Internet Berguna bagi Lansia untuk Kurangi Kesepian

BBC/Ilustrasi


Sebuah studi di Australia yang mengajarkan para lansia untuk menggunakan program seperti Facebook mengatakan, media sosial sangat berguna mengurangi perasaan terisolasi dan kesepian di kalangan lansia tersebut.

Para peneliti dari proyek Menghubungkan Para Lansia (Connecting Older Adults) mengatakan juga bahwa meskipun teknologi ini membantu kelompok lansia Australia tinggal di rumah mereka sendiri lebih lama, sebagian masih merasa terisolasi dari masyarakat.

Tim dari Universitas Sydney telah melatih lebih dari 150 orang lansia untuk menggunakan Twitter, Facebook, dan Skype, serta mengecek kemajuan mereka selama enam bulan secara teratur.

"Berdasarkan latihan yang mereka dapat, para lansia ini mengatakan teknologi yang ada bermanfaat bagi mereka untuk mengurangi perasaan kesepian dan berhubungan dengan orang lain," kata Prof Robert Steele, peneliti utama proyek tersebut.

Menurut laporan ABC, salah seorang peserta, Mila Pinko (67) dari Sydney, mengatakan bahwa media sosial ini membuat dia merasa menjadi bagian dari masyarakat. "Saya tidak merasa kesepian, tidak merasa depresi," katanya.

Pinko mengatakan sejak mendapat pelatihan, dia menggunakan media sosial setiap hari. "Mereka mengajarkan Facebook dan Twitter, hal yang belum pernah saya sentuh sebelumnya," kata Pinko lagi. "Dengan Skype, itu sangat membantu karena saya bisa mengirim file, dan juga bisa berbicara, bisa mengirim dan menerima foto."

"Facebook, saya mulai menggunakannya untuk mengirim file video atau foto yang besar, dan tetap berhubungan dengan sanak saudara atau teman." "Bila saya ingin tahu apa yang terjadi dengan teman-teman saya, saya akan melihat halaman Facebook teman-teman," lanjut Pinko. Ia menggunakan Skype untuk berkomunikasi dengan putra dan cucunya yang tinggal di luar negeri.

"Dalam sehari, saya bisa mendapatkan empat atau lima panggilan lewat Skype. Fantastis. Saya bisa melihat gambar anak-anak dari teman-teman dan cucu mereka," katanya. Internet menurut Pinko membuatnya bisa berhubungan lagi dengan teman-teman lama. "Tahun ini, berarti sudah 50 tahun saya tamat dari sekolah. Namun, kami berhasil mengadakan kontak lagi dan saling melihat lewat Skype."

Menurut ABC, dalam enam bulan, tim dari Universitas Sydney mengukur tingkat kesepian sebelum dan sesudah menggunakan sosial media. "Hasilnya cukup mengejutkan. Mereka merasa tidak lagi kesepian. Sebanyak 80 persen dari peserta mengatakan akan terus menggunakan media sosial setelah masa percobaan selesai," kata Prof Steele.

Menurut laporan koresponden Kompas di Australia, L Sastra Wijaya, proyek Menghubungkan Para Lansia ini adalah proyek yang dibiayai oleh Departemen Pelayanan Keluarga dan Masyarakat Australia. Komisioner Diskriminasi Umur Federal Susan Ryan berharap Pemerintah Australia memberikan subsidi sehingga para lansia bisa memiliki akses internet di rumah-rumah mereka.

"Mereka yang berusia 70, 80, atau 90-an tidak tumbuh bersama komputer. Mereka mungkin sudah pensiun ketika komputer menjadi bagian dominan dalam kehidupan kantor, jadi mereka kurang percaya diri," kata Ryan.

"Mereka hanya perlu sedikit latihan, dan banyak contoh menunjukkan bahwa bahkan ketika berusia 90-an pun, mereka bisa menguasai komputer," tambah Ryan. Penelitian oleh Universitas Sydney hanya memberikan pelatihan sosial media selama enam jam. Namun, para lansia ini sendiri terkejut mereka sendiri begitu cepat bisa menguasai komputer.

"Pada awalnya saya takut, saya akan menekan tombol yang salah, tetapi ternyata sederhana dan mudah. Saya rasa kalau saya bisa melakukannya, siapa saja akan bisa," kata Pinko. (Penulis: L Sastra Wijaya/Editor: Robert Adhi Ksp)

Sumber: Kompas, Minggu, 24 Maret 2013

Label: ,

Untuk Direnungkan

"Suatu jaman yang sudah sangat lalu, ada seorang bangsawan yang kaya raya di China, ketika akan meninggal memanggil kedua anak nya, dan memberi pesan: “Anak2 ku, seluruh hartaku akan kubagi dua dan kuberikan kepada kalian.“ Dan kedua anaknya yang sangat berbakti mendengarkan dengan seksama.

“Ada dua syarat yang harus kalian penuhi.“ Sang ayah menyambung dengan nafas yang terengah-engah. “ Pertama, pada setiap hari kerja, kalian tidak boleh terkena sinar matahari.” Dan kedua, setiap hari, kalian harus mamakan lima puluh ekor binatang. “ Kedua anaknya mengangguk angguk, ingin bertanya, tetapi tidak berani juga, apalagi sang ayah sudah dalam keadaan sangat kritis.

Sang ayah pun meninggal setelah memberi petuah tersebut. Sang kakak pindah ke utara, dan sang adik pindah ke selatan, dan mereka tidak pernah betemu sampai pada suatu saat empat tahun kemudian ketika bersama sama menyambangi kuburan sang ayah.

Sang kakak berkata: “Dik, semua hartaku sudah habis sejak dua tahun lalu, karena petuah ayah. Setiap hari aku kemana mana ditandu, dan selalu ada empat orang yang harus siap menandu setiap saat. Akupun berpesta pora setiap hari untuk bisa menghabiskan lima puluh ekor binatang. Harta warisan pun telah habis sejak dua tahun lalu. Semua karena petuah ayah.”

