Deja Vu Menurut Pandangan Islam

Ilustrasi
Ketika kamu diperkenalkan dengan seseorang, pernahkah terbesit dalam hati, “Rasanya saya pernah bertemu orang ini. Di mana, ya?” Padahal, kamu belum pernah bertemu sebelumnya. Itu disebut gejala deja vu. Déjà vu adalah suatu perasaan aneh ketika seseorang merasa pernah berada di suatu tempat sebelumnya, padahal belum. Atau, merasa pernah mengalami suatu peristiwa yang sama persis, padahal tidak. Konon, orang tang sering mengalami hal itu memiliki bakat spiritual tinggi.

Para skeptis menganggap itu hanya sensasi. Namun banyak juga ahli yang percaya bahwa hal itu memang nyata. Ada yang menyebut bahwa peristiwa yang dirasakan berlangsung pada kehidupan silam. Ini bagi penganut paham reinkarnasi. Bagaimana bagi orang islam ? Surat Al Hadid ayat 22 di atas memberi sekilas isyarat. Bahwa segala sesuatu yang belum terjadi, sudah tertulis dalam kitab. Tengoklah juga surat Ash-Shaaffaat (37) ayat 96, “Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat."

Semua peristiwa di bumi dan semua perbuatan kita memang sudah ada sejak awal. Lalu, akan terjadi satu per satu secara berurutan. Dan pada waktunya, akan terekam dalam saraf penyimpan di otak, mungkin suatu ketika terjadi short-circuit, korslet di otak seseorang. Lintasan listrik di otak melompat nyerempet sinyal ke wilayah yang belum terjadi. Maka orang merasa sudah pernah mengalami atau melihat sesuatu. Padahal yang terjadi adalah dia “pernah” melihat, tetapi di masa depan. Selama ini “pernah” hanya dikaitkan dengan masa lalu. Gejala déjà vu memperluas makna “pernah” hanya dikaitkan dengan masa lalu. Gejala déjà vu memperlus makna “pernah” ke masa lalu dan juga masa depan.

Aneh? Tidak juga. Kita lihat dalam Surat Al Fath ayat 27, Allah membuka peristiwa ketika nantinya Rasulullah SAW. Memasuki Mekah dengan aman. Padahal, itu belum terjadi. Lalu Surat Ar-Ruum (30) ayat 2-4 yang berisi tentang kemenangan Romawi atas Persia, padahal itu baru terjadi beberapa tahun kemudian, itu contoh penyingkapan terhadap peristiwa yang belum terjadi bagi siapapun yang membaca Al Quran. Ternyata, selain kepada para nabi, kadang-kadang Allah memberi 'bocoran' masa depan kepada manusia biasa juga. Masa depan memang sudah ada saat ini. Hanya saja, kebanyakan manusia tidak bisa melihatnya. Kecuali mungkin sekilas déjà vu yang dialami segelintir orang tadi.

Wallahu a’lam.

Sumber: Habiball

Rujukan

Label: , ,

Kebenaran



DALAM pengertiannya yang sederhana, "kebenaran" adalah keadaan yang cocok dengan keadaan sesungguhnya. Sesuatu yang terpatri sebagai kebenaran dalam benak dan kesadaran umat manusia adalah kebenaran yang bisa terkonfirmasikan dengan keadaan yang sesungguhnya.
Bagaimana kebenaran terkonstruksi atau tercipta dalam dunia filsafat? Bagaimana dalam dinamika kehidupan abad XXI pola kerja filsafat mampu mendasari terciptanya kebenaran yang hakiki? Mengapa di masa-masa lalu filsafat turut serta mengiring lahirnya kebenaran-kebenaran otoriter?

Oleh Anwari WMK

Pemaparan secara sederhana berikut ini merupakan salah satu jawabannya.

DARI SEJAK ERA ARISTOTELES HINGGA ERA IMMANUEL KANT

Kebenaran tidak bersifat otoriter. Sebab, kebenaran merupakan hasil konstruksi subyek individual yang kemudian diapresiasi masyarakat luas untuk kemudian berkedudukan sebagai kebenaran umum.

Kebenaran hasil temuan atau elaborasi subyek individual tersebut secara metodologis dinegosiasikan ke tengah kancah kehidupan masyarakat.

