain itu, batik Madura punya cerita masing-masing. Misal batik tipe Tasik Malaya merupakan penantian seorang istri menunggu suaminya. Ada juga cerita tentang panji suci, nyiur melambai, tar poteh yang punya latar putih bermakna sebagai kesucian seorang wanita. Dan cah keneh, yaitu perempuan cantik dari China,” jelas wanita keturunan Madura ini.


Menurut Maimuna, proses pembuatan batik itu meliputi beberapa tahap. Pertama, kain yang hendak digunakan terlebih dahulu direndam dalam air bercampur minyak dempel (istilah orang setempat) dan abu sisa pembakaran kayu dari tungku. Setelah direndam kemudian dicuci. “Biasanya kain yang digunakan adalah mentari sen atau kereta kencana,” ucap wanita ramah ini.

Setelah kering, sambungnya, proses selanjutnya adalah proses kanji lalu masuk pada tahap diisen, dikurik, dan ditembok. Kemudian dilanjutkan pada tahap pewarnaan yang dapat dilakukan berturut-turut, setelah itu kain batik dilorot. Proses ini merupakan usaha untuk menghilangkan malam (lilin) yang melekat pada kain, yaitu dengan memasukan kain ke dalam air mendidih. Terakhir, adalah menjemur di tengah terik sinar matahari.

“Proses pembuatannya memang lama. Hal dimaksudkan untuk mendapatkan warna kain yang pekat. Karena itu, warna kain Madura semakin pekat semakin bagus,” kata Maimuna.


Proses pembuatannya yang lama itu memang berimbas langsung pada harga kainnya menjadi lebih mahal. Meski demikian, Anda dapat memeroleh batik Madura mulai dari Rp50 ribu sampai Rp3,5 juta. Bagaimana, berani tampil dengan warna-warna cerah?

Sumber : Okezone.com

Label: , ,

Simbol Anti Hegemoni Dalam Cerita Rakyat Madura

Meskipun berada dalam kuasa subordinasi Jawa, kemaduraan bukanlah satu narasi sistemik yang harus terus menerus membisu dalam jalinan teks-teks dialogisnya. Dalam Persepsi Madura, Jawa memang terasa lebih unggul, superior dan mewakili sebuah teks mayor dalam lintas peradaban Nusantara. Istilah onggha (naik) yang disematkan bagi aktivitas pergi ke tanah Jawa, atau sebaliknya, toron (turun) bagi aktivitas transportasi dari Jawa ke Madura seakan-akan menempatkan Jawa sebagai mainland seperti posisi Amerika terhadap Alaska .

Oleh: Syarif Hidayat Santoso

Lambang Semiotika kultural ini sejujurnya telah menciptakan sebuah barikade persepsi mengenai keutamaan orang Madura yang mungkin tidak pernah tercatat secara permanen dalam kosmologi kemaduraan. Jawa yang mayor dipaksa hidup tanpa sadar dalam haluan berpikir masyarakat Madura. Unit kuasa wacana ini seakan mengabaikan fakta bahwa Madura sendiri memiliki persepsi sendiri tentang lingkup historis dan geografis kulturalnya.

Trunojoyo adalah satu-satunya figur non Jawa yang bisa memporak-porandakan hegemoni Sunan Amangkurat I. Jawa yang tidak pernah takluk, bahkan oleh Sriwijaya dan Sunda sekalipun, harus rela menyerahkan Plered, ibukota Mataram saat itu ketangan Madura. Peristiwa Medang Pralaya terulang kembali, kali ini bahkan lebih ironis, karena beratus tahun setelah itu, Jawa tak pernah melahirkan Airlangga kembali. Pemberontakan Trunojoyopun mewakili arus kegelisahan masyarakat Islam Jawa Timur akibat semakin merosotnya pengaruh Islam Giri Kedaton. Sikap diskriminatif terhadap ulama Giri yang digulirkan Mataram sejak Sultan Agung, ternyata mendapat perlawanan tidak saja dari otoritas kesantrian Giri Kedaton, namun masyarakat Madura yang priyayi seperti Trunojoyo.