Sang adik menjawab: “Kak, hartaku telah melipat dua kali, semua ini karena petuah ayah. Setiap hari aku pergi bekerja sebelum matahari terbit dan baru pulang setelah matahari terbenam. Dan setiap hari aku makan ikan teri.”

Cerita lama yang sering saya pakai dalam seminar saya. Karena saya yakin setiap nasehat harus kita terima dan cermati dengan seksama, karena tidak semua hal adalah cocok untuk kita. Jangan mudah mengikuti teori2 bisnis, termasuk nasihat saya, timbanglah dengan cermat dan benar sebelum mengikuti nasehat siapa saja. Kadang kita harus paham benar maksudnya sebelum mengikuti petunjuk itu. Apalagi hal2 yang terlalu menggiurkan: Tanpa resiko menjadi kaya; Teori keuangan dengan kurva sakti bermain saham selalu untung; Beli properti tanpa resiko tanpa modal dan pasti profit besar; Obat mujarab profit tinggi, tinggal mencari 3 kaki sudah mendapat pasive income selamanya; Internet bisnis menghasilkan kekayaan tanpa perlu kerja keras; dan seterusnya. Semakin manis kelihatannya, semakin jauh dari kenyataan.

Bisnis selalu sulit, selalu penuh resiko, selalu membutuhkan keringat, airmata, dan darah, sebelum kita bisa melihat keuntungan. Tidak pernah ada yang mudah dan enak dan tanpa resiko dan berpenghasilan besar. Berhati hatilah pada fatamorgana dan ilusi yang membuat itu seolah olah benar.

Berteriak teriak saja “Suksess ... Suksessss” tidak akan membuat anda sukses. Bekerja tekun, belajar lagi, bekerja lagi, gagal lagi, bekerja lagi, jatuh lagi. Pelahan kita membangun sukses kita, kita bayar harga setiap kemajuan dan kita lunasi semua kewajiban kita. Satu langkah demi satu langkah, kita langkahi pelahan-lahan perjalanan sukses kita.

[keluar]

*Tanadi Santoso, 15 Nov 2012. Silahkan copas atau share bila bisa berguna buat friends anda.

Label: , ,

Watatita: What Can You Do for Your Country?

Drawings by Alexia Cahyaningtyas

Last weekend, my brother graduated with his master’s degree from a private university, and being a supportive sister, I came and watched his graduation ceremony. My mother and I sat at one of the higher seats and we had a great view of the whole room. From there I could see hundreds of new graduates from the bachelors, masters to the doctorates. It triggered a feeling of pride and happiness for these people who worked hard -- some even managed to reach a GPA above 3.8.

Before the names of the graduates were called to the stage, the choir sang a national song called “Padamu Negeri” (“To You My Nation”) -- a very moving and incredibly emotional national song. I couldn’t help it and started bawling my eyes out. Why? All of a sudden, it made me realize something that never crossed my mind before.

by Alexia Cahyaningtyas

In a split second, all these thoughts came running through my head. This kind of graduation ceremony is held every year in every university in Indonesia, and each time it is held, hundreds of people graduate. This means that Indonesia has a lot of smart people – smart enough to complete projects, write essays, discuss issues, and ultimately obtain a university degree. However, as we all can see... our country is still a big catastrophe.

It made me feel so awful to think that a percentage of these graduates may not use their degree for something positive. As the song "Padamu Negeri" was sung, and there I was sobbing away, I realize that when we get educated, we should contribute our knowledge to build and improve this country. During times like these, educated people must make a contribution to society rather than just making money to satisfy each individual interests. Yes, I agree that people do work hard to reach a high level of education and yes, they do have the right to make their own money, but for goodness' sakes, use your knowledge to help this country. Your ideas and your contributions could be a gift to Indonesia.

Many clever, intelligent people out there use their knowledge to cheat, to disadvantage other people, to acquire great power, and, worse, even to corrupt. Unfortunately, these sorts of people come out victorious in Indonesia and cause imbalance, suffering, and injustice. Fortunately, yes there are also many of us out there who uses their knowledge for something positive, to contribute to society, to create balance, to create peace, to provide help, to become real leaders. From the bottom of my heart, I would like to really, really thank these people.

Sumber: The Jakarta Globe

This blog post can also be a reminder to myself. What can I do for Indonesia? It doesn’t matter if you’re a doctor, a university student, a middle school student – start asking yourself, what can you do for your country?

[keluar]



Label: , ,

Posisi Bantal yang Sehat Untuk Tidur

Pernah merasa nyeri di leher, punggung, dan bahu saat bangun pagi? Jika iya, maka coba perbaiki posisi tidur dan tata letak bantal kita.
Rasa letih setelah seharian kerja membuat kita ingin langsung merebahkan diri di atas kasur dan segera tidur. Namun, yang terjadi keesokan harinya malah badan terasa nyeri semua. Jangan langsung menyalahkan kualitas tidur kita saja, tapi periksalah posisi tidur dan bantal kita terlebih dahulu. Posisi tidur yang benar adalah kunci untuk bisa bangun segara pada pagi hari tanpa rasa nyeri atau sakit. Hal ini disampaikan Dawn Underwood, DPT, OCS, ahli terapi fisik dari Mayo Clinic.
Untuk yang tidur menyamping , letakkan bantal di kepala dan di antara kedua lutut. Bila perlu, maka tambahkan gulungan handuk di bawah pinggang. Cara ini akan membantu meredakan ketegangan pada sendi tulang belakang dan mempertahankan kontur normal tulang.
Untuk yang tidur telentang , pertahankan kontur normal tulang belakang dan buat lutut kita lebih nyaman dengan cara menaruh bantal di kepala dan di bawah lutut kita. Tambahkan juga gulungan handuk pada punggung bagian bawah jika perlu.
Untuk yang tidur telungkup , taruh bantal di bawah panggul kita dan bila perlu tambahkan gulungan handuk di pergelangan kaki atau dekat mata kaki. Metode ini sangat baik untuk meredam rasa sakit bagi orang yang mengalami pembengkakan pada bantalan tulang belakang.
Untuk yang tidur berubah-ubah , tingkatkan kesehatan kontur tulang belakang kita seoptimal mungkin dengan cara memperbaiki posisi bantal yang disesuaikan dengan posisi awal tidur setiap kali kita terjaga.
Tips: Kita cukup menggunakan satu bantal saja untuk menyangga kepala dan leher. Untuk orang yang memiliki kebiasaan tidur telungkup, hindarilah menyangga kepala dengan bantal. Kondisi ini akan membuat tulang belakang menjadi tegang.