Kebenaran dikonstruksi berdasarkan konsensus, sementara konsensus dirajut berlandaskan interelasi dan komunikasi antarsubyek.

Secara keseluruhan, kebenaran dielaborasi berdasarkan upaya penelisikan secara kolektif dalam dinamika masyarakat.

DARI SEJAK IMMANUEL KANT HINGGA G.W.F HEGEL

Terbentuk konstruksi umum kebenaran yang lalu diperlakukan sebagai aksioma dan atau ideologi.

Subyek-subyek yang mendaku atau yang merasa paling berkesadaran justru menentukan secara semana-mena terbentuknya paham dan pengertian kebenaran pada diri orang lain, pada masyarakat, pada bangsa, dan bahkan pada dunia.

Dari sini muncul persoalan: Proyek pencerahan dan modernisasi sepenuhnya menutup dialog dan mengamputasi pertukaran diskursus, sehingga konstruksi kebenaran berwatak otoriter.

Subyek yang merasa paling berkesadaran lantas mendikte perguliran modernisme dan munculnya "industri kesadaran" seperti pers, radio, televisi dan film.

Dinamika keilmuan diwarnai oleh pendekatan Eurosentris yang otoriter.

Nihilisme eksistensial lalu mencuat ke permukaan sebagai kekuatan koreksi terhadap konstruksi kebenaran yang berwatak otoriter.

KEMBALINYA KONSENSUS?

Pada abad XXI kini ada kebutuhan yang sangat besar agar kebenaran bermula dari konsensus argumentatif secara bermartabat yang menjunjung tinggi kemanusiaan, keadilan, dan kemaslahatan. Kerangka filosofis yang mendasari konsensus tersebut adalah sebagai berikut:

Subyek yang berinteraksi dengan subyek lain tunduk patuh pada cita-cita bersama merawat dan menjunjung tinggi kemerdekaan setiap individu manusia.

Hubungan antar-subyek sepenuhnya digaransi oleh berbagai pranata agar hubungan antar-subyek itu benar-benar bersifat rasional, bebas tekanan, tanpa paksaan dan steril dari kekerasan.

Mengingat konsensus merupakan sesuatu yang niscaya, maka tindakan rasional memberi ruang kepada setiap individu mengemukakan pendapat-pendapatnya yang bermakna.

Terutama berpijak pada aspek sosio-linguistik, maka setiap subyek terus-menerus belajar memahami, merasakan, serta berempati terhadap keberadaan subyek lain dalam realitas hidup kolektif, meski ternyata subyek lain tersebut membawa latar belakang sosio-kultural yang berbeda.

Mengingat setiap interaksi berhubungan dengan konsensus, maka niscaya bagi setiap konsensus melahirkan kebenaran yang hakiki.

Masing-masing subyek diberi ruang yang setara untuk mengemukakan pandangan-pandangannya yang bermartabat menurut kerangka filosofi dan sistem nilai masing-masing subyek yang tengah berinteraksi.

Kebenaran hakiki yang digali dari konsensus itulah yang kemudian ditransformasikan menjadi sistem politik dan sistem ekonomi untuk tegak wujudnya keadilan.

Sungguh, kebutuhan terhadap konsensus kini merupakan conditio sine quonon, kondisi yang tak terelakkan. Bila konsensus sebagai prasyarat terbentuknya kebenaran gagal diwujudkan melalui relasi intersubyektivitas, maka abad XXI bakal terus diwarnai oleh intoleransi dan penindasan kaum minoritas, serta penistaan kelompok-kelompok marginal.[]

Label: , ,

Say YES to GAMBARU!


Terus terang aja, satu kata yang bener-bener bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah: GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan.

Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu: motto gambatte kudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama), motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi).

By Rouli Esther Pasaribu (14 Maret 2011, jam 12:02)

Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru.

Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang cemen gitu-gitu aja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya... berhenti aja.

Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya: doko made mo nintai shite doryoku suru (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan).

Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter 'keras' dan 'mengencangkan'. Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah "mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu" (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik).

Terus terang aja, dua tahun gw di Jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti, kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya.

Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit2-sakit dikit cuma ingus meler-meler atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri.

Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw ngos-ngosan kecapean, otomatis Joanna ngomong: Mama, gambare! mama faitoooo! (mama ayo berjuang, mama ayo fight!).

Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan it's a must!

Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 skala Richter di Jepang bagian timur. Gw tau, bencana alam di Indonesia seperti tsunami di Aceh, Nias dan sekitarnya, gempa bumi di Padang, letusan gunung Merapi.... juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi. Tapi, tsunami dan gempa bumi di Jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia.

Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat Jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai ngerasa galau, nangis-nangis, ga tau mesti ngapain.

Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa 'dimaafkan' jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu Ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan.

Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudia mereka tidak punya harapan.

Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini?

Dari hari pertama bencana, gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala Ebiet diputar di stasiun TV. Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala Ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV.

Jadi yang ada apaan dong?

Ini yang gw lihat di stasiun-stasiun TV:
  1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada
  2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga Jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah Tokyo dan Tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)
  3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana
  4. Tips-tips menghadapi bencana alam
  5. Nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam
  6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana
  7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di Jepang benar-benar bernilai banget harganya)
  8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional: mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah: menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati
  9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati:
    • ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian: gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)
    • Tulisan di Twitter: ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini;
Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang.
Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas.

Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan
bencana ala gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat
yang bersamaan: kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang.

Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas
banget, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya
mental sekuat baja, karena: falsafah gambaru-nya itu.

Bisa dibilang, orang-orang Jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup.

Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan. Hanya, mental yang apa-apa 'nyalahin' Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya, Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang.....

I guarantee you 100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri kita, sampai kiamat sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa maju.

Kalau ditilik lebih jauh, 'menyalahkan' Tuhan atas semua bencana dan
persoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup.

Jika diperjelas lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya: lari dari masalah, ngga mau ngadepin masalah, main salah-salahan, ngga mau
berjuang dan baru ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja.

Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan,
untuk apa gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada
gunanya, kalo mau S2 atau S3 mah, ya di Eropa atau Amerika sekalian,
kalo di Jepang mah nanggung. Begitulah kata beliau.

Sempat terpikir juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo mau go
international ya mestinya ke Amrik atau Eropa sekalian, bukannya Jepang ini. Toh sama-sama Asia, negeri kecil pula dan kalo ga bisa bahasa Jepang, ngga akan bisa survive di sini.

Sampai sempat nyesal juga, kenapa gw ngedaleminnya sastra Jepang dan bukan sastra Inggris atau sastra barat lainnya.

Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin sama sanak keluarga yang
menyatakan ngga ada gunanya gw nuntut ilmu di Jepang.

Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya. Mental gambaru itu yang paling megang adalah Jepang. Dan menjadikan mental gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada go international dan sejenisnya itu.

Benar, sastra Jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di mana saja. Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang
abis-abisan biar udah ngga ada jalan, gw rasa, salah satu tempat yang
ideal untuk memahami semua itu adalah di Jepang.

Dan gw bersyukur ada di sini, saat ini. Maka, mulai hari ini, jika gw
mendengar kata gambaru, entah di kampus, di mall, di iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya joanna atau di mana pun itu, gw tidak akan lagi merasa muak jiwa raga.

Sebaliknya, gw akan berucap dengan rendah hati: Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan >no yoo ni, gambaru seishin wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu. (Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, orang-orang Jepang).

Say YES to GAMBARU!

[keluar]

Sumber: http://agushermawan.com

Label: , , ,

Krisis Manusia Modern: Tinjauan Falsafah Terhadap Scientisme Dan Relativisme Kultural (1)

Krisis yang dihadapi manusia modern telah sering dibicarakan dan merupakan wacana yang menarik perhatian di Indonesia selama dua dasawarsa terakhir ini. Khususnya yang berkaitan dengan kehampaan spiritual dan alienasi, yang akhir-akhir ini semakin dirasakan sebagai dampak yang tidak terelakkan dari modernisasi. Namun dalam hubungannya dengan sejarah pemikiran falsafah, topik ini jarang sekali dibahas secara mendalam. Karangan ini ditulis untuk membahas hubungan antara krisis yang dialami manusia modern dan munculnya berbagai aliran falsafah yang kemudian sangat dominan dan berpengaruh, khususnya scientisme dan relativisme kultural.

Oleh Abdul Hadi W. M.