Aliansi strategis kaum santri Jawa dan Madura berpadu dalam keningratan sekaligus. Ini merupakan fakta pertama bahwa tradisi Madura tidaklah terbelah kedalam santri, priyayi atau abangan sebagaimana Geertz mengkaji Mojokuto. Dalam diri Trunojoyo tersirat spirit pembelaan terhadap eksistensi politik lokal, keislaman dan identitas kultural. Di Madura, semua orang dapat saja menyebut dirinya santri, hatta yang paling blater sekalipun. Perlawanan Trunojoyo juga memberikan arti betapa etnis-etnis utama Nusantara (Trunojoyo yang mewakili Madura, Kaum santri Giri yang mewakili Jawa, serta Kraeng Galesong dari Bugis) dapat bersatu. Perlawanan lintas sektoral ini sebenarnya merepresentasikan sebuah simbol antitesis terhadap hegemoni kultur tertentu.

Bahwa di Madura, bukit dapat saja disebut gunung, atau hijau yang disebut biru merupakan kreatifitas anti hegemoni ini. Penyebutan simbolik tentang gunung ala Madura, yang mungkin bagi orang Jawa hanyalah secuil bukit merupakan bukti antitesis kreatif. Orang Jawa tidak akan pernah menyangka, bahwa “gunung” tertinggi di Madura hanyalah setinggi 400 meter. Orang Jawapun akan heran jika melihat air terjun versi Madura yang tidak lebih tinggi dari bubungan atap rumah bertingkat. Penyebutan biru bagi warna hijaupun sebenarnya mengandung sebuah kemoderenan. Paling tidak kalau kita berpikiran eurosentris yang menganggap barat lebih unggul dari timur. Karena dalam masyarakat Yunani di Eropa, hijaupun tidak dibedakan dengan biru (Mien. A.Rifai:2007).

Istilah onggha dan toron dalam perspektif geokultural seirama dalam kasus semiologi Timur Tengah yang juga subordinatif dan mengandung muatan sentimen psikokultural. Adalah Chelhold, pakar Semiotika barat yang mampu menjelaskan makna politik tangan kanan dan tangan kiri. Bagi Chelhold, istilah Yamin (kanan) dan Syimal (kiri), bukan saja persoalan pelekatan nilai namun menunjukkan sebuah ishomorfik peralihan moralitas dari baik ke buruk yang dimulai dari konsep politik geografi. Yamin (kanan) menurut Chelhold selalu berkaitan dengan Yaman, kawasan selatan Arab yang menjadi perlambang kebahagiaan besar (yumn), kemakmuran, keberhasilan. Yaman juga menjadi tempat berasalnya angin yang bertiup yang membawa keberuntungan. Konsep tentang Yaman ini dipertentangkan dengan syimal (kiri) yang menjadikan Arab bagian utara sebagai simbol. Kawasan utara Arab seperti Syiria (Syam) selalu dikaitkan dengan kiri yang memiliki makna kegagalan (su’m) serta sihir (Roger Joseph:1985).

Penelusuran Chelhold yang luar biasa ini menunjukkan bahwa nilai dalam agama bakupun sebenarnya mengandung muatan politis. Konklusinya, Islam sebagai tradisi paripurna ternyata juga memiliki deretan persoalan yang terbangun secara sinkronis-semiologis. Fakta bahwa Syiria yang menjadi simbol kiri ternyata lebih berperadaban, bahkan menjadi mercusuar di masa Khalifah Ummayah terlupakan. Sedangkan, Yaman sampai hari ini masih merupakan gabungan dari Islam Arab tradisional dan nomadisme yang sederhana. Juga fakta bahwa tidak selamanya angin yang bertiup dari Yaman sebagai simbol kemakmuran juga terabaikan. Sebuah hadits Nabi menyebut bahwa bertiupnya angin sejuk dari Yaman di akhir zaman merupakan tanda kematian massal orang beriman.

Karenanya, persepsi bahwa Madura lebih rendah dari Jawa dalam konsep onggha-toron sebenarnya merupakan imagologi yang terbangun oleh tanda-tanda berlebihan (superlative sign) sekaligus tanda artificial (artificial sign) untuk mengkonstruksi komunitas Madura sebagai ikon dalam stigma rendah. Infrastruktur budaya yang ditanamkan Jawaisme nampaknya sukses menempatkan penanda-penanda ini dalam konstruksi budaya. Konstruksi palsu ini melupakan fakta bahwa Mbah Kholil Al Bangkalani di suatu masa, merupakan sentral ilmu agama yang memancing santri-santri Jawa untuk berguru.