[keluar]

Sumber: Posisi Bantal yang Sehat Untuk Tidur

Label: , ,

Tetap Optimistis Walau Tanpa Dukungan Keluarga

Andhika Arief Rahmadhani

JIWA wirausaha memang sudah diperlihatkan Andhika Arief Rahmadhani (28) sejak masih duduk di bangku SMP. Berbekal kegemaranya dibidang desain dan memanfaatkan peluang yang ada, dia mampu membuktikan kepada keluarga dengan hasil kerja keras yang sudah dia peroleh sampai saat ini.

Pria muda berpawakan tinggi putih ini, mengawali bisnis usahanya di daerah Madura, tempat keluarga besarnya tinggal. Andhika membuka rumah makan berjuluk ’Bebek Raja’ (kini bernama RaBek alias Raja Bebek) pada tahun 2008. Dengan mengembangkan resep keluarga, dia memberanikan diri bersaing dengan bermacam-macam brand bebek yang sudah terkenal.

Ternyata, saat langkah awal masuk di dunia wirausaha tidak semulus yang dia harapkan, karena dari pihak keluarga terutama sang Ibu tidak memberikan dukungan, karena kekhawatiran di dunia usaha yang tidak selalu pasti.

”Dari awal memulai usaha ini, Ibu tidak pernah memberikan dukungan karena beliau ingin saya menjalani pekerjaan yang pasti. Maklum namanya orang tua selalu menghawatirkan, ya takutnya saya gagal,” tutur Andhika.

Namun dengan kegigihan dan kerja kerasnya, pria lulusan D3 jurusan creative adv design ini mampu membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa dengan mengelola usaha bebek, dia mampu menghasilkan omzet sampai 120 juta rupiah per bulan. Setiap harinya rumah makan yang dikelola Andhika mampu menghabiskan 60-80 ekor bebek.

Andhika mengatakan, memang awalnya saya beri nama Bebek Raja. ”Namun karena pada waktu itu pelanggan saya yang di Madura kebiasaan membalik kata akhirnya mereka menyebut raja bebek, disingkat menjadi ’RaBek’ dan sampai saat ini, saya sudah membuka di dua kota Madura dan Surabaya, untuk omzet terbesar ada di Madura,” tukasnya.

Andhika membuka usaha bebek, termasuk pengalaman baru dari pekerjaan yang dulu dia geluti. “Demi bebek, saya banting setir loh mbak, dulu saya di Entertaintment mengurus event organizer (EO), kontrak band ke kota-kota seperti Bali, Jogja, Solo dan pernah menjadi editor disalah satu majalah yang terbit di Bali,” ujarnya. Namun setelah tahun 2008, dia berhenti. Karena lelah harus kontrak untuk ngeband berkisar sampai tiga bulan tambahnya.

Sementara itu kendala saat ini yang dikeluhkan Andhika, lebih kepada mengatur sistem manajemen, “Saya ingin membuat struktur sistem, agar pengelolaan usaha ini bisa berjalan dengan baik. Yah layaknya membuat officenya lah mbak, biar tidak kocar kacir,” ungkapnya.

“Meskipun saya memiliki brand baru di Surabaya, tapi saya juga belajar mengedukasi kepada para pembeli agar dapat membedakan antara bebek dan mentok. Karna memang kebanyakan dari pembeli tidak bisa membedakan mana bebek dan mentok,” ujarnya.

Dengan pemasaran melalui online, sms, brosur, bebek RaBek Andhika mendapat banyak pesanan dari perusahaan-perusahaan besar yang ada di Surabaya.

Andhika membagi trik dan tips untuk pemula, yang ingin mengikuti jejaknya sebagai wirausahawan muda.

“Jika ingin memulai usaha, harus punya konsep, kita tidak perlu modal pribadi, dari konsep yang kita buat, kita bisa mencari investor untuk memodali usaha kita,” ujarnya. Adapun arti sebuah kesuksesan bagi Andhika adalah, lebih banyak berbagi kepada semua orang.

”Percuma saja jika kita sukses sendiri. Akan tetapi orang-orang yang di belakang kita juga harus sukses,” ungkapnya. (m10)

[keluar]

Sumbber: Surabaya Post, Selasa, 10/04/2012

Label: , , ,

Heart-powered pacemaker could one day
eliminate battery-replacement surgery

A new power scheme for cardiac pacemakers turns to an unlikely source: vibrations from heartbeats themselves.

Engineering researchers at the University of Michigan designed a device that harvests energy from the reverberation of heartbeats through the chest and converts it to electricity to run a pacemaker or an implanted defibrillator. These mini-medical machines send electrical signals to the heart to keep it beating in a healthy rhythm. By taking the place of the batteries that power them today, the new energy harvester could save patients from repeated surgeries. That's the only way today to replace the batteries, which last five to 10 years.

"The idea is to use ambient vibrations that are typically wasted and convert them to electrical energy," said Amin Karami, a research fellow in the U-M Department of Aerospace Engineering. "If you put your hand on top of your heart, you can feel these vibrations all over your torso."

The researchers haven't built a prototype yet, but they've made detailed blueprints and run simulations demonstrating that the concept would work. Here's how: A hundredth-of-an-inch thin slice of a special "piezoelectric" ceramic material would essentially catch heartbeat vibrations and briefly expand in response. Piezoelectric materials' claim to fame is that they can convert mechanical stress (which causes them to expand) into an electric voltage.