Ahli-ahli sejarah di Timur maupun di Barat, sejak Confucius hingga Toynbee, dari Ibn Khaldun sampai Collingwood, yakin bahwa seseorang tidak akan dapat memahami masa kini dan akan gagal melihat masa depan, tanpa mampu merenungi masa lalu. Pemikiran-pemikiran yang berpengaruh pada masa kini adalah bagian dari mata rantai panjang pemikiran sebelumnya. Demikian pula halnya dengan scientisme dan relativisme kultural, yang telah lebih dua abad merasuki pemikiran manusia modern.

Berbagai sistem falsafah, ideologi modern yang diterapkan dalam kehidupan politik, ekonomi dan kebudayaan; serta berbagai pandangan hidup masyarakat modern dewasa ini, terkait dengan sejarah panjang scientisme. Akan halnya dengan nihilisme dan relativisme kultural yang dewasa ini juga berkembang subur, dan merupakan landasan pemikiran posmodern, memiliki akar dalam sejarah scientisme serta utopia-utopia yang tumbuh daripadanya.

Scientisme merupakan sistem pemikiran falsafah yang bertolak dari penemuan-penemuan ilmiah abad ke-16 dan 17 M, khususnya penemuan-penemuan Copernicus, Kepler, Galileo dan Newton. Munculnya pemikiran falsafah yang bercorak rasional, yang berakar umbi dalam pemikiran Ibnu Rusyd, Descartes dan Bacon pada abad itu juga membantu hasil-hasil penemuan ilmiah di bidang astronomi dan mekanika ditransformasikan menjadi sistem pemikiran yang mampu merubah pandangan hidup, gambaran dunia (weltanschauung) dan cita-cita masyarakat, termasuk gambaran manusia tentang dirinya dan tempatnya di dunia. Diperkenalkannya teknik baru, seperti angka Arab, jam kota, tehnik pembuatan kertas dan mesin cetak temuan Guthenberg, pada abad ke-13 sampai abad ke-17 M, juga tidak kecil peranannya dalam memajukan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada gilirannya ia juga menolong suburnya scientisme (Matson 1966:30).

Angan-angan para agamawan dan ruhaniwan, serta imaginasi para seniman dan sastrawan, tentang masyarakat yang ideal, juga tidak kecil peranannya dalam memperluas cakrawala, dan mempercepat perkembangan scientisme. Salah satunya ialah imaginasi Thomas More dalam bukunya Utopia (1515-6), sebuah karya setengah fiksi setengah falsafah yang diilhami oleh pemikiran Plato, St. Augustinus dan Thomas Aquinas. Kata utopia diambil dari bahasa Yunani, gabungan dari kata uo dan topos, yang artinya sebuah tempat yang ideal dan sempurna tatanan kehidupannya tetapi entah di mana (Gulzar Haider 1985).

Melalui bukunya itu Thomas More sebenarnya ingin mengeritik Inggris yang dianggapnya sebagai negeri yang masyarakatnya sedang sakit, karena tidak memiliki toleransi dan semangat kebersamaan dalam membangun masyarakat yang adil dan sejah tera. Menurut Thomas More negeri yang ideal dan sempurna ialah yang penduduknya toleran satu dengan yang lain, memiliki semangat gotong royong, memberi kesempatan luas bagi setiap individu untuk meraih kesejahteraan, tidak terlalu mengutamakan kekuasaan dan status sosial, menggunakan akal dan inteligensia sehingga mampu mengendalikan emosi dan perilaku irasionalnya.

Pengaruh buku Thomas More bagi tumbuhnya scientisme mula-mula ketara dalam pemikiran Francis Bacon, filosof abad ke-17 M yang hidup sezaman dengan Rene Descatrtes, bapak rasionalisme modern. Bacon meyakini bahwa ilmu pengetahuan adalah kekuasaan. Pemikirannya yang revolusioner terlihat dalam bukunya New Atlantis (1623). Menurutnya, dalam buku itu, tujuan terakhir dari regenerasi umat manusia dan kesempurnaan hidupnya terutama bukannya tergantung pada pembaharuan hukum-hukum properti, melainkan pada kemajuan science dan pengaturan kehidupan manusia dengan semangat ilmiah. Hanya metode ilmiah yang dapat mengangkat martabat manusia dan memberinya kehidupan yang sempurna (Ibid).