Menurut Paul Ricoeur, dunia simbolik adalah milieu eksplisitasi diri. Dimana arti ditampilkan karena tanda-tanda (signs) merupakan cara, milieu, medium yang diekspresikan manusia untuk memproyeksikan diri. Efeknya, Dunia memahami tidak dapat dipisahkan dari memahami diri sendiri (W. Poespoprodjo:2004). Namun, pemahaman ini tidak begitu kompeten kalau tidak ditabrakkan dengan teks lain yang menjadi apa yang disebut Gadamer sebagai fusi cakrawala dimana terdapat potensialitas data tradisi masa lalu dan masa kini. Hermeneutika pemahaman dapat dimungkinkan untuk membuka ruang dialektik masa lalu yang telah membentuk kesadaran ruang masa kini. Mengapa kekerasan, kekasaran, kepongahan plus keluguan dinisbahkan kepada komunitas Madura? Bukankah etnis lainnya secara general juga memiliki tipe-tipe kekerasan. Aspek sejarah perlawanan Madura yang tidak pernah akur dengan hegemoni Jawa ini telah menjadikan Madura sebagai korban stereotip sebagaimana Blambangan yang diidentikkan dengan santet. Meskipun tidak ada legenda Menakjinggo di Madura, tapi perendahan nilai-nilai Madura justru terjadi melalui stereotip kultural. Namun, kreatifitas Madurapun telah menunjukkan bahwa tidak selamanya manusia Madura bisa direndahkan oleh sebuah hegemoni.

Maduraisme sebenarnya telah membuka simbol ordinan-hegemonis yang telah merendahkan kualitas masyarakat Madura ini. Sejak lama Madura telah mengatakan bahwa dirinya superior di hadapan orang manapun bukan hanya di hadapan Jawa, tapi juga di hadapan Cina, VOC dan Belanda. Legenda Raden Segoro misalnya menunjukkan tendensi perlawanan itu. Legenda ini seakan menjabarkan bahwa Madura sama egaliternya dengan Jawa. Legenda Raden Segoro memberitakan adanya persepsi defisit tentang Madura di mata orang Jawa masa lalu. Karenanya, diperlukan sebuah pembangkangan yang estetis melalui sastra. Cerita rakyat tentang Raden Segoro menunjukkan 3 afirmasi sekaligus. Pertama, bahwa orang Madura juga memiliki trah geneologis yang sama dengan orang Jawa seperti silsilah Raden Segoro yang dinisbahkan kepada putri Medangkamulan. Kedua, bahwa kyai Poleng yang orang Jawapun dapat menjadi bawahan orang Madura. Ketiga, bahwa orang Madura merupakan figur substitutif yang dibutuhkan orang Jawa yang terlihat dari keterlibatan raden Segoro sebagai satu-satunya kesatria yang dapat menghalau musuh dari Cina.. Kehebatan Raden Segoro ini menunjukkan bahwa eksistensi Madura dalam kosmologi pemahaman populer bukanlah sebuah unsur komplementer tapi sebuah identitas yang dapat saja berperan sebagai pengganti peran utama. Dalam cerita rakyat Raden Segoro, Jawa dan Cina dilawan sekaligus.

Babad Sumenep pun menunjukkan bahwa Dampo Awang sebagai teks antagonis Majapahit ternyata hanya bisa dihadapi oleh Joko Tole. Juga bahwa hegemoni keraton Jawa tidak selamanya sakral namun juga diwarnai hipokrasi seperti kedengkian Patih GajahMada terhadap Joko Tole. Epos Joko Tole ini juga mengajarkan bahwa antara Madura dan Gresik terdapat harmoni yang absolut karena adik Joko Tole, Banyak Wedi diangkat sebagai raja Gresik. Garis relasi antara Joko Tole dengan Gresik sebenarnya mengandung pesan simbolik teritorialisasi eksis tak terpisahkan antara Kemaduraan dan Kesantrian sekaligus. Bukankah Gresik di era Majapahit akhir merupakan poros kekuatan politik Islam di Nusantara. Cerita ini membenarkan bagi aliansi strategis antara Keningratan Madura dengan Kesantrian Giri Kedaton yang menjadi modal besar aliansi strategis Trunojoyo-Giri. Juga sebuah sinisme bagi nilai-nilai kejawen yang terkembang saat itu. Pengarang Babad Sumenp nampaknya tidak memilih wilayah lain di Jawa seperti Matraman sebagai area kekuasaan Banyak Wedi, namun justru wilayah pesisir yang Islam seperti Gresik sebagai alur cerita. Disini, Babad Sumenep ingin menggariskan kompleksitas kesatuan Islam pesisir utara Jawa yang dinamis dengan kemaduraan yang agraris.