Karami and his colleague Daniel Inman, chair of Aerospace Engineering at U-M, have precisely engineered the ceramic layer to a shape that can harvest vibrations across a broad range of frequencies. They also incorporated magnets, whose additional force field can drastically boost the electric signal that results from the vibrations.

The new device could generate 10 microwatts of power, which is about eight times the amount a pacemaker needs to operate, Karami said. It always generates more energy than the pacemaker requires, and it performs at heart rates from 7 to 700 beats per minute. That's well below and above the normal range.

Karami and Inman originally designed the harvester for light unmanned airplanes, where it could generate power from wing vibrations.

A paper on the research, titled "Powering pacemakers from heartbeat vibrations using linear and nonlinear energy harvesters," is published in the current print edition of Applied Physics Letters.

More information: Paper: http://apl.aip.org … ?bypassSSO=1

Provided by University of Michigan (news : web)

[keluar]

Sumber: PHYSORG, March 2, 2012

Label: , ,

Mengharukan, Kisah Imam 'Tukang Sampah' di Jakarta

Ditayangkan Televisi Inggris BBC


London binman, Wilbur Ramirez tinggal selama 10 hari di rumah Imam, tukang sampah di Jakarta.

Laporan mengenai kisah tukang sampah Jakarta yang disebut sebagai kota dengan pertumbuhan kota yang cukup pesat di dunia ditayangkan stasiun televisi Inggris BBC2, Minggu (29/1) malam.

Laporan wartawan BBC London berjudul 'Toughest Place to be a binman' membandingkan tukang sampah di London dan Jakarta menarik perhatian masyarakat Indonesia tidak saja di Inggris tetapi juga di Brussel,dan Amerika Serikat yang bisa menyaksikan tayangan tersebut melalui BBC Iplayer.

Selama satu jam laporan mengenai kisah Imam, tukang sampah di Jakarta yang bekerja mengumpulkan sampah setiap harinya dengan gerobaknya sementara diawal tayangan, tukang sampah dari Inggris Wilbur Ramirez mengunakan truk dan bekerja dengan dua rekannya.

Dalam laporan mendalamnya itu, BBC London membandingkan bagaimana kerja tukang sampah yang dikenal dengan binman di Inggris dengan tukang sampah di Jakarta yang sangat jauh berbeda dilihat dari berbagai segi bahkan kesehatan dan keselamatan.

Bahkan Wilbur Ramirez, ayah dua anak itu pun hidup bersama Imam dan keluarganya di perkampungan miskin ditengah tengah kehidupan kota Jakarta yang kaya dan sangat timpang antara yang kaya dan miskin.

Wilbur Ramirez, selama 10 hari, mengikuti Imam bekerja mengumpulkan sampah di kota yang disebutkan sebagai kota yang padat penduduk dan sampah menjadi masalah besar.

"Kamu bekerja dengan siapa saja," tanya London binman Wilbur Ramirez kepada Imam yang dijawab ia bekerja sendiri mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah.

Menangis

Melihat kehidupan Imam, ternyata Wilbur seringkali merasa terharu dan bahkan meneteskan air mata. Mana mungkin dengan gaji yang tidak seberapa Imam dapat hidup bersama anak dan istrinya meskipun mereka sama-sama bekerja sebagai tukang sampah selama lima tahun.

Dalam laporannya disebutkan Wilbur pun ikut mengumpulkan sampah dan bahkan menjajal melakukannya seorang diri dari rumah ke rumah.

"Sampah........," demikian teriak Imam, ayah dua anak ini sehari-hari menjalankan aktfitasnya sebagai pengumpul sampah.

Wilbur pun tidak dapat membendung air matanya ketika berkisah bagaimana kehidupan Imam dengan keluarganya yang tidak tersentuh oleh pelayanan kesehatan.

Dari dunia kesehatan dan keselamatan sadar pengelolaan limbah Inggris, Wilbur pun merasa takjub bagaimana sampah yang menumpuk di Bantargerbang dan dikerumuni oleh para pemulung tanpa memperhatikan kesehatan dan keselamatan mereka.

Diakhir laporan Wilbur yang tidak dapat membayangkan perjalanan kehidupan Imam dengan gaji yang tidak seberapa itu menemukan kehidupan Imam yang mendominasi, dan ketidakberdayaannya untuk mengubah keadaannya.

Pada akhirnya setelah Wilbur berbicara dengan ketua RT yang minta agar Imam mendapat kenaikan gaji pun dapat dikabulkan.

Menjadi Perbincangan di Internet

Zulindatando Berry Natalegawa menulis di laman Facebook-nya "sediiiiiih banget liat acara di BBC 2 di London hari ini acara seorang binman London ke Jakarta berbagi pengalaman".

"Sangat memalukan sekali kota Jakarta ternyata sangat kotor dan masih terbelakang sekali cara kerjanya," ujar istri Berry Natalegawa, kakak Menlu Marty Natalegawa.

Menurut Linda, demikian Zulindatando Berry Natalegawa, biasa disapa seharusnya para pejabat malu menyaksikan acara yang menjadi perhatian masyarakat di Inggris.

"Apa enggak malu? malah wakil rakyat seenak enaknya ambil uang rakyat apa lagi pemimpin negara yang tidak peduli sangat memalukan, semoga Allah bukakan mata dan telinga para pemimpin negara ini," ujar Linda yang bekerja di Kedutaan Besar Brunei Darussalam di London dan merekam program tersebut dan akan membawa ke Jakarta.

"Nangis aku nontonnya.....bukan nangisin tukang sampah Inggris, tetapi rakyat kita yang kerja mengais-ngais sampah," ujar Yanti Hitalessy.