Pada abad ke-18 M buku Bacon menjadi bacaan luas kalangan cendekiawan Perancis. Sosialisme Utopis yang diasaskan oleh Saint Simon pada akhir abad ke-18, dan ikut mengilhami Revolusi Perancis, dibangun berdasarkan pemikiran Bacon. Pendekar-pendekar lain yang dipengaruhi pemikiran Bacon pada abad ke-18 dan ikut membidani Revolusi Perancis ialah Rosseau, Louis Blanc dan ekonom terkemuka Robert Owen (Stephen II 1960:311). Melalui revolusi inilah Perancis tumbuh menjadi negara paling awal dalam menerapkan sistem demokrasi liberal, yang kemudian diikuti oleh negara-negara lain di Eropa dan Amerika Serikat. Tetapi ironinya negara-negara ini tidak dapat membendung hawa nafsunya untuk menjadi negara kolonialis dan imperialis. Negara-negara kapitalis ini memerintah negeri-negeri jajahannya dengan cara-cara yang sangat bertentangan dengan hakekat demokrasi. Sumber dari ambivalensi ini dapat dicari pada kenyataan dijalankannya bersama-sama sistem demokrasi liberal di bidang politik dan sistem kapitalisme di bidang ekonomi dan perdagangan. Memang keduanya tumbuh dari asas yang sama, yaitu scientisme dan liberalisme, namun secara kodrati sebenarnya saling bertentangan.

Adalah juga ironis karena sistem pemikiran yang meyakini adanya hukum alam yang ajeg dan tetap yang mengatur pergerakan dan kehidupan di alam semesta, termasuk kehidupan manusia, kelak melahirkan masyarakat yang begitu menyukai perubahan serta menumbuhkan aliran-aliran pemikiran yang saling bersaing dan berbenturan.

Relativisme kultural yang tumbuh subur pada akhir abad ke-19 M berawal dari kepentingan masyarakat untuk mempertahankan aliran pemikiran masing-masing karena masing-masing menganggap bahwa alirannya sajalah yang paling benar (Edel 1955:23) Berbagai konflik sosial dan politik yang menyebabkan terjadinya banyak malapetaka kemanusiaan pada abad ke20, khususnya Perang Dunia I dan II, kemudian Perang Dingin antara blok timur dan blok barat, berawal dari sengketa pemikiran dan ideologi, dan didorong pula oleh faktor-faktor yang inheren dalam tabiat manusia seperti keinginan menguasai sumber-sumber alam, sarana produksi dan komunikasi, serta pasar. Penemuan-penemuan besar ilmiah dan tehnologi yang canggih memberi peluang lebih besar lagi, karena dengan metode dan sarana yang canggih upaya manusia untuk memuaskan keinginannya dan memenuhi ambisi Faustiannya akan dapat dicapai lebih cepat dan mudah.

Kenyataan ini memberi peluang munculnya kritik dan keraguan terhadap scientisme dan rasionalisme. Pada zaman Renaisan dan Pencerahan abad ke-16 – 18 M, para ilmuwan, filosof dan cendekiawan Eropah yakin bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi akan mendatangkan kebahagiaan dan perdamaian yang langgeng bagi umat manusia. Peperangan yang menelan banyak korban, sengketa politik dan ideologi, dapat dikurangi, sebab dengan pengetahuan dan nalarnya manusia akan bertambah arif dan bijak, serta toleran terhadap perbedaan-perbedaan pandangan dan agama. Tetapi kenyataan yang muncul adalah sebaliknya. Metode-metode ilmiah yang canggih dan diterapkan dalam ilmu pengetahuan alam dan sosial, dan digunakan untuk menangani masalah sosial, politik dan kemanusiaan; ternyata tidak mampu menangani situasi kemasyarakatan yang kompleks seperti sengketa politik, etnis, ideologis dan keagamaan. Sebaliknya di Eropah sendiri sejak akhir abad ke-18 sampai akhir abad ke-19 peperangan dan konflik sosial sangat banyak bermunculan.

Kondisi inilah yang mendorong sejumlah pemikir dan cendekiawan meragukan klaim-klaim scientisme dan rasionalisme, bahkan mengeritiknya sebagai biang keladi krisis kemanusiaan yang dialami manusia modern. Pertama-tama, karena dalam proyeksi scientisme manusia ditempatkan sebagai obyek yang kesadaran dan cakrawala hidupnya dibatasi pada persoalan perut dan penguasaan ketrammpilan tehnis, dengan sedikit pengetahuan untuk menopang dirinya agar dapat mengaktualisasikan hidupnya. Khususnya sebagai homo faber, mahluq yang gemar kerja dan tehnologi, animal rationale, khewan yang gemar berpikir dan homo eroticus, makhluk yang menyukai hal-hal yang erotis dan sensual.