Juga tentang keterpikatan Ratu Japan terhadap Pangeran Sumenep dalam babad Sumenep, seakan mengajarkan hasrat Jawaisme yang berupaya menganeksasi Madura tanpa batas. Metanarasi ini sebenarnya berasumsi bahwa telah terjadi perang simbol (symbolic war) dimana cinta dan kekerasan dijadikan tanda (signifier). Dalam cerita ini diinformasikan tentang kekerasan hati Ratu Japan agar dapat bersuamikan pangeran Sumenep yang sebenarnya sudah beristri. Ketampanan Pangeran Sumenep yang mampu memikat Ratu Japan sampai mabuk kepayang ini seakan menepis fakta bahwa orang Madura sebenarnya tidaklah lebih tampan dari rata-rata orang Jawa. paling tidak sebagaimana dikumpulkan oleh Huub DeJonge dari pengamat barat masa lalu yang menyebut laki-laki Madura dengan muka lebih lebar, tidak halus, tulang pipi menonjol serta sifat permukaan yang garang dan kasar(Van Gennep:1921), berwajah beringas (Veth:1907), tubuh yang berbulu dan muka yang brewok baik pada rakyat maupun bangsawanya (Si Lindoeng:1898) serta tampak kurang ajar (Esser:1894).(Mien.A.Rifa’I:2007).

Ratu Japanpun hanya memberikan dua opsi bagi Pangeran Sumenep yaitu menerima cintanya atau perang. Dalam politik kontemporer, Ratu Japan dalam Babad Sumenep dapat disamakan dengan Bush Junior dalam kebijakan stick and carrotnya. Penanda ini sebenarnya telah membentuk makna tertentu (signified) yaitu bahwa Jawa tidaklah selamanya anggun, lembut dan romantis. Namun, ia dapat juga keras jika tidak mau dituruti hegemoninya. Dalam Babad Sumenep, Jawa dilambangkan tidak dalam konstuksi monolitis, tapi juga polisemi.

Cerita inipun sebenarnya telah mengalami kategorisasi anti hegemonik yaitu penggunaan mekanisme oposisi biner dalam rangka menciptakan sebuah penggolongan baru siapakah yang layak disebut keras dan siapa yang pantas disebut lembut. Ideologisasi anti hegemonik ini seakan berargumentasi “karena Ratu Japan (orang Jawa) adalah keras, maka sudah pasti kami (orang Madura) tidaklah keras. Kerasnya kami (orang Madura) adalah kekerasan demi harga diri dan martabat”. Disini, Simbol flamboyanitas Jawaisme dipatahkan secara halus, estetis, berperasaan dalam simbol paralogisme cerita Ratu Japan . Cerita-cerita tersebut sebenarnya mengandung sebuah pertukaran simbol (symbolic exchange) tanpa sadar, dimana lemah lembutnya orang Jawa dibarter dengan kerasnya orang Madura. Kritisisme ala Madura ini sebenarnya telah mengajarkan bahwa Jawaisme tidak selamanya berdiri diatas prinip Ojo Dumeh seperti yang diperankan Raja Majapahit dalam cerita Joko Tole namun juga berprinsip Ing Ngarso Ngumbar Angkoro seperti peran Ratu Japan.

Beberapa bagian cerita rakyat diatas sebenarnya cukup membuktikan bahwa Madura tidaklah pernah menyerahkan kekuasaannya terhadap hegemoni manapun. Studi ini menjelaskan betapa Maduraisme yang terkesan konservatif, minor, rigid, polos dan tidak intelek itu sebenarnya telah melakukan kritik menurut caranya sendiri. Sebuah pemahaman yang egaliter bahwa setiap manusia memang harus teguh terhadap tradisinya serta tekun membangun jatidiri yang teguh di atas terpaan budaya lain.

Syarif Hidayat Santoso adalah Alumnus Hubungan Internasional FISIP UNEJ

Label: , , , ,

Madura Heritage




Makam Sultan Abdul Kadirun, Raja Islam Bangkalan, Pendiri Masjid Agung Bangkalan



Pasarean Aer Mata



The Great Mosque In Sumenep: Has Unique Style And Design



The Great Mosque In Sumenep

Label: , ,