Laporan dari BBC itu pun menjadi bahan diskusi di laman facebook yang antara lain disebut oleh Lies Parish meskipun sama berprofesi sebagai tukang sampah atau binmen namun pekerjaan dan kehidupan mereka sungguh jauh berbeda.

Bahkan London binmen pun sampai menangis menyaksikan bagaimana tukang sampah di Jakarta, ujar Lies Parish yang lebih dari 14 tahun menetap di Inggris.

Hamiyah Panama, ibu Amelie yang pernah menetap di Inggris dan kini tinggal di Brussel yang juga menyaksikan tayangan tersebut mengakui bahwa acara benar-benar kontras kehidupan di sana, miris.

Begitupun yang ditulis Tjatri Dwimunali yang tinggal di Bristol menulis tukang sampah di Inggris yang ikut bekerja sebagai tukang sampah di Jakarta pun merasa prihatin akan nasib tukang sampah di Jakarta, dan bahkan sering menangis melihat keadaan tukang sampah di Jakarta.

Redaktur: Ramdhan Muhaimin
Sumber: Antara

Sumber: Republika, Senin, 30 Januari 2012

Label: , , , , ,

Suara Hati Seorang Istri
Saat Suami Ingin Menikah Lagi



Terasa dunia akan runtuh ketika kau meminta izin kepadaku untuk menikah lagi. Membayangkan kau, suamiku tersayang, sedang membagi cinta, perhatian dan segala kesenangan duniawi lainnya dengan wanita lain, bukan hanya sekedar mendatangkan pusing dan mual tapi juga penyakit cemburu serta sakit hati yang mungkin tak akan berkesudahan bagiku. Jangan protes wahai suamiku, Bahkan istri-istri nabi yang muliapun, mereka tak bisa menghindar dari kecemburuan. Semua itu karena cinta yang teramat sangat untukmu.

Sejenak akupun buru-buru mengadakan koreksi kilat tentang apa yang kurang dari diriku, atau tentang apa yang selama ini menjadi kelemahanku selama ini. Seakan semua daya upaya akan aku kerahkan ketika menyadari bahwa kenyataan didepan akan sebentar lagi sampai kepadaku. Dan akhir dari usaha itu adalah cara yang aku fikir efektif untuk menghadang kenyataan takdir yang akan diberikan Allah untukku

Akhirnya hari itupun datang saat aku harus mengatakan sebuah jawaban untukmu. Ya Allah, wanita mana yang ingin cintanya terbagi. Wanita mana yang kuat melihat suaminya bermesraan dan bahagia bersama suamiku..suamiku yang sangat aku cintai. Ya Allah, bahkan jika kenyataan ini terbalik, dan dia berada pada posisiku, sanggupkah engkau wahai suamiku?

Imanku mengatakan aku bisa merelakanmu, namun kecemburuan dan perasaanku mengunci hatiku untuk tetap mengatakan tidak, tidak dan tidak untukmu. Pernikahan kita adalah tentang kita, kau dan aku, sama sekali tidak tentang dia. Dan lalu bagaimana mungkin kau tega memasukkan dia kedalam kebahagiaan kita? Apakah selanjutnya kita akan bahagia, suamiku?

Sekali lagi, aku tidak bisa lepas dari kodratku sebagai wanita yang identik dengan kecemburuan yang sangat melekat erat. Namun sekuat tenagaku aku mencoba tidak emosional. Sulit.. walaupun semua ini sangat sulit.

Namun... akhirnya kecintaan Allah menyadarkanku. Bukankah menikah adalah ladang amal bagiku untuk menggapai surga?, walau sekali lagi, Demi Allah sangat sulit merelakan bagian dari diriku masih harus ku bagi dengan orang lain.

Namun... sekali lagi, Bahasa iman menggugah kesadaranku kembali. Sekejab kupalingkan egoku untuk menilai maduku. Bukankah situasi ini juga menjadi cobaan bukan hanya untuk aku dan suamiku, tapi terutama adalah baginya. Betapa resiko sosial akan datang kepadanya, cap jelek sebagai perebut suami orang akan dilekatkan kepadanya. MasyaAllah, betapa aku juga mungkin tidak akan sanggup jika menjadi pelakon kisah hidupnya. Bukankah jodoh sudah digariskan Allah atas semua manusia. Diapun tak pernah bisa memesan dari mana jodohnya akan datang. Namun ketika jodohnya adalah suamiku sendiri, lalu apakah aku harus menyalahkannya, yang berarti pula menyalahkan Allah sang maha pengatur?

Dari pada aku memperburuk keadaan ini dengan prasangka yang menghinakanku sendiri, lebih baik aku menguatkan hati untuk membantu menguatkan suamiku. Suamiku.. seseorang yang telah bertahun-tahun menjadikan aku satu- satunya ratu didalam hati dan rumahnya, memulyakanku dengan segenap cinta dan kasih sayang, dan orang yang paling mengerti dan mencintaiku. Pantaskah jika akhirnya aku mennyebutnya sebagai pengkhianat atas kasih sayangku? pantaskah aku menyebutnya orang yang tidak tahu terimakasih atas semua pengorbanan dan kasih sayangnya? tidak, sama sekali tidak. Bahkan aku tidak akan rela gelar itu disebutkan kepada suamiku, bahkan oleh diri aku sendiri.

Sesuatu akan lebih berharga ketika hal itu telah atau akan meninggalkan kita. Semoga ketika kau telah bersamanya, akan ada penghargaan lebih atas kebersamaan kita. Dan aku pastikan kau tidak akan merasa ditinggalkan olehku, karena aku tahu bebanmu akan terasa lebih berat kedepannya, dan akan sangat sulit bagimu untuk memilih. Maka aku tak akan membawa engkau pada posisi memilih.Seperti yang disabdakan rasul yang mulia bahwa wanita sholihah adalah perhiasan terindah bagi suaminya, dan subhanallah, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekaranglah saatku untuk membuktikan padamu bahwa aku pantas menjadi perhiasan terindah yang pernah kau miliki, dan aku benar- benar menyayangimu.