Kedua, dengan cara demikian scientisme dan berbagai cabang pemikiran yang muncul kemudian seperti materialisme, darwinisme dan lain-lain bertanggungjawab menciptakan gambaran yang sempit dan reduksionis mengenai manusia, hakekat keberadaan dan peranannya di muka bumi. Manusia dianggap hanya bagian dari kerajaan benda-benda dan khewan, dan seperti benda-benda dan hewan,gerak dan kegiatan hidupnya diatur oleh sebuah hukum alam yang bersifat mekanistis. Kesadaran manusia tidak mendapat tempat.
Ketiga, scientisme dan cabang-cabang falsafah yang berkembang daripadanya tidak memberi peluang bagi aktivitas spiritual, keyakinan pada alam transendental dan metafisika. Semua bentuk kegiatan berkenaan dengan agama dan spiritualitas dipandang irasional, sedang bentuk-bentuk kepercayaan yang lahir darinya disebut takhyul dan merintangi kemajuan. Penyakit-penyakit seperti alienasi (keterasingan), kehampaan spiritual, kecanduan obat bius, dorongan bunuh diri dan berbagai bentuk frustrasi sosial yang lain adalah harga yang harus dibayar mahal bagi tercapainya cita-cita manusia modern yang bertitik tolak dari pandangan scientisme, rasionalisme, utilitarianisme, materialisme, hedonisme, pragmatisme, evolusionisme, sosiologisme dan lain-lain.

Dilatarbelakangi kehampaan spiritual yang memilukan itulah pada akhir abad ke-19 Nietzsche menghujat manusia modern dalam bukunya yang terkenal Also Spracht Zarathustra. “Tuhan telah mati!” kata Nietzsche, yaitu mati dalam jiwa manusia modern. Ungkapan yang dahsyat dan provokatif ini bukannya tanpa alasan yang kuat. Dengan matinya Tuhan, maka sandaran kebenaran dan patokan nilai-nilai menjadi hancur berantakan. Nilai tertinggi tidak ada lagi. Begitu halnya dengan kebenaran mutlak. Yang ada hanyalah reltivisme mutlak. Dengan demikian relativisme kultural mulai menemukan bentuknya yang sempurna.

II

Sebelum menguraikan lebih jauh implikasi scientisme terhadap kehidupan manusia modern, serta berkembangnya relativisme kultural dan nihilisme – dua aliran yang muncul sebagai reaksi paling keras terhadap scientisme karena dianggap sebagai ideologi berpihak pada status quo,bukan pada perubahan; baiklah kami kutip potongan sajak “Nature morte” karangan seorang penyair Rusia Joseph Brodsky yang meraih Hadiah Nobel pada tahun 1987, sebagai berikut:

Orang dan benda pun berdesak-desakan
Mata bisa pedih dan luka
Oleh orang maupun benda.
Lebih baik tinggal saja dalam kelam.

(Sapardi Djoko Damono 2001:161)

Tidak ada pintu lain yang dapat dimasuki oleh manusia modern selain kegelapan, kesunyian, keterasingan dan pesimisme. Dunia yang kita huni adalah “Tanah mati, tanah kaktus,” tutur T. S. Eliot dalam sajak ‘Orang-orang Kosong’ “Di sini patung-patung batu/ Ditegakkan, di sini mereka menerima/ Permohonan tangan si mati/ Di bawah kerdip bintang yang redup... Mata tidak ada di sini/ Tidak ada mata di sini/ Di lembah bintang sekarat ini/ Di lembah hampa ini/ Rahang patah dari kerajaan-kerajaan kami yang hilang...Dari kerajaan senjakala maut/ Satu-satunya harapan orang kosong”(Ibid:43) T. S. Eliot mendahului Fucoult tiga puluh tahun lebih dalam menyatakan bahwa ‘manusia telah mati’. Sajak ‘Orang-orang Kosong’ ditulis pada tahun 1930an dan dimasukkan dalam antologi The Waste Land (Tanah Gersang) yang mengantarkan sang penulis memperoleh Hadiah Nobel pada tahun 1948.