Aku buka pikiranku dengan keikhlasan. Dan keikhlasan itu akhirnya berbuah pikiran bahwa engkau bukanlah milik ku yang abadi. Aku khkawatir ketika cinta itu melekat erat dihatiku, justru kesenangan hidup itu akan menjadikanku mendua terhadap cinta kepada zat yang maha mencinta. Ah ternyata keikhlasan itu tidak selamanya menyakitkan. Menyakitkan hanya bagi mereka yang merelakan diri mereka sakit dan menyia-nyiakan perolehan pahala yang seharusnya bisa menjadi miliknya.Dan sebagai pribadi yang ingin lebih pintar, aku tentu tak akan melakukan hal itu. Ternyata Keikhlasan itu nikmat jika dalam menjalaninya hati condong kepada cinta hanya kepada Allah.

Ya Allah semoga surga Mu akan menjadi seindah-indahnya tempat kembaliku kelak, dan semoga kau jadikan aku sangat lebih bahagia bersanding dengan suamiku disana, dalam kehidupan yang abadi.

Subhanallah, iman menguatkanku, ikhlas melegakanku, dan Allah memang benar- benar menyejukkan hatiku, bahkan saat aku berada sendiri disini, dan kau berada disana wahai suamiku.

Setelah kesejukan itu memenuhi relung hatiku, untuk selanjutnya aku memohon maaf kepadamu wahai suamiku, bahwa karena cintaku kepada Allah telah mengalahkan cintaku kepadamu. Aku yakin kau bukanlah pribadi yang akan menjadikan Alquran sebagai tameng bagi nafsumu sendiri.Kau dengan tekadmu yang ingin memuliakannya sebagai mana kau memuliakanku sebagai istrimu karena Allah, maka akupun akan merelakanmu pula karena Allah. Semoga kelegaan hatiku dan kemuliaan niatmu bukan hanya sekedar omong kosong, namun akan menjadi bukti nyata pernyataan cinta kita yang hanya karena Allah. Dan kini, aku mempersembahkan wanita itu untukmu. Benar- benar sebuah akhir yang sangat melegakan bagi sebuah kecintaan yang hanya karena Allah... (Syahidah)

Sumber: VOA of al-Islam, Senin, 23 May 2011 Cetak

Label: , , , ,

How to Make a Crop Circle







Sumber: YouTube

Label: , ,

E-Learning atau Online Learning

He he he, ini istilah membingungkan. Dewasa ini, banyak istilah-istilah baru yang mungkin membuat kita bingung terkait dengan ICT dan pendidikan. e-learning, online learning, blended learning, mobile learning de el el. Saya ingi berbagi pendapat saya tentang semua ini, saleh-saleh dikit tolong ingetin ane.

Oleh Uwes A. Chaeruman

Menurut beberapa definisi, yang dimaksud dengan e-learning adalah sebagai berikut:
  • Learning activities based on any electronic format.
    www.teach-nology.com/glossary/terms/e/
  • Any technologically mediated learning using computers whether from a distance or in face to face classroom setting (computer assisted learning).
    www.usd.edu/library/instruction/glossary.shtml
  • Covers a wide set of applications and processes such as web-based learning, computer-based learning, virtual classrooms, and digital collaboration. It includes the delivery of content via Internet, intranet/extranet, audio and videotape, satellite, and CD-ROM. However, many organizations only consider it as a network-enabled transfer of skills and knowledge.
    www.neiu.edu/~dbehrlic/hrd408/glossary.htm
  • learning facilitated and supported through the use of information and communications technology, e-learning can cover a spectrum of activities from supported learning, to blended learning (the combination of traditional and e-learning practices), to learning that is entirely online. Whatever the technology, however, learning is the vital element. …
    internal.bath.ac.uk/web/cms-wp/glossary.html
Cukuplah empat definisi di atas memberikan gambaran kepada kita tentang apa itu e-learning dan ada sedikit pencerahan tentang bedanya dengan online learning. Secara sederhana, yang dimaksud dengan e-learning adalah segala aktifitas belajar yang menggunakan bantuan teknologi elektronik. Dengan demikian pembelajaran yang memanfaatkan salah satu atau kombinasi dari beberapa fasilitas seperti web, pembelajaran berbantuan komputer (CDROM), video conference, chatting, radio, televisi, telephone (seluler atau bukan), dan lain-lain dapat dikatakan sebagai e-learning. e-Learning juga dapat diaplikasikan dalam pendidikan konvensional dan apalagi pendidikan jarak jauh.

Nah, sekarang apa yang dimaksud dengan online learning? Jelas bahwa online learning adalah salah satu bentuk dari e-learning. Tapi untuk lebih jelasnya, kite liat definisi berikut: Any learning experience or environment that relies upon the Internet as the primary delivery mode of communication and presentation. (www.intelera.com/glossary.htm). e-learning specifically over the internet as opposed to other networks. (www.onlinedegreezone.com/distance-learning_terms.php)

Jadi, secara khusus online learning adalah salah satu bentuk e-learning (pembelajaran berbasis elektronik) yang baik materi (content) maupun penyampaiannya (delivery methode) menggunakan internet (www). Patokannya adalah ini, walaupun banyak pula orang mendefinisikan (saya tidak kutipkan definisinya disini) yang menyatakan bahwa online learning adalah sinonim dari e-learning.

Tapi, janganlah pula kita terlalu memperdebatkan masalah definisi. Yang penting, ketika kita bicara e-learning maupun online learning, jangan sampai hanya terfokus pada kata 'e' atau 'online'-nya saja sehingga melupakan kata 'learning'-nya itu sendiri. Justeru, yang menjadi penekanan adalah bagaimana peristiwa belajar (learning event) itu terjadi dengan bantuan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi. Begitu .....?

Maklum, sekarang ini kan latah. Agar dibilang suatu institusi pendidikan atau sekolah telah menerapkan e-learning berlomba-lombalah memperbanyak lab komputer. Padahal, komputer tersebut dengan sodara-sodaranya hanya digunakan untuk belajar tentang komputer, yang seharusnya digunakan untuk belajar dengan (learning with) atau belajar melalui (learning through) komputer, internet atau bentuk ICT lainnya.



[keluar]

September 20th, 2007

Label: , , , , ,

Encouragement

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu ttelah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Oleh Rhenald Kasali

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan
diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai?
Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi
nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes,
ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat.

"Maaf Bapak dari mana?"
"Dari Indonesia," jawab saya.
Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya.
Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

"Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini,"lanjutnya. "Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! " Diapun melanjutkan argumentasinya.

"Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan studi saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut 'menelan' mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti."

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi saya mengatakan 'gurunya salah'. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orang orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina, atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Thursday, 15 July 2010

www.aisoftsolution. com

Label: , ,

Menjadi Kaya dengan Sedekah







Semua berawal dari perkataan teman tentang sedekah. Dia bercerita tentang Ustad Yusuf Mansur yang menganjurkan sedekah untuk mendapatkan tujuan kita. Dalam kondisinya, dia ingin segera menikahi tambatan hatinya namun kekurangan biaya. Ia pun mulai bersedekah berdasarkan jumlah nominal uang yang ia perlukan untuk membuat resepsi pernikahan nanti.

Karena penasaran dengan Ustad Yusuf Mansur yang telah membuat teman saya sangat terinspirasi itu, saya pun segera mencari informasi tentang Ustad Yusuf Mansur. Ternyata saya menemukan film ‘Kun FayaKuun‘ yang dibuat oleh Ustad Yusuf Mansur. Film ini bercerita tentang kehidupan seorang tukang kaca yang jauh dari mencukupi, namun tukang kaca itu tidak berputus asa dari rahmat Allah dan ia tetap bersedekah meskipun kekurangan.

Film ini sangat menginspirasi saya sehingga malam itu juga saya memutuskan besok pagi saya akan naik bis ke kantor agar bisa membeli banyak barang yang ditawarkan ke saya di dalam bis dengan maksud sedekah. Alhamdulillah, baru saja berniat seperti itu, besok paginya saya diajak meeting mendadak oleh seseorang dan dari pembicaraan kami telah lahir sebuah peluang yang nilainya ratusan kali lipat dari jumlah yang saya niatkan untuk sedekah. Subhanallah, baru niat saja sudah seperti itu! Saya pikir ini kebetulan, tapi waktu mendengarkan testimoni ibu ini di YouTube, saya yakin ini bukan sekedar kebetulan.

Saya semakin penasaran dan membeli buku dengan judul ‘The Miracle of Giving, Keajaiban Sedekah‘ yang ditulis oleh Ustad Yusuf Mansur sendiri. Di dalam buku itu, disebutkan dalam Al-Qur’an Surat 6:160, Allah menjanjikan balasan 10x lipat bagi mereka yang mau berbuat baik. Bahkan di dalam Al-Qur’an Surat: 2: 261, Allah menjanjikan balasan sampai 700 x lipat. Selama ini terus terang saya nggak menyadarinya. Insya Allah sedekah terus saya lakukan, tapi saya nggak pernah ‘menghitung’ dan mengharapkan apa yang akan saya dapatkan nanti dari Allah. Saya tidak menghubung-hubungkan rejeki yang saya terima dengan sedekah yang saya lakukan, padahal itu berkaitan erat!

Di dalam buku ini, Ustad Yusuf Mansur berkata, apa yang sudah kita ketahui ini akan menjadi ilmu buat kita. Sehingga jika kesusahan dalam hal finansial, nggak susah-susah minta tolong orang lain, tapi langsung minta tolong kepada Allah. Karena sadar dengan hal ini pun, saya jadi berusaha untuk sedekah dengan lebih baik dan terencana.

Beberapa tips menjadi kaya dari masukan Ustad Yusuf Mansur:

Shalat Dhuha 4 rakaat (dilaksanakan dalam 2 rakaat – 2 rakaat) dapat membuka pintu rizqi
Meminta pada Allah saat Shalat Tahajjud
Memelihara dan memberi makan anak yatim
Sedekah 10% dari penghasilan, karena 2,5% saja tidak cukup
Sedekah 10% dari jumlah yang diinginkan. Dengan konsep ini, jika kita ingin membeli rumah seharga Rp 100 juta, maka kita harus bersedekah sekitar Rp 10 juta terlebih dahulu. Karena beginilah matematika sedekah menurut Ustad Yusuf Mansur
10 – 1 = 19

Dalam matematika biasa memang 10 – 1 adalah 9. Namun karena Allah menjanjikan balasan 10x lipat, maka minimal kita akan mendapatkan 19. Jika perhitungan dilanjutkan maka akan seperti ini:

10 – 2= 28
10 – 3= 37
10 – 4= 46
10 – 5= 55
10 – 6= 64
10 – 7= 73
10 – 8= 82
10 – 9= 91
10 – 10= 100

Jadi sekarang agak ‘masuk akal’ kan jika ingin beli rumah Rp 100 juta maka harus bersedekah Rp 10 juta dulu

Tambahan dari saya mungkin bisa dicoba. Saya selama ini bersedekah untuk sesuatu yang sifatnya dapat berlipat ganda. Misalnya, sedekah untuk pendidikan anak, sedekah untuk alat ibadah, dll, yang kemungkinan pahalanya dapat saya bawa hingga mati (karena terus mengalir).
Last but not least, kadang-kadang untuk bisa percaya, kita perlu membuktikan. Mungkin dari pengalaman sendiri sudah banyak, tapi karena nggak perhatian akhirnya kita lupa. Silahkan baca pengalaman-pengalaman orang lain yang bersedekah dan merasakan manfaatnya di situs Wisata Hati milik Ustad Yusuf Mansur. Selamat bersedekah!