Bukan hanya Joseph Brodsky dan T. S. Eliot yang mengakui bahwa krisis yang dialami manusia modern berakar dalam watak kebudayaan modern sendiri yang mencampakkan spiritulitas dan tidak memberi tempat pada metafisika serta etika yang didasarkan atas spiritualitas. Kebudayaan modern pula yang membiarkan relativisme kultural berkembang menjadi sumber konflik sosial, ideologis dan intelektual yang tidak habis-habisnya. Pemikiran posmodernis, yang memperoleh pengikut lumayan di kalangan intelektual Eropah, Amerika dan Asia, adalah contoh terbaik pemikiran yang mengiyakan sepenuhnya relativisme kultural, khususnya relativisme nilai-nilai, dan pembenaran terhadap keutamaan realitas semu dan degradasi moral, sebagaimana tersirat pada asumsi gerakan ini yang menganggap bahwa kenyataan adalah fiksi dan fiksi adalah kenyataan.

Menanggapi berbagai sengketa ideologis dan budaya yang membuat krisis manusia modern semakin bertambah, dalam esainya “The Facing Inferno” (1972) Ionesco menulis: “Krisis yang diderita manusia modern itu sebenarnya berakar sangat dalam, tidak sebagaimana diduga kebanyakan orang”. Ia tidak berakar semata-mata dalam kemiskinan dan kemunduran ekonomi. Tetapi juga di tempat lain, nun jauh di lubuk kalbu manusia. Di negara-negara miskin seperti India memang banyak orang mati kelaparan disebabkan tidak mendapatkan makan dan tempat tinggal yang semestinya. Tetapi di negara-negara makmur seperti Skandinavia, jumlah orang yang bunuh diri meningkat berlipat-lipat ganda di atas limpanan makanan dan sarana kehidupan yang canggih”.

“Kita ini,” kata Ionesco, “Baik yang mengaku Marxis maupun sosialis, pengikut fanatik Freud dan Nietzsche, sesungguhnya dihadapkan pada masalah yang sama, yaitu bagaimana seharusnya kita hidup di dunia ini. Dari apa kita mesti membebaskan diri agar dapat hidup lebih baik dan bermartabat? Adakah kita harus membebaskan diri dari naluri rendah dan hawa nafsu? Ataukah dari segala bentuk larangan – undang-undang, kekuasaan politik atau agama? Adakah kita mesti membebaskan diri dari revolusi atau counter-revolusi?” Sang dramawan menjawab, bukan itu jawabnya.

“Yang kita perlukan sebenarnya ialah bagaimana menumbuhkan keseimbangan antara nafsu hidup, rasa tidak pernah puas dan kemampuan mengendalikan diri. Dari hari ke hari kita melihat manusia dengan hawa nafsunya, berusaha saling menginjak, sedangkan negara-negara besar berlomba-lomba mendorong dunia melangkah ke dalam kancah kekerasan, sehingga keputusasaan semakin meluas. Lantas timbul pikiran agar ideologi-ideologi sekular dilenyapkan saja. Menolong si miskin, menyebarkan keadilan, memerangi kelaparan, menumbuhkan kebebasan politik dan agama, serta memuaskan dahaga ruhani kita, ternyata bukan itu tujuan manusia dewasa ini. Tujuan manusia sederhana, menguasai dunia dan meningkatkan pertumpahan darah.”

Ionesco tidak sendirian. Bersama dia masih banyak cendekiawan Barat mencetuskan suara yang senada. Misalnya Paul Tillich, Berdayev, Ortgea Y. Gasset, Karl Jaspers, Erns Cassirer, Roger Garaudy, Rene Guenon, Titus Burkchard, Martin Lings, Gadamer, Huston Smith dan lain-lain. Namun malangnya, kata Ionesco, tidak banyak orang yang sadar bahwa keputusasaan dan pesimisme yang berkembang di tengah masyarakat modern dewasa ini sebenarnya bersumber dalam pandangan manusia modern sendiri yang picik, hanya tertuju pada persoalan kebendaan. Manusia lupa bahwa apabila ia mau berkhtiar dan menghidupkan kembali penglihatan ruhaninya, pasti ia akan memperoleh pencerahan.

Label: , ,