UPDATE:


Pagi ini gue praktekin ilmu sedekah-nya di bis, dengan membeli barang-barang yang tidak terlalu gue butuhkan plus menyantuni pengamen dan peminta-minta yang terlihat memang tidak capable menolong dirinya sendiri. Di sini gue ikhlas dan menghilangkan buruk sangka seperti, “Dapet berapa tu orang sehari, jangan-jangan lebih kaya dari gue!”.

Kalau dihitung berarti hari ini ‘invest’ Rp 50.000 di dalam bis. Kemudian pas sampai kantor, ngambil dokumen adek gue di lantai 1, ternyata masi disuruh bayar Rp 400.000-an lagi dan karena mereka nggak punya mesinnya gue disuruh ambil ATM dulu aja di depan. Meskipun bawaan gue banyak banget dari di bis sampe kantor gue coba tahan nggak ngedumel. Ternyata setelah gue ambil duit gue seperti nggak berkurang malah bertambah. Langsung deg-degan.

Sampai kantor langsung cek Klik BCA and ada transferan senilai 20x investasi gue tadi pagi dari arah yang tidak disangka-sangka. Jadi teman-teman, ilmu baru ini terbukti dan teruji, jangan ragu lagi!

Ps: Semua barang itu tidak akan menjadi mubazir, karena akan di-donate pada yang benar-benar membutuhkan
Pss: Semua yang disampaikan tidak untuk bermaksud Riya’

Sumber: Ollie's Blog, 09 November 2008

Label: , , ,

Menjalani Bisnis Masa Depan dari Rumah

Para pemasar di mana pun menghadapi persoalan besar saat ini dalam menjangkau konsumen, terutama orang muda. Miliaran dollar AS dikeluarkan untuk iklan, tetapi cara yang dianggap ampuh ternyata getok tular alias informasi yang disampaikan dari mulut ke mulut dan informasi itu dipercaya karena yang menyampaikan adalah teman atau kerabat.

Dalam era teknologi digital, informasi itu akan sampai lebih cepat karena internet memotong jarak waktu dan ruang. Bukan kebetulan bila Generasi Net (lahir Januari 1977-Desember 1997), bersamaan dengan lahirnya teknologi komputer, merupakan pengguna internet paling mahir dan menjadi pengunjung setia blog.

Data Fashionese Daily milik Hanifa Ambadar dan Affi Assegaf memperlihatkan, anggota situs mode dan kecantikan itu berusia rata-rata 20-35 tahun, 60 persen adalah profesional, 99 persen perempuan.

Dari sisi tersebut, internet memang memberi banyak peluang bisnis untuk usaha kecil dan menengah, seperti yang dilakoni Vilia Ciputra dengan Simplight.net, Ade Siregar dengan De Pernics, serta Affi dan Hanifa. Ketiganya mengatakan optimistis dengan masa depan bisnis secara online.

Untuk Vilia dan Ade memasarkan melalui toko online mereka, artinya jangkauan konsumen dapat global, sementara untuk Affi dan Hani, panggilan Hanifa, kecenderungan promosi saat ini yang menggunakan kekuatan getok tular membuat situs seperti milik mereka menarik bagi calon pemasang iklan.

Yang terpenting adalah memiliki nama menarik, tampilan enak dilihat dan mudah dibuka, serta memberi jalur ke situs-situs lain. Untuk ini memang diperlukan keterampilan seorang pemrogram komputer atau mencari bantuan dari tenaga profesional.

Kesulitan ini dirasakan Ade yang masih menggunakan situs gratis multiply.com. ”Tidak mudah mencari orang yang punya kemampuan teknis teknologi sekaligus juga kecintaan pada kain,” kata Ade.

Di sisi lain, Affi dan Hani merasa tumbuh kebutuhan mencari bantuan tenaga profesional untuk meyakinkan calon pemasang iklan bahwa blog dapat dikerjakan serius dan benar-benar mendatangkan pembeli bagi produk yang beriklan.

”Penetapan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional oleh Menteri Komunikasi dan Informatika mengangkat kredibilitas blog,” ujar Hani. Nyatanya, Departemen Pendidikan Nasional sudah memasang iklan di Fashionese Daily yang menunjukkan peran blog semakin dihargai.

Kendala lain adalah biaya pemakaian internet yang dirasa masih dapat diturunkan lagi seperti dijanjikan pemerintah.

Vilia mengatakan, untuk yang membuat sistem dan situs sendiri, biayanya bisa jadi tidak murah karena banyak jenis sistem yang harus diaplikasikan, seperti sistem pengecekan stok barang, basket, pencatatan auto update, sampai mesin pencari yang dibuat begitu rupa sehingga mudah dicari oleh peselancar internet.

”Keuntungannya, di mata pelanggan dan calon pembeli, situs yang dibuat sendiri tentu lebih profesional dan representatif dan bisa menjadi sarana menunjukkan bagaimana usaha di dalamnya berjalan,” kata Vilia.

Masa depan

Di luar berbagai kendala tersebut, Ade, Vilia, Affi dan Hani yakin online adalah bisnis masa depan dan menguntungkan dalam arti luas. Fleksibilitas waktu dan ruang ada di tangan mereka karena dapat bekerja dari rumah atau dari tempat lain sepanjang ada jaringan internet.

”Kami akan terus mengembangkan usaha ini karena ini memberi rasa berharga pada diri kami,” kata Hani.

”Saya selalu berpikir perempuan harus punya kemandirian tertentu, termasuk dalam penghasilan, untuk payung kalau hari hujan biarpun saya tidak ingin itu terjadi,” tambah Affi.

Selain itu, krisis ekonomi saat ini menyebabkan orang semakin berhemat dalam membelanjakan uangnya. Kalaupun mereka masih mau berbelanja, mereka ingin mendapatkan barang yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka. Getok tular dengan saling memberi rekomendasi kepada teman serta internet memungkinkan itu terjadi. (NMP)

Sumber: Kompas, Minggu, 19 April 2009

Label: , , ,